Soal Pendamping Petahana, Milenial Saja Tak cukup

PolitikaMalang – Bakal calon petahana dalam Pilkada Kota Malang 2018, H. Mochamad Anton, kerap melakukan akrobat politik akhir-akhir ini. Salah satu statemennya yang cukup menggemparkan adalah, jika ia ingin menggandeng tokoh muda dari generasi milenial sebagai Bacalon Wakil Wali Kota Malang pada ajang pesta demokrasi lokal itu.

Ungkapan Anton sontak menimbulkan sejumlah pertanyaan terkait siapa sosok yang dimaksud. Beberapa nama mulai dikaitkan dengan statemen pria yang kini menjabat sebagai Wali Kota Malang itu. Terakhir, Anton kembali menggemparkan publik dengan statemen akan menggandeng calon dari kalangan Nahdiyin. Tentu saja akrobat politik Anton itu menimbulkan tanya pada masyarakat.

Berkaitan dengan sosok ideal pendamping petahana, Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Wahyudi Winarjo, menduga jika statemen Anton menunjukkan dua kondisi yang sedang dialaminya. “Pak Anton saya kira bisa jadi sedang bingung atau terlampau percaya diri,” kata Wahyudi saat dihubungi Politika Malang (29/11).

Ada beberapa analisa yang disampaikan Wahyudi terkait sosok pendamping Anton yang ideal di Pilkada tahun mendatang. Pertama, kata Wahyudi, Bacalon N2 Anton   harus paham birokrasi pemerintahan serta paham akan kondisi politik. Merujuk pada dua hal itu, sebenarnya, lanjut Wahyudi, nama Sutiaji adalah sosok yang ideal, namun karena adanya pecah kongsi antara keduanya, kemungkinan Anton menggandeng kembali sudah tidak mungkin lagi.

“Jadi usia muda dari generasi milenial saja tidak cukup. Pendamping Anton harus paham birokrasi pemerintahan, harus paham politik dan bisa membantunya untuk menyelesaikan gejolak-gejolak politik,” ungkap Wahyudi.

Ia menambahkan ada juga beberapa hal yang harus diperhatikan termasuk apakah sosok itu memiliki “sosial capital’, ‘economy capital’, ‘political capital” dan ada juga ‘body capital’ yang termasuk di dalamnya adalah sosok muda, ganteng, cantik dan sebagainya.

Baca Juga :   Sidak Proyek Kayutangan Heritage, Walikota Malang Minta Kemudahan Akses Warga

“Modal body capital saja tidak cukup tapi tiga unsur lainnya harus dimiliki, nah menurut analisa saya, sosok Mbak Nanda (Ya’qud Ananda Gudban) memiliki semua unsur itu, namun beliau kan sudah diusung tiga partai untuk jadi Bacalon N1 sehingga potensi menjadi lawan tangguh bagi Anton di pilkada,” bebernya.

Petahana Harus Memilih Sosok yang Tepat di Pilkada Malang

Kabar siapa yang akan menjadi pendamping Anton di Pilkada Kota Malang 2018 mendatang sejalan dengan konstelasi politik yang saat ini sedang berkembang. Setelah dikabarkan akan merajut koalisi ‘Bangjo’ (PDI Perjuangan – PKB), kini petahana didekati oleh PKS Kota Malang.

Kondisi ini cukup menarik, sebab PKS tidak memberikan syarat tertentu perihal bakal calon N2 kepada Anton. Atau dengan kata lain, partai itu membebaskan petahana memilih sosok pendampingnya nanti sesuai dengan keinginannya. Koalisi PKB – PKS di Pilkada Kota Malang terealisasi maka sudah cukup untuk mengajukan pasangan calon ke KPU sebab dua partai itu sudah mengemas 9 kursi.

Terkait dengan rencana koalisi itu, Wahyudi menjelaskan jika ada beberapa resistensi yang akan terjadi. Pertama, jika koalisi dua partai itu terjadi maka bisa saja kalangan dari kaum minoritas akan melirik calon lain, sebab PKS selama ini dinilai sebagai partai berjargon Islam. Padahal pada 2013 lalu Anton – Sutiaji diusung oleh dua partai yakni Gerindra dan PKB yang melambangkan nasionalis – religius.

“Saya melihat kaum minoritas baik dari non muslim atau Tionghoa misalnya sudah nyaman dengan Pak Anton. Analisa saya, jika kedua partai itu berkoalisi, maka akan berdampak psikologis politik para calon pemilih dari kalangan minoritas ini akan pindah ke calon lain,” kata Wahyudi.

Baca Juga :   Wie man Spielautomaten-Spiele kostenlos spielt

Kedua, Wahyudi menjelaskan, jika koalisi PKB – PKS jarang terjadi di beberapa pilkada di daerah lainnya. Resistensi politik aliran bisa saja membuat dua partai itu gagal untuk menemukan komitmen satu sama lainnya.

“Jika memang kedua partai itu berkoalisi maka, ini adalah kesempatan bagi PDI Perjuangan untuk menguatkan barisan. Jika memang solid dan Pak Anton kurang tepat memilih sosok pendamping dan mitra koalisi bukan tidak mungkin petahana akan ditumbangkan,” tandasnya.

Leave a Reply