UB Bahas Pemanfaatan Tanah masam Untuk Tingkatkan Produksi Pangan Nasional

PolitikaMalang – Selasa Pagi Universitas Brawijaya (UB) Malang menggelar Focus Discusion Grup (FGD) yang membahas pengelolaan lahan masam untuk perluasan lahan pangan di Indonesia.

Tema kali ini “Pengelolaan Lahan Masam Secara Berkelanjutan” dengan nara sumber Prof.Dr.Ir. Syekhfani, MS (Gubes FP UB), Dr. Didy Wuryanto (Kepala Pokja Perencanaan Anggaran dan Hukum BRG), serta Husnain, SP.,MP.,Ph.D (Kepala Balai Penelitian Tanah Kementan R1) dam secara resmi dibuka Rektor UB Prof Nuhfil Hanani.

Ketua Panitia Dosen FP Dr. Setyono Yudo Tyasmoro mengatakan, pembahasan kesuburan tanah dilakukan seiring dengan peningkatan jumlah penduduk Indonesia yang saat ini mencapai 260 juta jiwa, sehingga prioritas pembangunan pertanian masih fokus pada upaya peningkatan produksi pangan khususnya beras, guna memenuhi kecukupan pangan secara nasional.

Ia mengatakan, dalam bahasan FGD fokus pada strategi pokok yang dijalankan dengan intensifikasi lahan-lahan eksisting serta ekstensifikasi atau pencetakan areal sawah baru. “Intensifikasi ditempuh dengan cara meningkatkan intensitas pertanaman (IP) pada lahan sawah eksisting melalui perbaikan infrastruktur irigasi, sehingga lahan yang selama ini ditanami setahun sekali bisa ditingkatkan menjadi dua kali setahun (IP-200) dan lahan sawah yang selama ini ditanami dua kali setahun bisa ditingkatkan menjadi tiga kali setahun (IP300),” katanya.

Selain dengan intensifikasi atau peningkatan intensitas pertanaman (IP), kata dia, pemerintah juga gencar melakukan upaya-upaya pencarian lahan baru untuk dicetak menjadi sawah (ekstensiflkasi) yang kebanyakan merupakan lahan masam. Potensi lahan kering masam untuk tanaman pangan dengan luas total 22.315.434 Ha dan luas lahan kering masam untuk pengembangan tanaman tahunan 49.873.728 Ha (Litbang pertanian 2018).

“Pencetakan sawah baru ini sebagai penjabaran Program Nawacita, dimana pemerintah mencanangkan pencetakan sawah baru seluas 1 juta hektare dalam kurun waktu 5 tahun (2015 2019), selain untuk peningkatan produksi pangan, program ini sekaligus untuk mengimbangi laju alih fungsi lahan yang terus meningkat,” katanya.

Baca Juga :   Jaga Keharmonisan Keluarga, Gus Ali Ahmad Apresiasi Griya Curhat

Program pencetakan sawah berdasarkan catatan dari Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (2018), kurun waktu 3 tahun (2015 2017) pemerintahan berhasil mencetak 210.261 Ha sawah baru.

Capaian ini sebetulnya masih jauh dari target Nawacita, yang seharusnya bisa 200.000 Ha per tahun.

“Permasalahan utama pencetakan sawah adalah terkait dengan pemanfaatannya pascakonstruksi, selain aspek penanganan budi daya oleh petani, tingkat kesuburan yang rendah juga menghambat pencapaian target peningkatan produksi pangan,” tutumya.

Kesuburan yang rendah pada areal sawah baru mengakibatkan produktivitas hasil yang didapatkan juga sangat rendah, yaitu 2,5 ton 3 ton per hektar Gabah Kering Giling (GKG). Tingkat keasaman yang tinggi menj adi sebab mengapa kesuburannya rendah.

Pada lahan sawah baru tingkat keasaman tanah pada kisaran pH 4,0 sampai 5,0 dimana pertanaman padi membutuhkan kondisi keasaman yang normal, yaitu pH 6,0 sampai 6,5. Oleh karena itu, pada FGD juga akan dibahas rekayasa teknologi yang sangat mungkin dilakukan pada lahan sawah baru, salah satunya dengan upaya pemberian material kesuburan lahan berupa dolomit. Kebutuhan dolomit pada lahan-lahan bukan baru yang ideal adalah 4 ton per hektar,”pungkas Setyono Yudo Tyasmoro.(*)

Pewarta : Djoko Winahyu

Leave a Reply