Politikamalang – Kekhawatiran terhadap krisis moral di tengah masyarakat kembali mencuat, terutama menjelang perayaan HUT Kemerdekaan RI pada Agustus. Hal ini disampaikan nggota DPRD Kota Malang, Arief Wahyudi saat Serap Aspirasi (reses) dengan warga Bareng di Pasar Bareng, Rabu malam (6/8/2025).
Karena itu Arief mengingatkan agar aparat kelurahan, RT, RW, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas memperketat pengawasan terhadap aktivitas warga. Khususnya yang berpotensi disusupi penyalahgunaan minuman keras (miras) dan narkoba.
“Krisis moral bnayak terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Maka dari itu, pendidikan sejak dini di tengah masyarakat harus benar-benar dikuatkan,” tegasnya.

Arief menyoroti fenomena kegiatan Agustusan yang kerap disisipi aktivitas negatif seperti pesta miras. Ia mengungkapkan adanya laporan kejadian mencurigakan, termasuk transaksi mencurigakan yang terjadi bahkan di sekitar rumah pejabat Kota Malang.
“Ada anak-anak yang berhenti di depan rumah salah satu pejabat Kota Malang, mengambil paket tertentu. Itu harus diwaspadai. Jangan sampai aparat kampung lengah,” katanya.
Pemerintah diminta tidak hanya fokus pada penindakan, tetapi juga memberikan kesadaran kolektif kepada masyarakat. Tentang bahaya alkohol, narkoba, dan perilaku menyimpang lainnya.
“Gerakan pemerintah tidak akan maksimal tanpa kesadaran dari masyarakat. Maka pendidikan dini menjadi kunci. Anak-anak perlu dibekali nilai moral sejak kecil,” ujarnya.
Selain itu, perhatian juga harus diberikan kepada guru-guru ngaji di kampung yang berperan besar dalam membentuk karakter anak-anak. Ia menilai, banyak anak di Kota Malang belajar agama tidak melalui pondok pesantren, melainkan mengaji di rumah-rumah.
“Pondok pesantren kita di Kota Malang tidak banyak. Jadi anak-anak kebanyakan sekolah umum, lalu ngaji di rumah,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan bahwa aturan terkait toko minuman keras sebenarnya sudah ada. Namun, perlu pengawasan dan pemberdayaan yang lebih kuat agar tidak ada celah bagi penyebaran miras di masyarakat.



