Soal Pilkada Malang, Anton Bukan Figur Tunggal Representasi NU

PolitikaMalang – Upaya para kiai dan petinggi PC NU Kota Malang ‘menjodohkan’ H. Moch Anton – Ya’qud Ananda Gudban sebagai pasangan calon di Pilkada Malang nampaknya pupus sudah. Hal ini dikarenakan syarat yang diberikan oleh Anton kepada politisi cantik yang akrab disapa Nanda itu tidak mungkin dipenuhi.

Berdasarkan informasi yang berkembang, syarat yang diminta oleh Anton yakni Nanda harus “menyeberang” partai dari Hanura ke PKB. Syarat itu tidak mungkin dipenuhi oleh Nanda yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPC Partai Hanura Kota Malang.

Syarat lain yang mencuat yakni, adanya isu tentang mahar politik senilai Rp 20 miliar untuk Pilkada Malang 2018. Persyaratan yang tak mungkin dipenuhi Nanda itu, membuat banyak pihak menilai, jika Anton secara tidak langsung menolak permintaan para kiai dan Petinggi PC NU agar ia bergandeng dengan Nanda di Pilkada Malang 2018. Akibatnya, dukungan kiai dan NU tidak lagi tunggal ke Anton.

Padahal, pada bulan Juni lalu PC NU sudah jelas mengeluarkan surat dukungan tunggal kepada Anton sebagai petahana dalam Pilkada Malang 2018 karena dianggap representasi dari kalangan Nahdiyin. Namun, dukungan itu nampaknya tidak tunggal lagi, mengingat dinamika politik yang berkembang disertai dengan upaya ‘penolakan’ Anton atas saran para kiai dan petinggi PC NU yang menginginkan agar dia bergandeng dengan Nanda.

Menanggapi hal ini, Katib Syuriah PCNU Kota Malang, Dr. KH, Badruddin, kepada Politika Malang, menceritakan perihal direstuinya nama Nanda untuk mendampingi Anton di Pilkada Malang 2018.

KH Badruddin, menuturkan pada awal bulan tahun 2017 terjadi pertemuan antara para kiai dan petinggi NU dengan Anton. Kala itu, Anton menjelaskan jika ia sudah tidak bisa lagi bergandeng dengan Sutiaji di Pilkada Malang 2018 mendatang dikarenakan beberapa faktor. Anton akhirnya menyerahkan sepenuhnya atas restu kiai terkait Bakal Calon Wakil Wali Kota Malang yang akan mendampinginya kelak.

Baca Juga :   Cell Vent out Products Very own Grow to be Important These kinds of Days or weeks Wireless Fashionable betting house News

“Dari situ Abah Anton lalu merekomendasikan beberapa nama termasuk Mbak Nanda Gudban, Pak Gufron, Dokter Canggih, sampai Pak Syamsul,” kata KH Badruddin.

Setelah muncul beberapa nama, lalu para kiai dan petinggi PCNU Kota Malang menyerahkan kepada salah satu tim untuk melakukan profiling perihal nama-nama yang telah diajukan tadi.

“Profiling dilakukan dengan mengecek CV (Curriculum Vitae), riwayat hidup, pengalaman, kemampuan dan integritasnya,” ujar KH Badruddin.

Setelah dilakukan profiling dan istikhoroh, maka nama yang direstui oleh para kiai untuk menjadi pendamping Anton di Pilkada 2018 adalah Ya’qud Ananda Gudban. Sehingga hasil itu ditindaklanjuti dengan mempertemukan dua tokoh itu di Kantor PCNU Kota Malang beberapa waktu lalu. Pada pertemuan itu lalu muncullah syarat yang diajukan Anton  dan harus dipenuhi dalam waktu satu minggu dan akhirnya tidak bisa dipenuhi oleh Nanda Gudban.

“Kalau soal syarat kita dengarnya agar Mbak Nanda itu masuk PKB. Itu kan tidak mungkin karena Mbak Nanda menjabat sebagai ketua Hanura Kota Malang dan itu bisa saja sebagai bentuk penolakan Abah Anton atas nama Mbak Nanda,” ujarnya.

Setelah tersiar kabar jika Nanda tidak mungkin menerima syarat Anton itulah, para kiai kembali melakukan pertemuan untuk membahas masalah tersebut. Imbas penting dari pertemuan itu adalah, jika semula para kiai dan para petinggi PCNU memberikan restu tunggal kepada Anton kini tidak lagi. Restu diberikan kepada semua calon yang representatif dengan NU. Nanda Gudban, masuk sebagai Bacalon Wali Kota Malang yang mendapat restu tersebut.

“Semua calon yang representatif dengan NU kita restui di Pilkada,” tandasnya.

Tanggapan Soal Syarat Anton

Setidaknya ada dua syarat Anton ke Nanda yang mengemuka. Pertama adalah isu tentang mahar senilai Rp 20 miliar serta Nanda diminta untuk ‘hijrah’ dari Hanura ke PKB. Syarat itu tidak mungkin dipenuhi oleh Nanda yang notabenenya saat ini menjabat sebagai Ketua DPC Hanura Kota Malang.

Baca Juga :   Jaga Keharmonisan Keluarga, Gus Ali Ahmad Apresiasi Griya Curhat

Dalam sebuah kesempatan Nanda Gudban dengan tegas mengungkapkan jika syarat yang diminta Anton tidak mungkin ia penuhi. “Syarat yang diberikan oleh Abah Anton tidak mungkin untuk saya penuhi,” kata Nanda

Ia menjelaskan, jika selama ini sudah berusaha semaksimal mungkin, memenuhi permintaan para kiai dan petinggi PC NU Kota Malang untuk menjadi pendamping Anton. Namun, dikarenakan syarat yang berat dan tidak mungkin itulah yang membuat peraih gelar Doktor dari Universitas Brawijaya itu menjadi berpikir ulang.

“Saya takzim kepada para kiai dan petinggi NU Kota Malang, saya sudah berupaya semaksimal mungkin untuk memenuhi apa yang para kiai inginkan,” tandasnya.

Soal syarat yang tidak mungkin dipenuhi itu, lanjut Nanda bisa saja menjadi upaya penolakan secara halus dari Anton untuk berpasangan dengan dirinya di Pilkada Kota Malang.

“Saya kan diminta para kiai dan petinggi NU untuk mendampingi Abah Anton di Pilkada. Tapi karena syarat yang tidak mungkin itu bisa saja sebagai penolakan secara halus dari Abah Anton,” ujarnya.

“Politik yang kita bangun adalah politik bermoral, jadi persyaratan yang tidak mungkin itu tidak perlu dibahas,” Imbuh Nanda Gudban

Terpisah, Sekertaris DPD PAN Kota Malang, Dito Arief juga menilai jika syarat yang diberikan Anton agar Nanda pindah ke PKB adalah jauh dari etika politik. “Jangan samakan pengalamannya yang suka pindah partai itu kepada orang lain. Pindah partai itu syarat yang tidak mungkin dipenuhi oleh Mbak Nanda,” tukasnya.

Soal desas-desus ada syarat mahar senilai Rp 20 miliar, Dito atas nama DPD PAN Kota Malang yang sudah mendukung Nanda di Pilkada Malang menegaskan, jika ini sebenarnya pintu masuk bagi Panwaslu untuk melakukan pengamatan.

Baca Juga :   Period https://contedu.ru Journey Tigers

“Panwas saya kira harus mulai melihat ini sebagai gejala yang kurang baik dalam helatan Pilkada Malang 2018,” ungkapnya.

Leave a Reply