Pemkab Malang Siapkan Protokol Kesehatan Untuk Pesantren

PolitikaMalang – Bupati Malang, Drs. H. M. Sanusi, M.M membuka pelaksanaan Sosialisasi Santri yang akan kembali ke Kabupaten Malang di masa New Normal Life. Kegiatan yang diikuti para pengasuh pondok pesantren se Kabupaten Malang ini digelar di Pendopo Agung Kabupaten Malang, Selasa (9/6) pagi. Tampak hadir juga diantaranya Pj. Sekretaris Daerah Kabupaten Malang, Ketua MUI Kabupaten Malang, Ketua Baznas Kabupaten Malang, perwakilan Polres Malang dan Kodim 0818 Kabupaten Malang-Kota Batu, serta sejumlah kepala OPD di lingkungan Pemkab Malang.

Bupati Malang sebelum memberikan arahan dan membuka acara, terlebih dahulu menyampaikan secara simbolis bantuan kepada pondok pesantren. Bantuan ini nantinya akan diserahkan kepada 677 pondok pesantren se Kabupaten Malang yang sedianya sudah kembali menerima kedatangan para santri pada 15 Juni mendatang. Dalam kesempatan ini, Abah Sanusi, sapaan akrab Bupati, bahwa Pemkab juga menghimbau pengasuh pondok untuk melaporkan berapa santrinya yang akan kembali datang ke pondok. Hal ini sebagai langkah kewaspadaan dan menyiapkan protokol kesehatan terkait penyebaran Covid-19 di masing-masing pondok.

‘’Teknis penyaluran bantuan akan didistribusikan kepada semua pondok berdasar jumlah santri yang totalnya berjumlah 48.220 santri. Bantuan ini akan diantar langsung Pemkab ke pondok-pondok. Pemkab juga akan menurunkan tim medis dari Dinas Kesehatan ke pondok untuk pengawalan kedatangan santri dengan membantu pemeriksaan awal yaitu dengan termo gun. Kalau ditemukan ada santri yang suhu badannya lebih 37,3 C akan dilakukan observasi melalui rapid test,” terang Bupati Malang saat diwawancari awak media, usai membuka kegiatan sosialisasi tadi.

Khusus langkah kewaspadaan penularan Covid-19. Abah Sanusi menjelaskan, kalau orang hasil rapid test-nya negative sehingga tidak ada reaksinya. Dengan demikian pihak Pemkab melalui tidak semuanya di rapid test terhadap para santri yang kembali ke pondoknya masing-masing sebab belum tentu mereka tergejala atau justru kondisinya baik-baik saja. Sebaliknya, jika santri dinyatakan ada reaksi atau positif, santri dalam daerah Kabupaten Malang dilanjutkan untuk dilakukan swap.

Baca Juga :   Sambangi Ngajum, Bu Nyai Paparkan Program Pemberdayaan Masyarakat

‘’Sedangkan, jika yang reaktif itu berasal dari luar daerah akan diantar kembali ke tempat tinggalnya. Selama berdomisili di wilayah Jawa Timur. Sementara, kalau santri ini berdomisili luar Jawa Timur, orang tuanya akan dipanggil untuk mengambil anaknya. Pemkab juga menghimbau, semua pondok menyiapkan ruang isolasi. Jika pondok tidak memiliki maka akan diarahkan ke Rusunawa ASN,” pungkas Abah Sanusi.

Sementara itu, dalam arahan di acara pembukaan sosialisasi, Bupati juga menyampaikan ke audien bahwa Pandemi Covid-19 ini belum berakhir. Bahkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan pandemi ini tidak akan berakhir dengan cepat. Untuk itu diharapkan masyarakat dalam segala bidang kehidupan harus siap beradaptasi, membiasakan diri hidup berdampingan dengan Covid-19. Inilah cara baru untuk tetap survive di tengah pandemic Covid-19, yang terkenal dengan istilah new normal.

‘’Upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di berbagai aspek, dimana termasuk didalamnya kegiatan pendidikan pesantren harus tetap dilakukan. Maka dari itu saya menyambut baik adanya sosialisasi ini, mengingat cukup banyak pesantren yang ada di Kabupaten Malang, ada 677 Pondok Pesantren, dengan jumlah santri kurang lebih sebanyak 48.220 santri. Guna menyikapi hal tersebut, perlu persiapan yang tepat, dalam rangka menyambut kedatangan para santri. Hal ini penting dilakukan untuk mencegah timbulnya cluster baru penularan Covid-19 sekaligus melindungi para santri di pondok dari ancaman virus corona,” jelas Bupati. 

Leave a Reply