Petahana atau Pemimpin Baru? (Menakar Peluang Para Kandidat)

PolitikaMalang – Dinamika politik jelang Pilkada Kota Malang mulai memanas. Sejumlah partai politik sudah melakukan pergerakan baik dalam rangka menyusun strategi maupun komunikasi untuk merajut koalisi. Sejumlah nama mulai bermunculan untuk menghadang laju sang petahana, H. Moch Anton mempertahankan kursi N1 di pilkada tahun mendatang.

Sebut saja politisi cantik Ya’qud Ananda Gudban yang sudah diusung oleh tiga partai politik masing-masing Hanura – PAN dan PPP dengan corak kekuatan nasionalis, Nahdiyin dan Muhammadiyah. Nama Nanda, sapaan akrabnya, kian melesat sebagai tokoh yang digadang akan menjadi lawan tangguh petahana dengan kendaraan politiknya. Praktis, tiga partai pendukung Nanda sudah cukup mengantarkannya ke pintu gerbang KPU Kota Malang menjadi calon resmi.

Tokoh lain yang masih memiliki kans kuat adalah Ketua DPD Golkar Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko. Pria ramah ini diketahui aktif dan terus gencar melakukan pergerakan ‘bawah tanah’ dengan menguatkan struktur partai jelang pilkada. Bung Edi, sapaan akrabnya, memiliki segudang pengalaman dalam melakoni pilkada. Periode lalu, ia pernah maju menjadi pendamping Heri Puji Utami dalam pesta demokrasi warga Kota Malang tersebut. Hingga kini Bung Edi tetapn menjadi perhitungan untuk maju di Pilkada Kota Malang.

PDI Perjuangan sebagai partai pemenang Pemilu 2014 juga tak akan tinggal diam dalam menghadapi Pilkada Kota Malang. Modal 11 kursi cukup bagi partai berlambang banteng ini untuk mengajukan pasangan calon. Ya, PDI Perjuangan merupakan salah satu partai yang berhasil menyedot animo para tokoh untuk mendaftar sebagai kandidat bakal calon.

Tercatat sudah ada 9 nama yang mendaftar baik dari pintu DPC ataupun DPP. Nama Wakil Wali Kota Malang, Sutiaji mungkin jadi sorotan publik manakala ia memanasi dinamika pilkada dengan lantang maju mendaftar ke PDI Perjuangan. Bukan saja dari para pendaftar, kader internal partai ini juga cukup mumpuni. Sebut saja Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Sri Untari, Ketua DPRD Kota Malang, Abdul Hakim dan mantan Anggota DPR RI, Sri Rahayu masih bisa menjadi pilihan. Kabar yang masih hangat, PDI Perjuangan kini sedang berupaya merajut koalisi dengan PKB untuk menggandeng petahana guna bertempur di Pilkada 2018.

Baca Juga :   Cell Vent out Products Very own Grow to be Important These kinds of Days or weeks Wireless Fashionable betting house News

Satu hal yang tidak bisa terlepas dari geliat pilkada adalah munculnya calon perseorangan atau independen. Berkaca pada Pilkada Kota Malang tahun 2013 dua pasangan calon meramaikan jalur tersebut. Begitu pula pada tahun ini, kesempatan para tokoh untuk menjajal dari jalur ini terbuka luas. Setelah santer dikabarkan H. Moch Anton akan maju lewat jalur independen, meskipun akhirnya dibantah oleh PKB, sosok politisi gaek Moch. Geng Wahyudi dikabarkan akan maju lewat jalur ini.

Beberapa simpatisan Moch. Geng Wahyudi sempat mendatangi kantor KPU Kota Malang untuk menanyakan perihal persyaratan maju lewat jalur Independen. Kemunculan pria yang kini diamanahi sebagai Dewan Penasihat DPW Partai Nasdem Jawa Timur itu makin memanaskan suasana jelang pilkada. Bukan tidak mungkin, pria yang akrab disapa Pak Geng itu akan maju dalam ajang merebut kursi Wali Kota Malang.

Bicara soal petahana, H. Moch Anton, kans untuk memenangkan Pilkada 2018 masih cukup lebar. Elektabilitasnya hingga kini masih tinggi dan sangat berpeluang untuk mempertahankan kursi empuk N1 yang kini dikuasainya. Namun, jika melihat dari berbagai nama yang muncul dikaitkan dengan kondisi politik dan sosial yang saat ini terjadi, maka peluang calon lain untuk menumbangkannya juga tidak kecil pula.

Masyarakat Kota Malang “Terbelah” jelang Pilkada

Hasil polling yang digelar Litbang Politika Malang pada 2 November hingga 22 November 2017 menunjukkan jika warga Kota Malang terbelah jelang Pilkada. Polling dengan sasaran warga Kota Malang itu berisi pertanyaan “Sebagai Warga Kota Malang, Apakah Anda Menghendaki Pemimpin Baru di Pilkada 2018 Mendatang?”. Ada tiga jawaban yang bisa dipilih masyarakat yakni “Ya”, “Tidak” dan “Tidak Tahu”.

Hasil polling yang diikuti ribuan pengakses laman Politika Malang ini menunjukkan jika 52 persen masyarakat tidak menginginkan adanya pemimpin baru atau masih percaya kepada calon petahana H. Moch Anton. Sedangkan, 44 persen sisanya menginginkan adanya pemimpin baru Kota Malang untuk periode mendatang. Tercatat hanya 4 persen saja yang menjawab tidak tahu.

Baca Juga :   Popularity Regarding Android Game titles Throughout That Smartphone App Market

Direktur Litbang Politika Malang, M. Idris, mengatakan, dari hasil analisa baik dari berbagai pemberitaan media massa dan bahan lainnya, warga yang tidak menghendaki pemimpin baru atau masih percaya pada kepemimpinan H. Moch Anton dikarenakan beberapa faktor, antara lain pembangunan yang sudah dirasakan masyarakat, peningkatan layanan publik dan utamanya bidang pendidikan dan kesehatan.

“Pembangunan berbagai sarana dan prasarana sudah dirasakan masyarakat, itu bisa jadi yang membuat mereka masih percaya pada Abah Anton,” kata Idris.

Hal lain yang masih menjadi nilai plus bagi petahana adalah aktifnya Wali Kota Malang untuk langsung terjun ke masyarakat, baik melalui program ‘Sambung Rasa’ ataupun beberapa program lainnya. Hal itu membuat sebagian masyarakat masih percaya dengan kepemimpinan Anton sehingga mereka tidak menginginkan adanya pemimpin baru.

Angka 44 persen masyarakat ingin pemimpin baru, berdasarkan polling Politika Malang, menurut Idris juga sangat mengejutkan. Angka ini terbilang fantastis karena prosentase hanya berbanding tipis dengan yang menginginkan petahana tetap menjadi pemimpin.

Menurutnya, ada beberapa alasan kenapa masyarakat pemimpin baru. Pertama beberapa problem seperti polemik Pasar Pedagang Pasar Merjosari, Pasar Blimbing dan sebagainya hingga saat ini tidak dapat diselesaikan dengan baik oleh pemimpin saat ini dan kasusnya terkesan mengambang.

Permasalahan lain seperti kemacetan, jalan rusak di beberapa titik bahkan hingga polemik toko modern, yang tak terselesaikan, menurut Idris membuat masyarakat sudah mulai melirik calon pemimpin baru di Pilkada Kota Malang nanti.

Sedangkan warga yang menjawab tidak tahu dengan prosentase 4 persen, menurut Idris adalah swing voters, meskipun jumlahnya tidak terlalu signifikan. Namun, kata dia, berbicara jarak prosesntase yang cukup tipis antara yang menginginkan kembali petahana dan pemimpin baru cukup bisa dijadikan membaca peta politik saat ini.

Selain itu, jika mengacu pada hasil polling ini, Idris menjelaskan, jika pilkada Kota Malang diikuti oleh lebih dari tiga pasang calon, maka petahana kemungkinan besar akan memenangkan pertarungan itu. “Karena kalau berdasar polling ini ceruk pemilihnya masih besar, artinya dua pasang calon nantinya harus berbagi suara untuk menggaet suara warga yang ingin pemimpin baru. Berbeda halnya jika Pilkada diikuti oleh dua calon saja, maka kemungkinan akan adanya pemimpin baru kian terbuka luas. Intinya, makin banyak calon maka akan menguntungkan petahana,” bebernya.

Baca Juga :   How Might Web based Cellular phone Advanced online casino As well as Port Recreation Affect Our Life?

Beranjak dari hasil polling dan dinamika politik yang berjalan hingga saat ini, maka Politika Malang menggelar diskusi publik bertajuk “Petahana atau Pemimpin Baru”. Beberapa narasumber dari partai politik dihadirkan, masing-masing Ketua DPC Hanura Kota Malang, Ya’qud Ananda Gudban, Ketua DPD Golkar Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko, Sekertaris DPC PDI Perjuangan Kota Malang, Abdul Hakim, Ketua LPP PKB Kota Malang, Arif Wahyudi, Politisi Partai Demokrat, Ghufron Marzuki (tentatif), Dewan Penasihat DPW Partai Nasdem Jawa Timur, Moch. Geng Wahyudi serta dari kalangan akademisi yakni Pengamat Politik dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Wahyudi Winarjo. Bahkan, acara dialog ini akan makin hangat dengan satu narasumber dari Komisioner KPU Kota Malang, Azhari Husein yang akan memaparkan kesiapan penyelenggara jelang pilkada.

Pimpinan Redaksi Politika Malang, Muchammad Nasrul Hamzah, mengatakan, diskusi pilkada semacam ini penting dilakukan sebagai upaya melakukan pendidikan politik bagi warga Kota Malang. Masyarakat dalam diskusi itu nantinya akan melihat bagaimana visi dan misi para kandidat bakal calon jelang Pilkada serta bisa berinteraksi langsung dengan para tokoh sebagaimana disebut di atas.

“Rencananya diskusi semacam ini akan rutin kami lakukan. Dan untuk besok diskusi diselenggarakan di Cafe Kopilogi, Jalan Ijen dimulai pada pukul 09.00 WIB,” kata Hamzah.

Dikatakan pula, animo masyarakat akan diskusi pilkada semacam ini cukup besar. Hal itu dilihat dari banyaknya warga yang mengkonfirmasi kehadirannya untuk acara Sabtu (25/11) besok.

“Saya menerima telepon dan pesan singkat dari puluhan warga yang antusias dan ingin ikut serta dalam diskusi tersebut. Acara itu terbuka untuk umum dan gratis bagi siapa saja yang ingin bersama terlibat dalam diskusi dengan tujuan menemukan pemimpin terbaik untuk Kota Malang di masa mendatang,” tandasnya.

Leave a Reply