Sambut HUT ke 73 RI, Kota Malang Gelar Doa Bersama

PolitikaMalang – Malam 17 Agustus merupakan malam yang sakral bagi bangsa Indonesia. Pada tanggal ini nasib bangsa Indonesia ditentukan oleh para pendiri bangsa. Komitmen kebangsaan dan keagamaan yang selaras merupakan kunci dari berdirinya negara Indonesia. Seperti yang dilakukan para Ulama dan Umaro Kota Malang dalam Panjatan Doa HUT RI ke-73 Tahun 2018,
Bermartabat, Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur menjadi kesepakatan bersama.

Plt. WaliKota Malang, H. Sutiaji bersama Forum Pimpinan Daerah (FORPIMDA), kepala OPD, tokoh pemuka agama Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha dan Kong Hu Chu menggelar acara doa bersama jelang HUT Kemerdekaan ke-73 Republik Indonesia, 17 Agustus 2018.

Dalam sambutannya Plt Walikota Malang Sutiaji mengatakan, ”Kami seluruh jajaran, sekda, kepala perangkat daerah sampe kelurahan tidak akan bisa berjalan ketika masyarakat tidak memberikan dukungan. Doa dari para kyai untuk memberkahi semuanya. Mudahan-mudahan ini akan terus berlanjut dengan baik. Selanjutnya kami mudah-mudahan bisa bagi tugas para ulama amar punya maruf kami nahi mungkar” ujarnya.

Ketua MUI, KH. Baidlowi Muslich yang hadir dan memimpin panjatan doa mengajak warga Kota Malang, terutama para pemuda untuk mengingat kembali peristiwa sejarah yang ada hubungan dengan kemerdekaan 17 agustus 1945.

“Merupakan suatu kebanggaan, kita sebagai warga kota Malang bahwa pernah terjadi pada saat Kota Malang di kuasai Belanda. Pada tahun 1949 akhirnya dibebaskan dengan perjuangan para ulama. Pondok pesantren Gading yang disebut Pondok Miftahul Huda merupakan markas perjuangan. Dari pondok inilah para pejuang mengatur taktik perang seperti jenderal Sumitro bersama-sama Kiai Yahya dan juga Kiai-kiai lain. Pada Serangan terakhir 17 jam, Belanda menyerahkan Kota Malang,”tutupnya.

Terpisah, Sekretaris Himpunan Pengusaha Santri (HIPSI) Kota Malang, Muhammad Anas Muttaqin juga menyampaikan hal senada. Ia berpesan agar para generasi muda tidak melupakan sejarah. Menurutnya, Kota Malang cukup kental dengan nuansa sejarah perjuangan kemerdekaan. Salah satunya, adanya laskar Hisbullah yang monumennya kini bisa ditemui di Masjid Mukarromah, Kasin. Ada juga pahlawan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) di jalan Ijen.

“Tugas kita para generasi muda untuk menjaga, meneladani dan meneruskan perjuangan para pahlawan yang telah mendahului kita” pungkasnya. (*)

Pewarta : Djoko Winahyu.

Leave a Reply