Survei SRC IPNU Jatim: Pelajar Sudah Melek Covid-19

PolitikaMalang – Student Research Center (SRC) Pimpinan Wilayah IPNU Jawa Timur menyatakan mayoritas pelajar di Jawa Timur sudah melek dampak wabah virus korona baru (covid-19). Hal itu terungkap dalam riset terkait pengetahuan dan persepsi pelajar di Jatim tentan corona virus diseases 19.

“Fokus riset SRC kali ini meneliti pemahaman pelajar tentang covid-19 dan dampaknya terhadap proses belajar mengajar,” tegas Ketua Pengurus Wilayah IPNU Jawa Timur, Choirul Mubtadiin, Rabu (15/4/2020).

Mengapa dampak covid-19 terhadap pelajar penting untuk diteliti? sejak tanggal 16 maret 2020 hingga hari ini, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengubah sistem belajar mengajar disemua jenjang pendidikan. Semula dilakukan di sekolah, kini harus dilakukan di rumah masing-masing.

“Survei ini menjadi langkah nyata pelajar Jawa Timur sebagai generasi yang concern terhadap dunia pendidikan,” katanya.

Sementara itu, Direktur SRC Ahmad Ainun Najib menambahkan hasil survei ini bisa menjadi bahan pertimbangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mengeluarkan kebijakan pencegahan dan penanganan covid-19 di lingkukangan pelajar.

Setidaknya ada tiga topik yang diambil dalam survei ini. Pertama, pemahaman pelajar Jatim terhadap covid-19. Kedua, sikap pelajar Jatim tentang penanganan atau pencegahan covid-19, dan ketiga, respon pelajar Jatim terhadap kebijakan pendidikan saat pandemi covid-19 melanda.

“Saat ini pelajar di Jawa Timur sedang melaksanakan belajar dari rumah. Tentu, ini hal yang baru di kalangan pelajar. Hasil survei kami bisa digunakan sebagai refensi pemerintah dalam mengambil kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan pelajar Jawa Timur,” terang Najib.

Lebih jauh Najib menjelaskan, objek survei ini adalah siswa SLTP dan SLTA di 38 Kabupaten dan Kota se Jawa Timur. Survei pengetahuan dan persepsi pelajar Jawa Timur tentang dampak covid-19 dilakukan pada 27-31 Maret 2020, menggunakan metode deskriptif kualitatif.

Baca Juga :   Period https://contedu.ru Journey Tigers

“Tercatat 50% responden laki-laki dan 50% responden perempuan, dengan responden 480 pelajar SLTP dan SLTA di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Dengan teknik sampling multistage random sampling, Margin of Error 5%,” ungkap Najib yang juga Ketua II IPNU Jatim.

Hasil survei SRC IPNU Jatim, lanjutnya, menunjukan bahwa 49% pelajar Jatim paham tentang covid-19. Kemudian 40% sedikit paham, disusul 9% sangat paham, dan terakhir 1% pelajar Jatim tidak paham sama sekali. Pertanyaan kedua dari mana pelajar mengetahui informasi tentang covid-19? mereka menjawab 4% dari guru dan sekolah, 20% dari televisi dan radio, 8% dari portal berita online, 69% dari media sosial, yaitu FB, IG, twitter, Line, WhatsApp, dan lainnya. Sedangkan satu persen menjawab mengetahui covid-19 dari koran dan media cetak lainnya.

Najib menambahkan, penggunaan media sosial saat ini membuat informasi kain mudah tersebar. Hal positifnya memudahkan pelajar dalam memahami dampak covid-19.

“Hasil survei menunjukan 49% pelajar di Jatim paham tentang covid-19. Sebanyak 69% mengetahui dari media sosial,” tuturnya.

Survei juga menyajikan pertanyaan pandangan pelajar Jawa Timur, terhadap kinerja Pemerintah Pusat (Presiden) dalam menangani penyebaran Pandemi Covid-19 di Indonesia. sebanyak 34% pelajar Jatim meyakini kinerja pemerintah pusat sangat baik. Yang menilai kurang baik hanya 10%. Namun, mayoritas menjawab cukup baik 56%.

Sedangkan 35% pelajar menilai kinerja Gubernur Jawa Timur dalam menangani penyebaran pandemi covid-19 sudah sangat baik. Hanya 5% menilai kurang baik. Mayoritas pelajar atau 60% menilai cukup baik.

Secara umum, responden menganggap 44% kualitas update informasi tentang covid-19 yang disediakan oleh pemerintah pusat hingga pemerintah daerah sangat baik. Adapun yang menilai cukup baik sebanyak 49%, kurang baik 6%, dan tidak baik 1%.

Baca Juga :   Search With respect to Computer Help

Ada hal menarik saat pelajar Jawa Timur ditanya sikap pelajar tentang kebijakan pendidikan. Ternyata, metode daring atau belajar dari rumah dianggap tidak menyenangkan ketimbang belajar di sekolah. Mayoritas menjawab tidak setuju dengan prosentase 81,46%, disusul 15% setuju, dan 3,54% tidak tahu.

Para pelajar mengaku proses belajar mengajar jarak jauh selama pandemi covid-19 dinilai monoton dan membosankan. Sebab, pelajar dibebani dengan tugas-tugas. Hal itu terungkap sebanyak 66% guru hanya memberi tugas lalu dikumpulkan secara online, 14% belajar melalui aplikasi belajar online, 10% diskusi melaui grup chatting, 5% melaui video call, dan sisanya tidak ada proses pembelajaran maupun tugas.

Pelajar Jatim beranggapan metode pembelajaran yang ideal dan menyenangkan di tengah wabah covid-19, adalah student centered learning (SCL), diskusi online, dan ada kuis. Dengan menggunakan media pembelajaran aplikasi belajar online dan video streaming.

Leave a Reply