Pilkada Malang 2018, “Head To Head” atau Banyak Calon?

PolitikaMalang – Meski sudah masuk penghujung tahun 2017, namun dinamika politik jelang Pilkada Malang 2018 masih saja mencair dan sebagian menyebut masih “senyap”. Hal itu dikarenakan, sampai saat ini belum ada pasangan calon yang berani mendeklarasikan secara resmi menjadi kontestan dalam ajang pesta demokrasi warga Kota Malang itu.

Meski sudah keluar beberapa nama, seperti petahana H. Moch Anton, Sutiaji hingga politisi cantik Ya’qud Ananda Gudban, namun dinamika politik sampai saat ini masih berkutat pada kesepakatan koalisi hingga perburuan rekomendasi resmi dari partai sebagai kendaraan politik untuk mengantarkan calon, mendaftar secara resmi ke KPU Kota Malang.

Jika sedikit mengulas perjalanan peta politik, maka pemanas suasana, justru diawali oleh PDI Perjuangan Kota Malang yang membuka pintu pendaftaran untuk Bacalon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Malang. Beberapa hari setelah pendaftaran dibuka, Sutiaji yang notabene adalah Wakil Wali Kota Malang saat ini, justru mendaftar sebagai Bacalon Wali Kota dan bertekad menantang sang petahana H. Moch Anton dalam ajang pilkada.

Berjalannya waktu, H. Moch Anton yang juga tak ingin kehilangan jabatan sebagai orang nomor satu di Kota Malang pada periode mendatang terus aktif menjalin komunikasi politik dengan berbagai partai politik lainnya untuk membentuk koalisi. Dari titik itu, serta sejalan dengan peta Pilgub Jawa Timur, maka wacana membentul koalisi “Bangjo” (PDI Perjuangan – PKB) di Kota Malang menguat kala itu.

Selain sejalan dengan peta Pilgub, banyak kalangan juga menilai merapatnya Anton ke PDI Perjuangan sekaligus memotong langkah Sutiaji agar tidak mendapat rekomendasi dari partai pemenang pemilu 2014 itu.

Sayangnya, bangunan koalisi Bangjo dikabarkan bakal runtuh karena H. Moch Anton terlampau banyak memberikan persyaratan kepada partai berlambang banteng itu dari syarat Bacalon Wakil Wali Kota Malang harus dari kalangan anak muda hingga ada izin dari para kiai.

Pertarungan dua sosok pemenang Pilkada Kota Malang 2013 itu mewarnai dinamika politik jelang Pilkada Malang 2018. Langkah dan optimisme Sutiaji untuk bisa melaju terus dilakukan dengan menjalin komunikasi dengan partai politik lainnya termasuk Gerindra dan kabarnya terakhir dengan Partai Demokrat. Harapan Sutiaji melawan Anton di Pilkada masih kuat sejalan dengan belum adanya partai yang secara resmi memberikan rekomendasi.

Dalam sebuah wawancara dengan awak media, Sutiaji bahkan menegaskan jika ia akan memberikan kejutan pada tanggal 10 Januari 2018 atau lebih tepatnya pada hari akhir pendaftaran calon lewat jalur partai politik di KPU Kota Malang.

“Lihat saja tanggal 10 Januari nanti. Kalaupun toh misalnya saya tidak dapat kendaraan politik maka saya akan mendukung salah satu calon di Pilkada Malang,” ucap Sutiaji.

Selain dua sosok itu, langkah politik yang  cukup cepat juga diambil oleh politisi cantik, Ya’qud Ananda Gudban. Dua partai sekaligus, masing-masing PAN dan PPP digaet oleh wanita yang juga Ketua DPC Hanura Kota Malang itu. Tiga partai dengan total 10 kursi membuat poros baru dengan nama Harapan Pembangunan (Hanura PAN PPP) yang siap berkoalisi di Pilkada Malang.

Langkah Nanda Gudban, makin tak terbendung manakala tercetus wacana terbentuknya koalisi besar enam partai dengan menggaet Gerindra, Golkar dan Demokrat. Upaya itu masih berjalan dan hingga kini masih terjadi komunikasi politik. Tak hanya itu, Nanda Gudban saat ini juga sedang intens membangun penjajakan dengan PDI Perjuangan untuk merajut koalisi bersama, seiring dengan makin menipisnya peluang Bangjo di Pilkada.

Rencana Koalisi ini makin membuat posisi Nanda Gudban diperhitungkan dalam kancah perpolitikan di Pilkada Malang 2018 mendatang. Apalagi gagasan membentuk “Koalisi Pelangi” (PDI Perjuangan, Golkar, Gerindra, Demokrat, Hanura, PAN, PPP) untuk menruntuhkan dominasi Anton di Pilkada Malang 2018 makin menguat akhir-akhir ini.

Analisa Peta Politik Pilkada Malang

Melihat dinamika seperti dijabarkan diatas maka ada berbagai kemungkinan dalam Pilkada Malang tahun mendatang. Pertama jika melihat tiga nama yang mencuat yakni Anton, Sutiaji dan Nanda, Pilkada Malang bisa saja diikuti oleh tiga pasang calon. H. Moch Anton sudah jelas didukung tiga partai yakni PKB, PKS dan NasDem, sedangkan Nanda Gudban memiliki poros Harapan Sejahtera serta kini juga sedang penajajakan dengan PDI Perjuangan untuk memastikan koalisi. Sedangkan partai sisa yakni Golkar, Demokrat dan Gerindra masih menjadi peluang Sutiaji.

Skema lain jika terbentuk koalisi pelangi dengan partai menjadi satu bagian poros, maka bisa saja Pilkada Malang 2018 berjalan dengan skema “head to head”. Sosok calon yang menguat adalah dari kubu Anton serta dari kubu Nanda yang sedang santer dikabarkan bakal bergandeng dengan politisi PDI Perjuangan Ahmad Wanedi.

Pengamat Politik dari Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. Wahyudi Winarjo, mengatakan, jika Pilkada Malang diikuti oleh tiga pasang calon dengan asumsi Anton, Sutiaji dan Nanda yang akan bersaing, maka pertarungan akan ketat.

Wahyudi menilai jika kondisi itu berlangsung maka pasagan yang diuntungkan adalah mereka yang potensi suaranya tidak pecah dan sebaliknya yang dirugikan adalah pasangan yang suaranya terbelah.

” Anton – Sutiaji saya kira punya basis suara sama yaitu suara NU. Saya kira Nanda – Ahmad Wanedi lebih punya peluang karena harapannya PDIP solid, plus Hanura, PAN dan apalagi bergabungnya PPP,” kata Wahyudi

Ia juga menjelaskan, jika Sutiaji juga masih punya peluang jika nanti menemukan partai dari basis politik kalangan nasionalis. “Katakanlah Demokrat bergabung mendukung Sutiaji, itu menguntukan bagi beliau. Tapi yang perlu mendapat perhatian adalah suara PDI Perjuangan yang saat ini utuh dan kondisinya tidak sama dengan Pilkada 2013 yang terbelah,” tandasnya.

Jika Pilkada diikuti oleh dua pasang calon, dengan asumsi Anton melawan Nanda, maka Wahyudi menilai kontestasinya akan menjadi ‘pertarungan’ yang menarik.

Wahyudi mengatakan, saat ini popularitas Nanda Gudban sedang mengalami kenaikan yang cukup drastis akhir-akhir ini. Hal itu dikarenakan sikap aktif Nanda untuk terjun dan menyapa serta menjaring aspirasi masyarakat di semua lini.

“Apalagi jika Nanda dan Wanedi benar mendapat rekom dari PDI Perjuangan ini merupakan kekuatan yang patut diperhitungkan,” kata Wahyudi.

Ia menjelaskan, meski sosok Ahmad Wanedi masih belum begitu populer di masyarakat, namun mesin politik PDI Perjuangan Kota Malang yang kuat akan menjadi faktor yang mampu menggulingkan petahana di pilkada tahun depan.

“Mesin partai PDI Perjuangan ini sangat kuat. Kondisinya lebih utuh dibanding Pilkada 2013 lalu. Apalagi tersiar kabar jika PDI Perjuangan Kota Malang akan merajut koalisi besar, maka ini cukup membahayakan,” tukasnya.

Sementara itu, mengomentari petahana, Wahyudi menilai jika hingga saat ini Anton masih memiliki elektabilitas yang tinggi. Akan tetapi hal itu juga tidak cukup, mengingat jika 6 partai akan berkoalisi dengan PDI Perjuangan di Pilkada mendatang.

“Abah Anton harus menemukan calon pasangan wakil yang tepat,” kata Wahyudi.

Sementara itu Ya’qud Ananda Gudban, mengatakan, jika makin banyak calon bermunculan dalam Pilkada 2018 mendatang akan semakin bagus bagi masyarakat.

“Semakin bagus karena masyarakat bisa memilih dengan calon pemimpin sesuai dengan visi dan misi membangun Kota Malang di masa mendatang,” kata Nanda.

Leave a Reply