Sam Anas: Revolusi Industri 4.0 Bukan Ancaman Tapi Kebutuhan

PolitikaMalang – Era Revolusi Industri 4.0 memberi tantangan tersendiri bagi sektor ketenagakerjaan yang harus menjadi konsen semua pihak. Ini terkait perubahan keterampilan, perubahan jenis pekerjaan dan perubahan pola hidup masyarakat.

Akses peningkatan kompetensi yang massif serta kehadiran negara melalui jaminan sosial yang mampu melindungi pekerjaan dan pendapatan warga negaranya, diyakini menjadi sangat krusial dalam menghadapi revolusi industri 4.0.

Ini menjadi sangat penting, mengingat jika tidak, akan banyak tenaga kerja Indonesia yang kalah bersaing dan tersisih dari dunia kerja.

Ditemui disela aktivitasnya, Muhammad Anas Muttaqin, Wakil Ketua Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Malang Raya, menyebut bahwa revolusi industri 4.0 bukan hanya soal transformasi teknologi. Tapi lebih besar dari itu.

“Ini juga menyangkut transformasi culture atau budaya. Variable masyarakat dan SDM harus kita perhatikan dalam pengembangan 4.0. Ini kuncinya. Karena ujung tombak terpenting dari revolusi 4.0 ini adalah masyarakat,” terang Politisi Muda Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.

“Sebenarnya revolusi industri 4.0 bukan menjadi ancaman tapi sudah menjadi keharusan dan kebutuhan,” imbuh pria yang akrab disapa Sam anas ini.

Untuk itu kata Mantan Ketua Karang Taruna Kota Malang ini, pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan tingkat kompetensi serta, redistribusi pendapatan dan aset, yang berarti lebih banyak jaminan sosial untuk individu yang lemah dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi faktor penting.

“Untuk dapat mengikuti perkembangan industri, masyarakat khususnya para pekerja harus meningkatkan kapasitasnya. Peningkatan kapasitas bisa dilakukan lewat pelatihan, kursus dan juga sertifikasi. Para pelaku industri harus ikut serta dalam upaya ini karena peningkatan kapasitas pekerja akan berdampak positif terhadap industri itu sendiri,” kata pria asal Sukun ini.

Baca Juga :   Perkuat Data Aset, Pemkot Malang Gandeng KPK

Jika tidak kata Anas ketimpangan kompetensi dan pendapatan antara individu yang memiliki akses komputer dan internet akan semakin terasa di era Revolusi Industri 4.0 ini.

Lanjut Anas, dunia pendidikan pun diharapkan mampu berperan aktif untuk mempersiapkan para siswa dalam menghadapi Industri 4.0. Kurikulum yang dirancang dihimbau mengandung pembelajaran dan pengetahuan terkait dunia industri.

Sementara untuk sekolah-sekolah kejuruan, praktek kerja yang dilakukan oleh para siswa harus dijadikan sarana efektif untuk terjun langsung dalam pekerjaan industri.

“Dibeberapa Kota Besar, apalagi Kota pendidikan seperti Malang ini selain program pelatihan dan sertifikasi yang dilakukan oleh instansi pemerintah dan perguruan tinggi, beberapa ruang kreativitas anak muda seperti Co Working Space juga aktif melakukan pelatihan,” kata Anas

“Menjamurnya ruang-ruang seperti Co Working Space ini sangat positif. Memungkinkan ide-ide dan pendekatan yang baru dalam menyongsong revolusi 4.0 Tren bertumbuhnya pusat-pusat kreatif juga mengisyaratkan tumbuhnya sektor teknologi dan kreatif. Apalagi indonesia masuk dalam fase bonus demografi beberapa tahun ke depan,” pungkas alumni UIN Malang ini.

Leave a Reply