Share

Pemerintah Lakukan Program Intervensi dalam Menjaga Stabilitas Harga Bahan Pokok di Wilayah Jatim

Bulog bersama Tim Satgas Pangan sidak di salah satu pasar tradisional. (Ist.)

Share

Politikamalang.com – Mengingat saat ini sedang memasuki musim kemarau yang berakibat pada penurunan pasokan hasil pertanian terutama komoditas beras. Namun, hal itu masih belum begitu terasa dampaknya khususnya di wilayah Jawa Timur.

Berbagai program intervensi pemerintah seperti Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), Bantuan Pangan (Banpang), serta distribusi Minyakita dinilai memberikan kontribusi signifikan dalam menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.

Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kanwil Jawa Timur, Langgeng Wisnu Adinugroho, mengatakan bahwa komoditas beras menjadi salah satu bahan pokok yang mendapat perhatian serius pemerintah seiring mulai berkurangnya masa panen di sejumlah daerah.

“Untuk menjaga stabilitas harga beras, pemerintah melalui Bulog terus menggelontorkan beras SPHP ke pasar. Hingga saat ini, realisasi penyaluran SPHP di Jawa Timur telah mencapai 65.648 ton atau sekitar 66 persen dari target sebesar 98.767 ton,” ucapnya, Minggu (7/6/2026).

Ia menjelaskan, harga jual beras SPHP dari gudang Bulog ditetapkan sebesar Rp11.000 per kilogram, sedangkan harga jual maksimal kepada konsumen oleh pedagang sebesar Rp12.500 per kilogram.

Menurutnya, capaian tersebut merupakan realisasi penyaluran SPHP tertinggi kedua secara nasional. Program ini diharapkan mampu menjaga harga beras medium tetap stabil dan tidak melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp13.500 per kilogram.

Selain memberikan program SPHP, Bulog bersama pemerintah juga tengah menyalurkan Bantuan Pangan kepada masyarakat penerima manfaat di seluruh wilayah Jawa Timur.

Sejumlah 5.638.478 Penerima Bantuan Pangan (PBP) telah berhasil disalurkan melalui program tersebut. Dan, setiap penerima memperoleh 20 kilogram beras dan empat liter minyak goreng.

Langgeng berharap bantuan ini mampu membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga penerima selama beberapa minggu sekaligus mengurangi tekanan permintaan beras dan minyak goreng di pasar.

“Alokasi penyaluran beras di bulan Februari-Maret yang berhasil disalurkan mencapai 112.769 ton dengan kualitas medium. Sementara minyak goreng yang didistribusikan mencapai sekitar 22,5 juta liter,” ungkapnya.

Di sisi lain, penyaluran Minyakita juga terus dilakukan melalui pasar rakyat maupun kegiatan pemantauan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP).

Selama periode April hingga Juni 2026, Bulog Jawa Timur telah menyalurkan sebanyak 2.239.405 liter Minyakita, dengan sekitar 64 persen distribusi dilakukan melalui pasar rakyat.

Berdasarkan hasil pemantauan Tim Satgas Pangan Polda Jawa Timur bersama Perum Bulog Kanwil Jawa Timur, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surabaya di Pasar Soponyono dan Pasar Wonokromo, Minggu (7/6/2026), harga beras medium tercatat berada pada kisaran Rp12.000 per kilogram atau masih di bawah HET sebesar Rp13.500 per kilogram.

Sementara itu, harga beras premium terpantau berada di angka Rp14.900 per kilogram, sesuai dengan ketentuan HET yang berlaku.

Untuk minyak goreng merek Minyakita, harga jual di kedua pasar tersebut juga masih sesuai HET, yakni Rp15.700 per liter.

Meski begitu, sejumlah pedagang masih berharap ketersediaan Minyakita dapat ditingkatkan lagi. Apalagi saat ini permintaan masyarakat terhadap kebutuhan Minyakita semakin meningkat.

Langgeng menjelaskan bahwa alokasi Domestic Market Obligation (DMO) Minyakita bagi BUMN pangan seperti Bulog, ID Food, dan Agrinas Palma hanya sebesar 35 persen, sedangkan 65 persen sisanya disalurkan oleh pihak swasta.

Ia juga mengungkapkan bahwa berdasarkan perkembangan terkini, penyumbang inflasi terbesar masih berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, dengan komoditas cabai rawit menjadi penyumbang utama, disusul oleh beras.

Karena itu, Langgeng berharap berbagai program pemerintah yang saat ini berjalan dapat terus menjaga ketersediaan pasokan pangan, stabilitas harga beras dan minyak goreng, serta mempertahankan daya beli masyarakat.

“Program-program pemerintah yang terus dijalankan ini diharapkan mampu menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga pangan, khususnya beras dan minyak goreng, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga dan inflasi dapat terkendali,” pungkasnya.