Ridwan Hisjam Bicara Relasi Agama dan Negara

PolitikaMalang – Anggota Komisi X DPR RI Ridwan Hisjam hadiri acara Halal Bi Halal KAHMI Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, di Surabaya, Minggu (23/7).Acara silaturrahim sesama alumni HMI ini mengambil tema “Merajut Persatuan Ummat Islam sebagai Kekuatan dan Benteng NKRI”.

Melihat tema tersebut, Ridwan melihat ada tiga asumsi atau tanda menyangkut keberagaman di Indonesia. Pertama, Kondisi ummat Islam saat ini yang tidak bersatu. Kedua, Penegasan bahwa Islam dan ummat Islam adalah benteng dan kekuatan NKRI. Ketiga, Kondisi NKRI saat ini seolah-seolah dalam ancaman.

Ridwan menuturkan, persoalan Islam dan NKRI tensinya begitu menguat saat terjadi kasus penistaan agama yang menjerat mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Meski kasus ini sudah selesai, dampak dari ketegangan itu masih dirasakan, bahkan isunya semakin merembet dan tersebar luas di berbagai media sosial.

“Pandangan itu, secara nyata jelas ada yang pro dan ada juga yang kontra, dimana secara langsung atau tidak langsung berimbas kepada terjadinya polarisasi pandangan ummat, dan dalam kondisi tertentu menyebabkan terpecahnya persatuan dan keutuhan ummat Islam,” katanya.

Hal ini terjadi lantaran penistaan agama merupakan hal yang sensitif bagi ummat Islam, apalagi penisataan itu terkait erat dengan kitab suci, karena tingkat pemahaman teologi ummat sangat berbeda-beda. Ditambah lagi dengan kondisi hiruk pikuk politik yang sangat kental dengan aroma ideologi, agama dan kesukuan.

“Tapi demi menjaga persatuan dan kesatuan persoalan tersebut mestinya sudah selesai di akar rumput. Karena Agama sejatinya memberikan ajaran dan tuntutan yang baik dalam segala bidang khususnya dalam konteks kebangsaan,” jelasnya.

Politisi Golkar ini sampai heran ada yang mencoba membenturkan antara Islam dan Negara. Banyak yang beranggapan mereka yang semakin kuat keislamaannya dipandang semakin jauh
dan bertentangan dengan ideologi negara Pancasila, demikian juga sebaliknya. Bahkan bagi kader HMI hubungan antara agama dan negara sudah selesai tidak ada yang dipersoalkan.

Baca Juga :   Sidak Proyek Kayutangan Heritage, Walikota Malang Minta Kemudahan Akses Warga

“Bagi kader HMI, wacana mengenai relasi agama dengan negara, relasi agama dengan politik sebenarnya sudah tuntas pada era tahun 70-an
dengan Cak Nur sebagai promotornya,” katanya.

Di mana saat itu Cak Nur sebagai tokoh HMI banyak bicara soal Keislaman dan Keindonesian. Ridwan menegaskan, semangat dari nilai-nilai Islam tidak ada yang bertentangan dengan negara. Justru dibentuknya negara ini melalui Pancasila sebagai ideologi sudah mencerminkan bahwa rakyat Indonesia sangat agamis karena meletakkan Ketuhanan di sila pertama.

“Sampai disini, pemahaman relasi dan konstruksi, antara agama dan negara, agama dan ideologi, agama dan politik harus tuntas dan komprehensif oleh seluruh komponen masyarakat, khususnya pejabat pemerintah, akademisi, tokoh agama, tokoh politik, wabilhusus lagi kader dan tokoh-tokh HMI,” jelasnya.

Karena itu Ridwan berharap tidak ada lagi dikotomi atau pandangan mereka yang Islamnya kental dianggap tidak nasionalis. Dan mereka yang disebut nasionalis dianggap tidak religius. Bagi Ridwan Keislaman dan Keindonesian adalah satau kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

“Pancasila merupakan hadiah terbesar yang diberikan ummat Islam kepada Republik Indonesia. Dalam tinjauan realitas kekinian, hampir dapat dipastikan bahwa seluruh ummat Islam sangat menjaga komitmen untuk mempertahankan NKRI,” terangnya.

“Hal ini dikarenakan, sumber ajaran Islam, Alquran dan Hadits, menekankan dan mengajarkan untuk menjaga tanah air. Bahkan ulama, ustad dan kyai selalu menekankan bahwa mencintai tanah air merupakan sebagian dari iman,” pungkasnya.

Leave a Reply