Tanpa Dihadiri Dua Cawali, Debat Publik Pilkada Malang Berjalan Lancar

 

Politika Malang – Debat publik Pilkada Kota Malang 2018 putaran pertama resmi digelar sabtu (7/4/2018) sekitar pukul 21.30 WIB. Walau tanpa dihadiri oleh dua calon walikota yaitu Ya’qud Ananda Gudban dan Mochamad Anton karena tengah ditahan KPK, namun kemeriahan tetap mewarnai acara yang dihelat KPUD Kota Malang tersebut.

Paslon Nomor urut 1 yang hanya bisa dihadiri oleh calon wakil walikota Ahmad Wanedi terlihat tampil cukup lugas. Wanedi cukup yakin bahwa penampilannya berjalan baik.

“Kalau saya pribadi puas. Namun masyarakat silakan menilai sendiri apakah puas atau tidak dengan penampilan saya,” ujar Wanedi.

Ketika ditanya tentang penampilan sendirinya, karena tanpa didampigi oleh Calon Wali Kota Yaqud Ananda Gudban, Wanedi menegaskan Nanda – Wanedi adalah satu.

“Sudah saya tegaskan dari dulu kalau Nanda – Wanedi itu satu. Ketika ada ibu, maka ada bapak. Ketika ibu tidak bisa, maka dikerjakan bapak,” tegasnya.

Sedangkan Calon Wakil Wali Kota nomor urut 2 Syamsul Mahmud juga tak mau kalah. Ia mengaku cukup punya persiqpan dalam menghadapi debat publik tersebut. Namun ia juga mengaku ‘ndredeg’ karena ini pengalaman pertamanya tampil di panggung politik.

“Lumayan, tapi ndredeg,” ujar Syamsul sambil tersenyum.

Saat ditanya apakah penampilan di debat mempengaruhi minat pemilih, Syamsul mengakui hal itu mempengaruhi.

“Ya berpengaruh. Tetapi saya yakin masyarakat sudah punya penilaian terhadap paslon ASIK berdasarkan rekam jejak kami selama ini, terutama kiprah Abah Anton, tidak hanya pada saat debat,” ujarnya.

Sedangkan Calon Wali Kota nomor urut 3 Sutiaji mengaku tidak merasa menang meskipun Paslon nomor urut 3 yang lengkap di debat publik kali ini.

“Tidak. Kami tidak serta merta merasa menang. Karena semuanya masih memiliki peluang yang sama,” ujar Sutiaji.

Baca Juga :   Mutasi Besar Diawal Tahun, Sutiaji Lantik 31 Pejabat di Pemkot Malang

Sutiaji mengakui sebuah debat publik mempengaruhi minat para pemilih. Ia menyebut debat menjadi bentuk penilaian dari pemilih kepada calon pemimpin mereka.

“Bahasa tubuh, gesture, bahasa yang dipakai ketika debat. Apakah merendahkan orang lain atau tidak. Itu akan menjadi penilaian pemilih kepada calon pemimpin mereka,” tegas Sutiaji.

Sementara itu debat publik secara keseluruhan berjalan lancar. Debat sempat diwarnai protes dari Timses Paslon. Sebab ketika pemaparan visi dan misi, masing-masing Palson hanya diberi waktu 1,5 menit. Padahal ketika pleno, waktu visi dan misi 3 menit.
Setelah mendapatkan protes, penyampaian visi dan misi dilanjutlan usai break iklan.

Debat yang diakhiri sekitar pukul 21.30 WIB tersebut ditutup dengan closing statement dari masing-masing calon. Mereka mengakhiri acara tersebut dengan bersalaman dan berpelukan satu sama lain. Para pendukung juga dengan tenang meninggalkan arena debat secara bertahap dan tertib.

 

 

Leave a Reply