Politikamalang.com – Sudah satu Abad lamanya perjalanan Nahdlatul Ulama (NU) dari sejak awal berdiri hingga saat ini, yakni sejak 31 Januari 1926 hingga 31 Januari 2026.
Selama masa satu Abad ini juga, menjadi titik balik bagaimana Generasi muda saat ini sebagai generasi penerus NU mulai menata ulang NU.
Tema diskusi ini berkaitan dengan Refleksi Satu Abad NU yaitu “Quo Vadis Generasi Muda NU” yang maknanya Mau dibawa kemana generasi muda NU.
Moderator diskusi dipercayakan kepada Yatimul Ainun yang saat ini sebagai Pemred Times Indonesia dan juga Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Jawa Timur periode 2024-2028.
Narasumber diskusi antara lain yaitu Fauzan Alfas sebagai penulis buku “Napak Tilas Menjelang Satu Abad NU”, Gus Fathul Yasin selaku Sekretaris PCNU Kota Batu, dan Dr. Moh. Muzakki M.Si. selaku pengamat sosial politik dari Universitas Brawijaya Malang.
Acara ini digelar oleh Forum Pemuda Nahdliyin Malang Raya pada Minggu malam (25/1/2026) dan dibentuk sebagai ruang dialog bagi generasi muda untuk memandang NU, tidak hanya sebagai organisasi struktural namun juga secara kultural di masyarakat.
M. Anas Muttaqin dalam sambutannya, mengatakan “Forum yang dilaksanakan saat ini sebagai bagian dari rangkaian dalam menyambut peringatan Harlah Satu Abad NU”.
Pelaksanaan diskusi ini dibuat dengan bentuk forum kultural agar kita bisa mempertemukan berbagai Generasi Muda Nahdliyin bersama para tokoh NU yang ada di Malang Raya.
“Ini forum kultural. Tidak ada ketua, tidak ada anggota, tidak ada senior atau junior. Semua setara. Kami ingin menyediakan ruang diskusi bagi anak-anak muda NU yang selama ini telah berkiprah di berbagai sektor, mulai dari aktivis organisasi, jurnalis, akademisi, politisi, hingga birokrasi,” ujar Anas menyampaikan.
Menurut Anas, keberagaman latar belakang pemuda Nahdliyin justru menjadi kekuatan untuk memperkaya perspektif dalam membaca arah masa depan NU. Pasalnya, banyak dari mereka yang aktif di bidang politik, media, pemerintahan, dan pendidikan.
Oleh karena itu, diskusi publik selain sebagai bentuk dari sebagai peringatan secara simbolik Satu Abad NU, juga sebagai bentuk momentum evaluasi dan refleksi arah gerak generasi muda Nahdliyin ke depan.
“Sekaligus menjadi ruang refleksi agar pemuda NU tetap memiliki kompas moral dan ideologis sebagai kader Nahdlatul Ulama,” ujar Anas.
Ia kemudian menegaskan bahwa generasi muda NU membutuhkan ruang dialog yang jujur, terbuka, dan inklusif agar tidak menjauh secara tradisi maupun yang ada di pesantren.
“Kita membutuhkan kritik dan gagasan segar tentang bagaimana generasi NU melangkah ke depan, menjadi generasi yang modern tanpa kehilangan identitas,” tandasnya.
Di satu sisi, pengamat sosial politik Universitas Brawijaya, Dr. Muzakki M.Si., mengatakan bahwa NU sejak awal dibentuk oleh gagasan besar dan keberanian para tokohnya dalam mengambil sikap pada berbagai fase sejarah Indonesia.
“Jika ingin menjawab ke mana arah generasi muda NU, maka ada tiga agenda besar yang harus terus diperjuangkan, yakni reorientasi arah pergerakan, refleksi ulang arah perjuangan, dan regenerasi kepemimpinan,” kata Muzakki.
Muzakki juga menyoroti potensi demografi NU yang sangat besar. Sekitar 70 persen penduduk Indonesia berada pada usia produktif, yang mayoritas didominasi oleh generasi Z dan milenial, dan sebagian besar merupakan bagian dari keluarga besar NU.
“Potensi ini harus dibicarakan dan dipikirkan secara serius karena mereka akan menentukan wajah NU ke depan. Tidak masalah jika kader NU menjadi diaspora di berbagai bidang. NU harus menjadi rumah besar bagi siapa pun,” tuturnya.

Pada sesi akhir, Gus Yasin sapaan Fathul Yasin mengatakan saat ini lembaga sebagai instrumen kepengurusan. Dan apabila masih ada yang belum efektif, itu hanyalah persoalan bagaimana lembaga tersebut mengorganisir sebuah sistem.
Pada era sekarang ini, bagaimana NU mampu berkomunikasi dengan baik Bersama para generasi. Terbukti tidak ada satu elemen pun yang tidak terwadahi.
“Saat ini, segala bentuk organisasi atau perkumpulan apapun sedang dalam masa untuk beradaptasi di zaman yang serba cepat dan canggih”, pungkas Gus Yasin.



