Ristekdikti Gandeng ITN Malang Gelar Workshop KI

PolitikaMalang – Banyak penelitian telah dilakukan oleh perguruan tinggi di Indonesia, akan tetapi sebagian besar hanya menghasilkan laporan sebagai bentuk akhir pertanggungjawaban kegiatan serta dipublikasikan pada jurnal-jurnal ilmiah dan masih belum memberikan manfaat langsung kepada masyarakat dan industri, sehingga IPTEKS yang telah dikembangkan dengan menghabiskan banyak dana,waktu, dan tenaga menjadi kurang terasa manfaatnya.

Penelitian hanya menjadi simbol kebanggaan kesuksesan sebuah perguruan tinggi.

Melihat kondisi seperti itu, Direktorat Pengelolaan Kekayaan Intelektual Kementrian Riset, teknologi dan Pendidikan Tinggi menggandeng Institut Teknologi Nasional Malang untuk menggelar Workshop Kekayaan Intelektual (KI).

Pelatihan KI yang rencananya digelar dua hari, 26-27 November 2018 di Hotel Singhasari Resort Batu ini di ikut dua puluh delapan Perguruan Tinggi seJawa Timur masing masing PT mengirimkan dua orang Dosen .

Kasubdit Bidang Hasil evaluasi dan fasilitasi kekayaan Intelektual Kementerian riset teknologi dan pendidikan tinggi, Juldin Bahriansyah, S.T., M.Si mengatakan kepada wartawan bahwa tujuan diadakannya Workshop atau pelatihan KI ini yaitu untuk mendorong para dosen dan peneliti untuk lebih semangat dalam melakukan penelitian kemudian melanjutkan ke paten.

“Karena selama ini mereka hanya, setelah penelitian kemudian selesai atau sebatas jurnal. Sekarang kita ingin dorong lagi ke paten,” ujar Juldin.

Manfaatnya paten, menurut Juldin, paten adalah suatu perlindungan terhadap hasil karya yang dindungi oleh Hukum sehingga secara sah memunyai Payung hukum.

Ditambahkan Juldin, jurnal hanya dilindungi dalam hak cipta. Tapi kalau dipaten, itu konteksnya lebih ke influensinya, teknologinya itu akan dilindungi oleh paten. Sehingga orang lain, siapapun itu, bisa membaca, bisa mempelajari tetapi tidak dapat meniru itu atau melaksanakan. “Berbeda dengan jurnal, jurnal bisa membaca tetapi boleh melaksanakannya sendiri,” jelasnya.

Baca Juga :   THE Little finger Related Articles

“Untuk tingkat nasional sudah ada 67 ribu yang mengajukan paten, tetapi untuk yang kami fasilitasi tahun ini target 290, sebelumnya 250,”ungkapnya.

Saat ini yang sudah rill masuk itu 150. Kendalanya banyak, pada saat kita memberikan insentif biasanya kita melakukan pelatihan pendampingan, nah pada saat itu kita tekankan pada masalah penelusuran. Setelah penelusuran, umumnya para penelitinya baru tahu, bahwa teknologinya sudah banyak yang sama. Jadi akhirnya tidak bisa dilanjutkan.

Pengajuan paten itu relatif mudah. Kalau tanpa kami pun, mereka bisa melalui sentra KI, mereka bisa melalui kanwil kumham itu juga bisa.

“Dari Pemerentah gak ada reward. Biasanya kami hanya sediakan fasilitas, insentif permohonan, jadi mereka tidak perlu membayar lagi. Pendampingan juga kita berikan,”pungkas Juldi.

Sementara itu Rektor ITN Malang, Dr Lalu Mulyadi mengatakan, Workshop ini bertujuan meningkatkan kapasitas perguruan tinggi dalam hal kompetensi sumber daya manusia, terutama dalam pengelolaan KI.

“Setelah selesai workshop ini, peserta diharapkan dapat menerapkan wawasan, pengetahuan dan ketampilan pada kegiatan pengelolaan KI dan melakukan sosialisasi di lingkungan perguruan tinggi masing-masing agar wawasan, pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh dapat didesiminasikan,”pungkas Rektor ITN Dr Lalu Mulyadi.(*)

Pewarta : Djoko Winahyu

Leave a Reply