Warga Kota Malang “Terbelah” Jelang Pilkada

PolitikaMalang – Geliat Jelang Pilkada Kota Malang tahun 2018 mendatang makin memanas. Berdasarkan hasil polling yang dilakukan Litbang Politika Malang, suara warga Kota Malang ‘terbelah’. Polling yang dibuka pada 2 November lalu sampai pada 22 November, Litbang Politika Malang memberikan pertanyaan “Sebagai Warga Kota Malang, Apakah Anda Menghendaki Pemimpin Baru di Pilkada 2018 Mendatang?”. Ada tiga jawaban yang bisa dipilih masyarakat yakni “Ya”, “Tidak” dan “Tidak Tahu”.

Hasil polling yang diikuti ribuan pengakses laman Politika Malang ini menunjukkan jika 52 persen masyarakat tidak menginginkan adanya pemimpin baru atau masih percaya kepada calon petahana H. Moch Anton. Sedangkan, 44 persen masyarakat menginginkan adanya pemimpin baru, dan hanya 4 persen saja yang menjawab tidak tahu.

Direktur Litbang Politika Malang, M. Idris, mengatakan, dari hasil analisa baik dari berbagai pemberitaan media massa dan bahan lainnya, warga yang tidak menghendaki pemimpin baru atau masih percaya pada kepemimpinan H. Moch Anton dikarenakan beberapa faktor, antara lain pembangunan yang sudah dirasakan masyarakat, peningkatan layanan publik dan utamanya bidang pendidikan dan kesehatan.

“Pembangunan berbagai sarana dan prasarana sudah dirasakan masyarakat, itu bisa jadi yang membuat mereka masih percaya pada Abah Anton,” kata Idris.

Hal lain yang masih menjadi nilai plus bagi petahana adalah aktifnya Wali Kota Malang untuk langsung terjun ke masyarakat, baik melalui program ‘Sambung Rasa’ ataupun beberapa program lainnya. Hal itu membuat sebagian masyarakat masih percaya dengan kepemimpinan Anton sehingga mereka tidak menginginkan adanya pemimpin baru.

Angka 44 persen masyarakat ingin pemimpin baru, berdasarkan polling Politika Malang, menurut Idris juga sangat mengejutkan. Angka ini terbilang fantastis karena prosentase hanya berbanding tipis dengan yang menginginkan petahana tetap menjadi pemimpin.

Menurutnya, ada beberapa alasan kenapa masyarakat pemimpin baru. Pertama beberapa problem seperti polemik Pasar Pedagang Pasar Merjosari, Pasar Blimbing dan sebagainya hingga saat ini tidak dapat diselesaikan dengan baik oleh pemimpin saat ini dan kasusnya terkesan mengambang.

Baca Juga :   Wie man Spielautomaten-Spiele kostenlos spielt

Permasalahan lain seperti kemacetan, jalan rusak di beberapa titik bahkan hingga polemik toko modern, yang tak terselesaikan, menurut Idris membuat masyarakat sudah mulai melirik calon pemimpin baru di Pilkada Kota Malang nanti.

Sedangkan warga yang menjawab tidak tahu dengan prosentase 4 persen, menurut Idris adalah swing voters, meskipun jumlahnya tidak terlalu signifikan. Namun, kata dia, berbicara jarak prosesntase yang cukup tipis antara yang menginginkan kembali petahana dan pemimpin baru cukup bisa dijadikan membaca peta politik saat ini.

Selai itu, jika mengacu pada hasil polling ini, Idris menjelaskan, jika pilkada Kota Malang diikuti oleh lebih dari tiga pasang calon, maka petahana kemungkinan besar akan memenangkan pertarungan itu. “Karena kalau berdasar polling ini ceruk pemilihnya masih besar, artinya dua pasang calon nantinya harus berbagi suara untuk menggaet suara warga yang ingin pemimpin baru. Berbeda halnya jika Pilkada diikuti oleh dua calon saja, maka kemungkinan akan adanya pemimpin baru kian terbuka luas. Intinya, makin banyak calon maka akan menguntungkan petahana,” bebernya.

Membaca Gerak Petahana di Pilkada Kota Malang

Calon Petahana, H. Moch Anton cukup menjadi sorotan dalam perjalanan menuju Pilkada 2018. Sempat dikabarkan maju dari jalur perseorangan dan dipertajam dengan adanya pengumpulan KTP warga, didekati sejumlah partai politik, koalisi dengan PDI Perjuangan hingga terakhir mulai “dirayu” PKS menjadi perjalanan politik sosok yang akrab disapa Abah Anton tersebut.

Kabar Koalisi Bangjo (PDI Perjuangan – PKB) di Kota Malang yang diharapkan sinergi dengan Pilgub Jawa Timur sempat meramaikan jagat perpolitikan jelang pilkada. PDI Perjuangan sebagai partai pemenang Pemilu dan pemilik 11 kursi di DPRD Kota Malang sudah sepakat, jika berkoalisi dengan petahana, maka akan mengajukan kader internalnya sebagai bacalon wakil wali kota. Muncul beberapa nama yang digadang akan digandengkan Anton di Pilkada 2018, masing-masing Abdul Hakim, Sri Untari dan Sri Rahayu, serta beberapa tokoh yang telah mendaftar di DPC dan DPP PDI Perjuangan.

Baca Juga :   Sidak Proyek Kayutangan Heritage, Walikota Malang Minta Kemudahan Akses Warga

Seiring dengan berjalannya komunikasi politik, Koalisi Bangjo dikabarkan mengalami ‘deadlock’ dan tipis kemungkinannya. Ada beberapa faktor, pertama Anton memberikan syarat tentang pasangannya di pilkada harus dari kalangan muda atau dari zaman milenial. Kedua, kabarnya calon pasangan Anton di Pilkada harus seizin ulama. Dua hal itu yang dianggap oleh calon mitra koalisi, PDI Perjuangan cukup berat dan Anton terasa mendikte partai berlambang banteng itu.

Dalam sebuah kesempatan Ketua Bappilu DPC PDI Perjuangan, I Made Rian Diana Kartika, mengatakan jika koalisi harus dibangun atas azas saling terwakili, artinya sama-sama harus memiliki tokoh kader internal yang diusung sebagai pasangan calon. “Kalau koalisi kita menunggu arahan dari DPP. Koalisi atau maju sendiri DPP yang menentukan,” kata Made kepada Politika Malang.

Setelah desas desus Koalisi Bangjo tipis kemungkinannya, PKS mengambil peluang itu dengan mulai mendekati petahana. Berbekal tiga kursi di DPRD Kota Malang, partai itu bisa melengkapi persyaratan untuk mengajukan pasangan calon jika berkoalisi dengan PKB yang memiliki enam kursi. Jumlah kursi jika kedua partai itu berkoalisi adalah sembilan dan sesuai syarat yang diajukan oleh KPU Kota Malang.

Koalisi PKB – PKS cukup menarik adanya, karena jika melihat di beberapa daerah, poros itu sulit terbentuk karena adanya resistensi politik aliran. Bahkan, di Majalengka koalisi ini ditentang oleh sejumlah tokoh Nahdiyin karena permasalahan tersebut. Di berbagai Pilkada di beberapa daerah PKB – PKS jarang gabung dalam koalisi bersama, dan bahkan PKS akhir-akhir ini lebih cenderung berkoalisi dengan Gerindra seperti di Pilgub DKI Jakarta.

Ketua Pemenangan Pemilu DPC PKB Kota Malang, Arif Wahyudi, mengatakan, jika PKB saat ini terus menjalin komunikasi politik dengan partai lainnya seperti PDI Perjuangan, PKS hingga Demokrat. Khusus koalisi dengan PKS, Arif mengatakan jika saat ini masih ada kajian lebih lanjut baik oleh tim pilkada maupun dan NU. “Yang jelas kalau koalisi itu terjadi syarat mutlak N2 harus dari NU,” kata Arif Wahyudi.

Baca Juga :   Wie man Spielautomaten-Spiele kostenlos spielt

Menjajaki Calon Pemimpin Baru Kota Malang

Dinamika politik yang terus berkembang di Kota Malang jelang pilkada, akhirnya melambung sejumlah nama sebagai bacalon wali kota baik dari partai politik maupun yang akan maju jalur perseorangan.

Nama Politisi Cantik Ya’qud Ananda Gudban, kini menjadi penantang petahana yang patut diperhitungkan. Nanda, sapaan akrabnya hingga saat ini sudah mengantongi dukungan dari dua partai yakni PAN dan Hanura yang membentuk poros bernama Harapan.

Sepak terjang wanita yang baru saja mendapat gelar Doktor dari Universitas Brawijaya itu cukup massif. Ia aktif terjun ke kantong-kantong masyarakat untuk menyerap aspirasi warga. Posisinya sebagai anggota DPRD Kota Malang makin menguatkan apa yang dilakukannya terjun ke lapangan. Bahkan, akhir-akhir ini Nanda terus menggelorakan slogan “Ayo Noto Malang” yang di dalamnya terdapat nilai filosofis dan visi misi membangun Kota Malang masa mendatang.

Sosok lain dari partai politik yang santer dikabarkan maju dalam Pilkada adalah Ketua DPD Golkar Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko, Ketua DPC Gerindra Kota Malang Moreno Soeprapto serta Sutiaji. Satu tokoh M. Geng Wahyudi juga santer dikabarkan maju melalui jalur independen.

Leave a Reply