BROMO, Politikamalang.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) menambah satu armada helikopter water bombing untuk mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo yang telah berlangsung selama lebih dari seminggu.
Langkah tersebut diambil setelah dilakukan pemantauan udara dan evaluasi lanjutan terhadap titik-titik yang masih berpotensi memicu kebakaran.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Jatim Adhy Karyono, mengatakan, Pemprov Jatim memperkuat operasi pemadaman dengan penambahan satu unit armada water bombing.
“Yang tadinya dari BNPB ada dua pesawat, satu Super Puma dan satu helikopter Airbus, kemudian Pemerintah Provinsi menambahkan dengan menyewa satu helikopter Airbus,” ungkap Adhy, Senin (10/8/2026).

Menurutnya, dua helikopter Airbus yang sebelumnya berada di Lanud Abdulrachman Saleh kini ditempatkan di kawasan Ranu Pani Lumajang untuk mempercepat proses pengisian bahan bakar dan meningkatkan frekuensi water bombing.
“Proses ini akan mempercepat dan meningkatkan frekuensi water bombing itu. Yang tadinya terkendala cuaca kurang mendukung ketika harus ke Abdulrachman Saleh untuk melakukan penerbangan, sekarang tidak ada kendala itu,” lanjutnya.
Adhy menyebut operasi water bombing akan terus dilakukan selama kondisi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru masih memungkinkan, terutama jika masih ditemukan kepulan asap maupun titik api.
Selain pemadaman dari udara, Pemprov Jatim juga memperkuat penanganan dari darat dengan mengerahkan armada pemadam kebakaran dari sejumlah daerah, termasuk Surabaya, Probolinggo, dan Pasuruan.
“Untuk water bombing, walaupun tidak ada api pun, kita lakukan pembasahan supaya tidak terjadi lagi pemicu kebakaran,” lanjut Adhy.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jatim Evy Afianasari mengatakan, kebakaran Bromo menjadi catatan penting terkait perlunya memperkuat penanganan pada tahap awal.
Menurut Evy, kondisi angin yang kencang membuat membuat proses pemadaman menjadi lebih sulit dan menyebabkan api cepat menyebar.Ia lalu menjelaskan, pemerintah masih menghitung dampak kebakaran terhadap sektor industri pariwisata.
Perhitungan tersebut belum dapat disampaikan karena pihak TNBTS masih berfokus pada proses pemadaman.
“Memang kerugian berada pada industri pariwisata. Untuk perhitungannya berapa, kami masih dalam tahap perhitungan karena pihak TNBTS pun masih belum mau klarifikasi atau konfirmasi terkait hal itu,” katanya.
Untuk jangka panjang, Evy menyebut masih diperlukan pemulihan kawasan sekaligus penguatan pencegahan kebakaran.
Salah satu usulan yang akan disampaikan yakni memperketat larangan membawa rokok, termasuk rokok elektronik, ke kawasan wisata alam yang memiliki potensi kebakaran.
“Untuk ke depannya, kami akan memberlakukan hal-hal seperti itu, khususnya di wisata-wisata alam yang kecenderungan bisa menyebabkan kebakaran seperti ini,” tutupnya.
Kronologi Singkat Kebakaran Hutan dan Lahan di Kawasan Bromo
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kian meluas. Data TNBTS menyebut, karhutla melahap area 176 hektar, dan titik api pertama kali berada di Blok Bantengan, Senin (3/8/26) pukul 17.00.

Ratusan personel yang terdiri atas petugas Balai Besar TNBTS dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta relawan dikerahkan untuk membantu melakukan proses pemadaman.
Upaya pemadaman dan penanganan kebakaran menggunakan peralatan pemukul api atau gepyok dan alat semprot (sprayer). Dan juga dikerahkan satu unit mobil pemadam kebakaran.
TNBTS putuskan menutup total seluruh akses wisata ke Gunung Bromo sejak Minggu (9/8/26). Sebelumnya, penutupan hanya dua pintu masuk, yakni, Jemplang di Kabupaten Malang dan Senduro, Lumajang.
Sedangkan akses dari Cemoro Lawang, Probolinggo dan Wonokitri Pasuruan masih terbuka.Rudijanta Tjahja Nugraha, Kepala Balai Besar TNBTS, menduga kebakaran karena faktor manusia, bukan alam.
Pasalnya, awal titik api berada di Blok Bantengan, merupakan jalur tradisional perlintasan warga yang menghubungkan Desa Argosari-Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.
“Nah, kemungkinan saat melintas malam hari saat udara dingin membuat perapian. Mungkin lupa mematikan sehingga menjadi pemicu kebakaran,” jelasnya.
Menurutnya, tidak ada unsur kesengajaan dalam karhutla kali ini tetapi murni faktor kelalaian manusia. Karhutla di TNBTS berdampak langsung terhadap aktivitas wisata gunung api Gunung Bromo.



