Wacana “Fraksi Raksasa” DPRD Kota Malang: Efisien atau Rawan Konflik?

PolitikaMalang – Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 sudah usai. Khusus Kota Malang, terjadi perubahan signifikan dalam perolehan jumlah kursi di DPRD Kota Malang. Beberapa partai mengalami penurunan suara yang berakibat tidak bisa membentuk fraksi tersendiri karena tak mencukupi syarat jumlah kursi. Sedangkan, beberapa partai baru mulai unjuk taji dan sukses mengantarkan kader terbaiknya duduk sebagai legislator di Kota Malang.

Dua partai politik yang menyusut jumlah kursinya dan tak bisa membentuk fraksi tersendiri adalah Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Demokrat. Pada Pileg lima tahun lalu, partai berlogo matahari dan mercy ini diketahui mampu membentuk fraksi tersendiri di DPRD Kota Malang.

PAN pada Pileg 2019 lalu, hanya mampu memperoleh 3 kursi dari sebelumnya 4 kursi. Begitu pula dengan Partai Demokrat, yang juga mengalami penurunan drastis dari 5 kursi menjadi 3 kursi. Meski sukses mengantarkan salah satu kadernya, Sutiaji, menjadi Wali Kota Malang pada Pilkada tahun 2018, rupanya partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono ini justru tak mampu berjaya pada Pileg 2019 di Kota Malang.

Sementara, beberapa partai baru, seperti, Partai Persatuan Indonesia (Perindo) dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengejutkan publik Kota Malang, dengan mampu menaruh kadernya menjadi anggota dewan. Partai Nasional Demokrat (NasDem) juga sukses menambah jumlah kursi mereka dari 1 kursi menjadi 2 kursi.

Sedangkan partai besar lain, yakni PDI Perjuangan berhasil mendapatkan 12 kursi, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 7 kursi, Partai Gerindra 5 kursi, Partai Golkar 5 kursi dan paling fenomenal adalah kenaikan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dari 3 kursi menjadi 6 kursi. Dua partai politik yakni Partai Hanura dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) harus gigit jari lantaran gagal mengantarkan kadernya kembali menjadi anggota legislatif pada pileg 2019.

Wacana Membentuk Fraksi Raksasa

Perubahan peta suara di legislatif, juga berimbas pada perubahan strutktur fraksi di DPRD Kota Malang pada periode 2019 – 2024 mendatang. PDI Perjuangan, PKB, PKS, Golkar dan Gerindra diketahui sebagai partai yang mampu membentuk fraksi tersendiri di DPRD Kota Malang. Akan tetapi, PAN, Partai Demokrat, NasDem, PSI dan Perindo masih harus berkoalisi untuk membentuk fraksi. Fakta politik itulah, yang membuat wacana membentuk fraksi raksasa di DPRD Kota Malang mulai mencuat.

Baca Juga :   Cell Vent out Products Very own Grow to be Important These kinds of Days or weeks Wireless Fashionable betting house News

Ide membentuk Fraksi Raksasa pertama kali dilontarkan oleh Ketua DPD PAN Kota Malang, Pujianto beberapa waktu lalu. Kepada awak media, Pujianto, mengatakan sudah melakukan komunikasi politik dengan sejumlah pimpinan partai politil terkait dengan membentuk fraksi besar di DPRD Kota Malang.

Rencananya, PAN, Demokrat, NasDem, Perindo dan PSI akan berkoalisi menjadi satu fraksi dan membentuk kekuatan politis bersama di lembaga legislatif. Jika bergabung fraksi itu memiliki 10 kursi.

Rinciannya, PAN dengan kekuatan 3 kursi, Partai Demokrat 3 Kursi, Partai NasDem 2 kursi, Perindo dan PSI masing-masing 1 kursi. Jika digabung fraksi ini memiliki jumlah 10 kursi atau memiliki jumlah kursi lebih besar dari jumlah kursi di fraksi PKB, PKS, Gerindra, maupun Golkar.

“Sudah ada kesepakatan secara lisan, tapi hal itu masih harus dituangkan dalam pakta integritas dan kesepakata bersama,” kata Pujianto pada akhir Juli lalu.

Ia menambahkan, wacana pembentukan fraksi raksasa ini dilakukan agar lembaga legislatif bisa berperan aktif dalam membangun Kota Malang di masa mendatang. “Persamaan kita membangun Kota Malang lebih baik di masa mendatang,” tuturnya.

Partai Demokrat Diantara “Koalisi” dan “Oposisi”

Meski di tatanan Pemerintahan Daerah, irisan partai pendukung pemerintah atau sebut saja “koalisi” dan partai diluar struktur pendukung pemerintah atau “oposisi” tidak begitu kental seperti di tingkat pusat, namun hal itu cukup menjadi perhatian publik. Utamanya pada Partai Demokrat. Ya, pada Pilkada 2018 lalu, partai tersebut berkoalisi dengan Partai Golkar mengusung pasangan Sutiaji – Sofyan Edi Jarwoko, dan berhasil memenangkan Pilkada Malang.

Namun, melihat wacana pembentukan koalisi raksasa dan Partai Demokrat berada di dalamnya, maka posisi partai ini diantara dua kemungkinan, bersikap “lunak” terhadap pemerintahan Sutiaji – Sofyan Edi atau sebaliknya bersikap “kritis”.

Berkaca pada peta politik Pilkada tahun 2018 dikaitkan dengan wacana pembentukan fraksi raksasa membuat Partai Demokrat, sedikit agak kesulitan menempatkan diri. Satu fraksi dengan PAN, Nasdem dan PSI, yang pada saat Pilkada menjatuhkan rekomendasi mendukung Paslon Ya’qud Ananda Gudban – Wanedi, Partai Demokrat hanya “berkawan” dengan Perindo yang di akhir masa kampanye mengubah haluan arah politik dari mendukung Paslon HM Anton – Samsul Mahmud ke Sutiaji – Sofyan Edi Jarwoko.

Baca Juga :   Period https://contedu.ru Journey Tigers

Menjawab itu, Ketua DPC Partai Demokrat, Arief Dharmawan, bersikap tegas. Meski mengusung Sutiaji – Sofyan Edi Jarwoko dalam Pileg 2018, namun pihaknya tidak segan-segan akan mengkritisi pemerintah jika ada program yang tidak pro rakyat.

“Kita tidak bicara partai pendukung pemerintah, atau oposisi, kalau salah ya kita ingatkan kalau programnya pro rakyat kita dukung,” ujar Arief Dharmawan beberapa waktu lalu.

Fraksi Raksasa Terancam Gagal Direalisasi?

Meski sudah digemborkan sejak Juli lalu, namun realisasi membantuk fraksi raksasa di DPRD Kota Malang tidak semudah yang dibayangkan. Alasannya, partai yang bergabung cukup banyak, dan kepentingan politik masing-masing partai dimungkinkan menjadi potensi konflik di kemudian hari. Hal ini menjadi batu sandungan realisasi fraksi raksasa.

Ketua DPD Partai NasDem, Hanan Jalil, mengaku masih belum mengamini 100 persen wacana tersebut. Ia membenarkan sudah ada komunikasi terkait pembentukan fraksi raksasa, akan tetapi hal itu masih belum dituangkan dalam kesepakatan tertulis.

“Peluangnya masih 50:50 belum ada kesepakatan tertulis, masih ada banyak kemungkinan yang terjadi,” kata Hanan Jalil.

Bahkan, Partai NasDem juga tidak menutup kemungkinan bergabung dengan partai besar yang sudah memiliki fraksi seperti PDI Perjuangan, Golkar, Gerindra, PKB dan PKS.

Sekertaris DPD Fraksi PAN Kota Malang, Dito Arief Nurakhmadi, justru tidak sepakat adanya fraksi raksasa dibentuk. Menurutnya, fraksi besar itu terlalu gemuk dan rawan kepentingan politik. Bahkan, Dito menegaskan, untuk koalisi fraksi cukup dengan dua atu tiga partai saja.

“Idealnya cukup dua atau tiga partai saja. Bukan mengutamakan kuantitas, tapi mengutamakan kualitas karena ini koalisi jangka panjang,” ucap Dito.

Ia menegaskan, penolakan koalisi raksasa mempertimbangkan banyak aspek, termasuk meminimalisir risiko yang datang di kemudian hari. “Terlalu gemuk, rawan konflik. Banyak kepentingan. Jangan samakan kinerja partai dengan kinerja LSM,” tukasnya.

Baca Juga :   Showmanship Almost limitless Bucks & Girls 15 minutes Instructions

Ideal Fraksi dalam Secarik Puisi

Keberatan adanya fraksi raksasa dilontarkan tegas Sekertaris DPD PAN Kota Malang, Dito Arief Nurakhmadi. Secara gamblang, Dito yang juga anggota DPRD Kota Malang itu menyampaikan pandangan politik dalam Rapat Paripurna pada Jumat (16/8).

Dito menyampaikannya dengan bahasa sindiran melalui secarik puisi diujung pembacaan pandangan akhir Fraksi PAN terkait dengan KUAPPAS APBD Perubahan Kota Malang Tahun 2019.

Puisi yang diberi judul “Matahari Tak Lagi Sendiri” itu berbunyi

“Matahari Selalu Memberi

Matahari Selalu Menyinari

Namun, Matahari kini Tak Lagi Sendiri, karena Matahari harus Berkoalisi

Bersama dengan Merci, bisa dengan Restorasi, atau MNC… asalkan tidak dengan pencari sensasi.

Matahari tak pernah ingkar janji

Membangun koalisi sevisi, koalisi yang menepati janji

Membangun kolaborasi, bersama Sutiaji-Edi

2020 adalah masa depan, Malang bermartabat adalah Harapan

Dan…Selama masih ada matahari, yakinlah harapan tersebut akan selalu ada”

Puisi itu menyiratkan bagaimana idealnya PAN akan membentuk koalisi fraksi di DPRD Kota Malang masa mendatang. Kata “Matahari” jelas menunjuk lambang partai yang lahir dari rahim reformasi itu. PAN Kota Malang mengakui dengan hanya raihan 3 kursi, mereka tak mampu membuat fraksi sendiri sehingga harus berkoalisi, dan itu jelas terkutip dalam puisi tersebut.

Selain matahari, beberapa frasa kata juga merujuk partai dalam puisi tersebut. Merci misalnya merupakan lambang dari Partai Demokrat. Restorasi adalah slogan Partai NasDem. MNC, bisa jadi yang dimaksud adalah Perindo, karena Ketua Umum Partai tersebut merupakan bos di MNC Grup. Sedangkan, pencari sensasi bisa jadi merujuk pada PSI dalam puisi tersebut, mengingat partai lain sudah di frasakan dengan sebutan tersendiri.

Dari secarik puisi itu, PAN sangat terbuka berkoalisi fraksi dengan Demokrat dan NasDem. Bahkan membuka pintu untuk Perindo. Namun, dari puisi itu pula, PAN bersikap menolak PSI untuk menjadi kawan koalisi fraksi.

Leave a Reply