UPT-MKU Hadirkan Staf Khusus KASAD, Untuk Beri Wawasan Kebangsaan di Polinema

PolitikaMalang–Sebagai agent of change, mahasiswa dituntut bukan hanya pandai tetapi juga harus memiliki pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan yang baik dalam diri mahasiswa.

Untuk itu, Unit Pelaksana
Teknis Mata Kuliah Umum (UPT-MKU) menggelar Seminar Nasional
bertajuk “Pendidikan Karakter dan Wawasan Kebangsaan di Era Industrial 4.0”.

Bertempat di Gedung Teknik Mesin lantai 8 Polinema, Malang, Rabu (28/11/2018), Polinema menghadirkan narasumber dari Staf Khusus KASAD, Mayor Jenderal Dr Markoni SH MH.

Wakil Direktur I Polinema Supriatna Adisuwignjo, ST, MT, mengatakan kondisi masyarakat saat ini sudah banyak berubah. Pengaruh globalisasi tidak bisa dihindari, dan berdampak baik dan buruk terhadap bangsa. Nilai-nilai nasionalisme sebagai sebuah bangsa diuji. “Di era revolusi industri 4.0, semakin menguji kita.

Mahasiswa dituntut beradaptasi tanpa harus menghilangkan nilai-nilai yang berlaku. Di era teknologi, semua tidak berwujud. Mahasiswa harus bisa peka dan merasa, bagaimana Anda mewujudkan karakter yang bisa memberikan kontribusi besar terhadap perusahaan, lingkungan, dan lainnya,” jelas Supriatna, dalam sambutan pembukaan seminar.

Sementara itu, dalam pemaparannya, Staf Khusus KASAD, Mayor Jenderal Dr Markoni SH MH mengatakan, Indonesia merupakan negara kepulauan yang berciri nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan haknya ditetapkan dengan UU (pasal 25A).

Mengutip pernyataan Presiden Soekarno, kekayaan Alam Indonesia suatu saat nanti akan membuat iri negara-negara di dunia. Sementara Presiden Jokowi, kaya akan sumber daya alam akan menjadi petaka buat kita. “Artinya, di setiap jaman berbeda kondisinya. Jadi kita harus waspada,” terang Markoni.

Lebih jauh Markoni memaparkan beberapa contoh karakter dan kepribadian masyarakat Indonesia dewasa ini .

Dalam 3 tahun, setidaknya terjadi 22 kasus pembakaran fasilitas kampus oleh mahasiswa. Peristiwa teror sebelum reformasi atau tugas TNI sejak 1966 hanya terjadi 2 kali bom, setelah reformasi atau tugas Polri sejak 2003 ada 41 bom. “Ada banyak konflik sosial, krisis moral, dan lainnya.

Baca Juga :   Dominate Via the internet The state of texas hold'em Research tutorial Review

Inilah gambaran Invisible Hands, yaitu mendesain bentuk opini, ujaran kebencian, ketagihan bertengkar, saling tuduh bahkan saling bunuh, yang didesain dari luar.

Mantan Panglima Besar TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo pun berkata, jika perang proxy tidak diantisipasi, maka keutuhan NKRI bisa babak belur alias tinggal nama. Jadi sekali lagi, kita harus waspada,” tukas Markoni.

Sementara itu, Kepala UPT MKU Hairus Sandy, SH, MH, mengatakan seminar Pendidikan Karakter dan Wawasan Kebangsaan di Era Industrial 4.0 bertujuan mencetak mahasiswa Polinema, tak hanya pintar, baik, rajin, namun juga berkarakter, disiplin, dan bentuk kecintaan pada NKRI. “Maksud dan tujuan seminar ini, adalah bentuk komitmen satker UPT-MKU Polinema, dalam membentuk mahasiswa Polinema yang berkarakter dan cinta tanah air atau NKRI.

Polinema dengan SDM yang luar biasa, mampu memberdayakan dan membangun Indonesia lebih maju. Terlebih di era 4.0, mampu membentengi mahasiswa dari paham-paham radikalisme dan lebih mencintai NKRI. Semoga kegiatan seminar nasional ini bermanfaat bagi kita semua,” jelas Hairus.

Senada, Ketua Panitia Abdul Halim SAg, MPdI mengatakan, animo positif dari perwakilan mahasiswa tiap jurusan terhadap materi yang diangkat. Mahasiswa diajak mengenal berita hoax sebagai perang proxy. Juga terkait akhlak dan karakter mahasiswa saat ini.

“Polinema tidak mendeteksi adanya radikalisme di dalam kampus, karena sudah kita cegah sejak dini melalui acara seperti ini. Karena tugas MKU itu termasuk mata kuliah Agama, Pancasila, dan Kewarganegaraan yang harus sinkron,” jelas Halim.(*)

Pewarta : Djoko Winahyu

Leave a Reply