105 Tahun Kota Malang, Anas: Pembenahan Infrastruktur Masih Jadi PR Besar

PolitikaMalang – 1 April 2019 Kota Malang genap berusia 105 tahun. Namun sayangnya beragam persoalan elementer masih saja muncul seiring perkembangan kota pendidikan ini. Mulai kemacetan, banjir hingga jalan berlubang. 

Kepadatan lalu lintas di Kota Malang sudah memasuki fase yang lumayan parah. Dari survei yang dilakukan Inrix beberapa waktu lalu, tingkat kemacetan di Malang bahkan mengalahkan Surabaya yang menjadi Ibu Kota di Jawa Timur. 

Kota kedua terbesar di Jawa Timur ini duduk sebagai kota ketiga dengan tingkat kemacetan terparah di Indonesia, selain Jakarta dan Bandung. Pengendara harus menghabiskan waktu selama 45 jam dalam setahun di tengah macet dengan persentase keseluruhan 23 persen. Pada jam sibuk, kemacetan naik menjadi 27 persen dibandingkan di luar jam sibuk yaitu 24 persen.

Politisi muda Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhammad Anas Muttaqin menyebut bahwa realitas di lapangan kemacetan di beberapa ruas utama Kota Malang terjadi setiap hari.

“Tidak hanya waktu weekend atau liburan saja, hari biasa sudah macet. Harus ada sesuatu yang dibenahi. Apalagi dengan terbukanya jalur tol Pandaan-Malang nanti. Diprediksi, kemacetan di Kota Malang semakin meningkat,” kata Mantan Ketua Karangtaruna Kota Malang ini.

Founder Malang Youth Forum ini mengatakan Pemerintah Kota Malang harus segera melakukan langkah strategis. Di antaranya adalah perbaikan sistem jaringan jalan. Kata Anas, sudah lama sekali tidak ada sistem jaringan jalan baru di Kota Malang. Pembuatan jalan lingkar timur, lingkar barat, hingga rencana jalan tambus dari Tlogomas ke Tunggulwulung, sampai ke Sudimoro juga harus segera direalisasikan.

Bapak dua orang anak ini pun menyebut banyaknya jalan berlubang turut memperparah kondisi tersebut sehingga rawan menyebabkan kecelakaan.

Baca Juga :   Wawali Malang Sofyan Edi Antusias Amati Uji KIR

Sejumlah masyarakat bahkan sampai menggelar pengumpulan koin untuk mengatasi jalan berlubang bisa banyak ditemui di sejumlah ruas jalan. Ada juga menuliskan kritikan di atas aspal jalan berlubang sebagai kado di hari jadi. Mereka seolah geram dengan lambannya respon dari Pemerintah Kota Malang.

“Kesabaran dari masyarakat mungkin sudah mencapai puncak. Karena kembali lagi, keberadaan jalan rusak dan berlubang yang hampir merata di berbagai titik ini sangat berkaitan dengan keselamatan pengguna jalan,”ungkapnya

Lanjutnya, keseriusan dari Pemerintah Kota Malang pun dipertanyakan. Ini mengingat alokasi anggaran dana insidentil yang terlampau sedikit. Dari data APBD Kota Malang periode tahun 2017-2019, memang tahun ini terdapat penurunan kurang lebih RP 600 juta. Jika pada tahun 2017 anggaran insidentil tersebut adalah sebesar Rp 3 milar, dan tahun 2018 sebesar Rp 3,1 miliar. Pada tahun 2019 ini, anggaran insidentil hanya Rp 2,5 miliar saja.

Sementara genangan air sampai berakibat banjir masih kerap terjadi di Kota Malang. Tumpukan sampah menyumbat gorong-gorong air dituding sebagai biang keladinya.

Menurut Anas, penyebab banjir di beberapa kawasan di Kota Malang disebabkan debit air yang meluap karena terbatasnya volume saluran air. Ini merupakan dampak dari adanya penyempitan saluran air.

Penyebab lainnya, lanjut pria asal Sukun ini, akibat salah kaprahnya pola pikir masyarakat dan lemahnya sistem regulasi dan kebijakan Pemkot Malang tentang pengaturan saluran pengairan.

Penyebab lain karena adanya tumpukan sampah yang menghambat saluran. Ini akibat dari perilaku warga yang masih gemar membuang sampah ke sungai dan saluran irigasi. Ini berdampak pada terjadinya sedimentasi dan pendangkalan pada saluran irigasi.

“Contoh kasus di kawasan Soekarno-Hatta hingga Borobudur kemarin, saluran irigasi banyak yang tertutup bangunan. Pemerintah dalam hal ini harus tegas dan berani membongkar bangunan yang menyalahi aturan. Begitu pula dengan tindakan bagi warga yang suka membuang sampah sembarangan,” pungkas Calon Anggota DPRD Kota Malang dapil Sukun tersebut.

Leave a Reply