Refleksi Satu Tahun Pemerintahan Sutiaji – Edi Diwarnai Banyak Keprihatinan

PolitikaMalang – Momentum 1 tahun berjalannya pemerintahan Kota Malang yang dipimpin oleh duet Sutiaji dan Sofyan Edi Jarwoko ditandai oleh beberapa elemen kepemudaan dengan menggelar diskusi dengan tema refleksi 1 tahun pemerintahan Sutiaji – Edi dari prespektif milenial.

Acara yang berlangsung Senin (4/11/19) di Kedai Kopi Cafe ini semakin semarak dengan menghadirkan 2 pemantik diskusi yaitu Direktur Hasta Komunika, Muhammad Anas Muttaqin dan tenaga ahli fraksi Damai DPRD Kota Malang, M Nasrul Hamzah. Forum bertajuk Sinau Embongan yang dipandu oleh Wahyu Eko Setiawan ini juga turut dihadiri berbagai elemen pemuda diantaranya HMI, Karang Taruna dan beberapa komunitas di Kota Malang.

Pada kesempatan tersebut, para pemantik diskusi banyak menyorot soal kinerja Walikota Malang Sutiaji yang dianggap belum banyak melakukan terobosan dalam setahun ini. Direktur Hasta Komunika, Muhammad Anas menilai bahwa semangat menjadikan Kota Malang sebagai Smart City dan kota kreatif belum ditunjukkan secara serius.

Anas mempertanyakan komitmen Walikota Malang yang belum menerapkan E – Budgeting, padahal hal itu sangat mendesak untuk menguatkan reformasi birokrasi yang selama ini didengungkan.

“Terlalu banyak janji bombastis yang dilontarkan, seperti wacana siswa gratis angkot, E – Parkir dan Subsidi BPJS namun belum ada realisasi hingga saat ini” tambahnya.

Pria yang berprofesi sebagai konsultan ini juga menganggap bahwa ekspektasi masyarakat kepada pemimpinnya saat ini dinilai rendah sehingga masyarakat cenderung apatis. Ditambah, komunikasi publik yang dilakukan Walikota tidak dilakukan dengan baik, bahkan kanal komunikasi lewat media sosial juga tidak aktif, padahal saat ini era digital.

“Jika masyarakat tidak punya harapan dan tidak peduli lagi pada apa yang dilakukan oleh Walikotanya, itu signal bahaya” tegasnya.

Baca Juga :   Mutasi Besar Diawal Tahun, Sutiaji Lantik 31 Pejabat di Pemkot Malang

Senada dengan hal tersebut, Tenaga ahli fraksi Damai DPRD Kota Malang, Hamzah juga menilai bahwa Sutiaji sebagai Walikota Malang tidak punya skala prioritas yang jelas dengan arah pembangunan kota. Sutiaji dianggap cenderung lebih memilih program yang simbolis seperti Malang Creatif Center dengan budget sangat besar daripada membangun SDM dan industri kecil menengah.

“Lebih baik Walikota Malang memaksimalkan potensi yang belum tergarap seperti persoalan kemacetan, parkir serta pelayanan publik” tambahnya.

Mantan jurnalis ini juga menilai kebijakan anggaran yang diprogramkan oleh pemerintahan Sutiaji belum berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat kota Malang. Padahal menurutnya, sebagai kota metropolis terbesar kedua di Jawa Timur setelah Surabaya, potensi pendapatan kota Malang sangat besar jika dimaksimalkan, tapi infrastruktur pendukung belum dibangun dengan baik.

“Seperti revitalisasi pasar tradisional, kebanyakan masih program “warisan” yang berjalan saat ini. Program yang orisinil dari Walikota Malang belum tampak” tegasnya.

Forum diskusi tersebut juga berharap Walikota Malang segera mengkongkritkan berbagai janji kampanye dan program yang selama ini masih sebatas wacana.

“Kita akan terus menjadi kontrol yang konstruktif dalam mengawal kebijakan kota Malang” pungkas penggagas sinau embongan sekaligus pemandu acara, Wahyu Eko Setiawan.

Seperti diketahui, program sinau embongan sendiri saat ini telah berjalan secara rutin dengan mengupas berbagai persoalan yang terjadi di Malang Raya.

Leave a Reply