Jenderal Moeldoko: Kampung Wonosari Go Green, Bentuk Nyata Dari Internalisasi Pancasila

Politikamalang
Moeldoko menyapa warga. (Foto: Agus/politikamalang)

Bagikan :

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on email

Bagikan :

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on email

PolitikamalangKota Malang, Wonosari Go Green hari ini kembali kedatangan tamu pejabat negara. Kali ini Kepala Staf Kepresidenan RI Jenderal TNI (Purn.) Dr. H. Moeldoko, S.I.P yang berkesempatan hadiri mengunjungi kampung yang berlokasi di RW 19 Kelurahan Purwantoro, Kota Malang.

Usai keliling menikmati suasana kampung Wonosari Go Green, Jenderal Moeldoko mengaku sangat mengapresiasi dan menaruh rasa hormat kepada warga Wonosari yang telah mampu membangun kampung dimana di dalamnya telah terinternalisasi nilai-nilai Pancasila.

Testimoni Moeldoko setelah mengunjungi Kampung Wonosari. (Foto: Agus/politikamalang)

Menurutnya, kampung Wonosari tidak sekedar membangun fisiknya saja tapi juga membangun karakter. Dimana pada awalnya masyarakat ogah-ogahan diajak menuju konsep kampung yang bagus. Tapi dengan ketekunan Pak Bambang Irianto untuk meyakinkan warga, akhirnya perubahan itu dapat terwujud.

“Ini sangat dasyat sekali. Kalau semua wilayah di Indonesia seperti ini, maka sebenarnya tidak ada lagi yang namamya kampung tertinggal, kampung kumuh atau masyarakat miskin,” ucapnya, Rabu (23/3/2022).

Jangan lupa, hal ini juga mempunyai kontribusi yang sangat tinggi terhadap kesehatan masyarakat. Kalau ini mempunyai kontribusi terhadap kesehatan masyarakat, maka biaya anggaran BPJS akan menurun sehingga bisa dialihkan untuk subsidi yang lain.

Karena itu jika pengelolaan kampung Wonosari dapat direplikasikan kepada seluruh kampung yang ada, baik cara mengelolanya ataupun outcomenya maka bisa dikatakan Indonesia akan menjadi negara yang sangat stabil.

“Sebab tidak ada lagi persoalan-persoalan yang ada kaitannya dengan sosial, keamana dan sebagainya.
Tidak ada lagi bicara intoleransi, tidak ada lagi bicara sara, karena kampung ini dibangun atas dasar gotongroyong,” tuturnya.

Jika dilihat dari semuanya itu, lanjut Moeldoko, maka ia bisa mengatakan bahwa ini bukan hanya sebuah konsep, karena bentuknya ini sudah internalisasi.

“Kalau orang lain baru berbicara mengarus utamakan Pancasila, maka di kampung Wonosari Go Green ini sudah dalam bentuk Pancasila terinternalisasi,” tandasnya.

Moeldoko menunjukkan plakay Garuda di depan rumah warga di Kampung Pancasila. (Foto: Agus/politikamalang)

Sementara itu, dalam kunjungannya ke kampung Wonosari Go Green, Jenderal Moeldoko juga memberikan bantuan senilai Rp 15 juta. Menurutnya, bantuan tersebut diberikannya secara spontan karena melihat konsep yang dibuat Bambang Irianto untuk membangun Taman Garuda.

“Pak Bambang punya konsep yang bagus bagaimana ia akan membangun taman Garuda yang mana di dalamnya akan ada tempat Saung Garuda, Saung Literasi Pancasila, Warung Kejujuran termasuk pengembangan urban farming,” terangnya.

“Saya tidak punya tujuan apa-apa, saya hanya ingin meringankan agar apa yang diingin bisa terwujud,” tandasnya.

Sementara itu, Pembina Lingkungan Tingkat Nasional, Ir. Bambang Irianto berharap apa yang sudah ia kerjakan di kampung Wonosari Go Green ini bisa dibantu pemerintah. Dalam artian untuk dapat mereplikasi dan untuk mempercepat bahwa membangun bangsa bisa dimulai dari yang kecil dari kampung-kampung.

“Itu harapan saya. Karena KSP tentu punya koordinasi dengan berbagai kementerian,” akunya.

Lebih lanjut Bambang menjelaskan, pada saat ia membangun kampung Wonosari itu modal dasarnya adalah gotongroyong. Karena itu ia tidak pernah berbicara tentang Pancasila, tapi praktek-praktek membangun kampung selalu ia terapkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Moeldoko mengunjungi taman Garuda. (Foto: Agus/politikamalang)

“Dengan langkah nyata dan berdaya guna bermanfaat bagi mereka, sebenarnya dia sudah terinternalisasi kehidupannya dengan nilai-nilai Pancasila,” ucap Bambang.

Contohnya di taman Garuda itu akan dibangun urban farming ketahanan pangan yang langsung bisa dimanfaatkan oleh warga. Tapi melalui proses urban farming itulah nilai-nilai Pancasila itu saya masukkan. Sehingga orang belajar Pancasila bisa melalui ketahanan pangan.

“Bukan sekedar jargon-jargon atau kalimat kata-kata saja, tapi wujud nyata. Gotongroyong disitu ada, jadi ibaratnya menuju sila ke 5 itu sedikit-sedikit sudah mulai kelihatan. Itu strategi saya meng-internalisasikan Pancasila dalam kehidupan masyarakat,” pungkasnya. (Agus N)

Bagikan :

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on email

Disarankan

Regional

Pilihan

Informasi

%d blogger menyukai ini: