Politikamalang – Kota Malang tengah menghadapi persoalan serius terkait semakin langkanya pasokan sapi potong hidup. Kondisi ini membuat harga daging sapi di pasaran merangkak naik hingga Rp10.000 per kilogram dalam satu bulan terakhir, menjadi Rp 140.000 kg. Dampaknya bukan hanya dirasakan konsumen, tetapi juga para pelaku usaha pemotongan hewan.
Ketua HPMI Seksi Jagal Kota Malang, H. Edy Abdurahman mengungkapkan, para jagal kini benar-benar “menjerit” karena kenaikan harga sapi hidup yang mencapai 10 sampai 15 persen dibanding bulan sebelumnya.
“Dengan kenaikan harga sapi hidup seperti ini, banyak jagal yang mengeluh merugi. Margin usaha semakin tipis, sementara kebutuhan pasar harus tetap dipenuhi,” ujarnya.
Menanggapi kondisi ini, Anggota komisi B DPRD Kota Malang sekaligus Wakil Ketua Fraksi PKS, Dr. H. Indra Permana, SE, MM, menyampaikan keprihatinannya. Ia menilai bahwa situasi tersebut membutuhkan intervensi cepat dan kebijakan yang berpihak pada seluruh lapisan — baik konsumen maupun pelaku usaha.
Dalam pernyataannya, Dr. Indra tetap mengambil posisi yang tenang, solutif, dan mengedepankan kepentingan masyarakat.
“Keluhan para jagal harus kita dengar sebagai alarm bersama. Ketika suplai sapi hidup menurun dan harga naik, dampaknya berlapis. Pemkot perlu segera hadir agar beban masyarakat dan para pelaku usaha tidak semakin berat,” tegasnya dengan nada lembut namun penuh ketegasan.

Untuk meredam dampak dan mencegah gejolak harga lebih lanjut, Dr. Indra menawarkan sejumlah langkah solutif:
- Membangun kemitraan dan komunikasi intensif dengan daerah-daerah penghasil sapi* untuk memastikan kelancaran pasokan ke Kota Malang.
- Menggerakkan BUMD Tunas* untuk mengambil peran intervensi harga melalui penguatan cadangan pangan dan distribusi.
- Mengawasi rantai distribusi secara ketat*, terutama guna mencegah potensi penimbunan atau permainan harga yang merugikan jagal dan masyarakat.
- Memberikan ruang dialog rutin antara pemerintah dan pelaku usaha jagal*, agar setiap kendala bisa direspons lebih cepat dan berbasis data lapangan.
- Mendorong pengembangan sentra peternakan lokal, agar dalam jangka panjang Kota Malang memiliki ketahanan pasokan yang lebih mandiri.
Dr. Indra memastikan bahwa dirinya dan DPRD Kota Malang siap menjadi jembatan dialog serta pendukung kebijakan yang berpihak pada stabilitas harga dan kesejahteraan masyarakat.
“Saya hadir bukan hanya untuk mengkritik, tapi untuk mencari jalan keluar bersama. Kota ini harus aman dari gejolak harga pangan, dan para jagal harus tetap bisa bekerja dengan tenang,” terangnya.
Dengan pendekatan yang humanis namun tetap tegas, Dr. H. Indra Permana kembali menunjukkan karakter dirinya sebagai pemimpin yang solutif, bijak, dan tidak pernah lepas dari denyut kebutuhan masyarakat Kota Malang.



