Politikamalang.com – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) saat ini menjalin promosi pariwisata Indonesia di pasar India melalui kegiatan Sales Mission yang akan berlangsung di dua kota di India yakni Ahmedabad dan Hyderabad pada Juni 2026.
Kegiatan promosi pariwisata ini berlangsung di Radisson Blu Hotel Ahmedabad pada 9 Juni 2026 dan Radisson Blu Plaza Hotel Hyderabad Banjara Hills pada 11 Juni 2026.
Sebanyak 20 pelaku industri pariwisata Indonesia akan bertemu dengan sekitar 160 buyers potensial dari kedua kota tersebut untuk memperluas jejaring bisnis dan meningkatkan penjualan produk wisata Indonesia.
Beberapa seller yang turut berpartisipasi antara lain Pacto DMC sebagai penyedia layanan destination management dan MICE berskala internasional, serta Bintan Resorts yang mengembangkan kawasan pariwisata terpadu berbasis resor kelas atas, golf, dan wisata rekreasi di bagian utara Pulau Bintan.
Kementerian Pariwisata menargetkan kunjungan wisatawan India ke Indonesia pada 2026 mencapai 750 ribu hingga 820 ribu wisatawan.
Pada pelaksanaan Sales Mission di Ahmedabad, Erny Wahyuni, Sekretaris I Sosial Budaya di KBRI New Delhi, memperkenalkan Indonesia sebagai destinasi wedding tourism unggulan bagi pasar Gujarat yang menawarkan keramahtamahan, fasilitas berkelas dunia, serta kemampuan mengakomodasi kebutuhan wisatawan India.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini, di Jakarta, Jumat (12/6/2026), mengatakan India menjadi salah satu pasar prioritas yang terus menunjukkan pertumbuhan signifikan sebagai sumber wisatawan mancanegara.

Menurutnya, pertumbuhan di kalangan kelas menengah dan premium daru negara tersebut menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk memperluas pasar wisata yang berkualitas.
“Pelaksanaan sales mission ini difokuskan untuk memperkuat saluran distribusi produk pariwisata Indonesia di pasar India melalui perluasan jejaring business-to-business (B2B) antara seller Indonesia dan buyers potensial India. Kami ingin memastikan produk pariwisata Indonesia semakin mudah dipasarkan oleh pelaku industri India sesuai dengan karakter dan kebutuhan pasar mereka,” ujar Ni Made Ayu Marthini.
Ia lalu menjelaskan, Ahmedabad dan Hyderabad dipilih karena memiliki kekuatan ekonomi yang besar serta populasi wisatawan dengan kemampuan daya beli menengah atas hingga premium yang semakin berkembang.
Ahmedabad yang berada di Negara Bagian Gujarat memiliki nilai produk domestik bruto (GDP) sekitar 300 miliar dolar AS, sedangkan Hyderabad di Negara Bagian Telangana memiliki GDP sekitar 180 miliar dolar AS.
Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Mancanegara I, Dedi Ahmad Kurnia, menambahkan kedua kota tersebut memiliki basis masyarakat affluent dan kelas menengah atas yang terus bertumbuh, dengan minat tinggi terhadap perjalanan internasional, termasuk untuk segmen leisure, wedding tourism, dan luxury experience.
“Beberapa hal ini menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan penjualan paket wisata yang memiliki nilai tambah lebih tinggi,” ungkap Dedi.
Pelaksanaan Sales Mission ini merupakan bagian dari strategi Kementerian Pariwisata dalam mendukung pencapaian target kunjungan wisatawan mancanegara tahun 2026 sebesar 16 juta hingga 17,6 juta kunjungan.
Di tengah dinamika geopolitik global, India dinilai sebagai pasar yang tetap tangguh karena masyarakatnya tidak menahan aktivitas perjalanan ke luar negeri, melainkan cenderung mengalihkan perjalanan ke destinasi yang aman dan menawarkan pengalaman wisata berkualitas.
Selain mempromosikan Bali sebagai destinasi favorit wisatawan India, para pelaku industri juga akan menawarkan berbagai paket wisata di destinasi lain, seperti Labuan Bajo, Yogyakarta, dan Bintan.
Upaya ini sejalan dengan visi Kementerian Pariwisata untuk mendorong pengembangan pariwisata berkualitas melalui produk wisata bernilai ekonomi tinggi sekaligus memperluas persebaran manfaat pariwisata ke berbagai daerah.
Kementerian Pariwisata berharap Sales Mission ini dapat meningkatkan penjualan paket wisata Indonesia di pasar India, memperluas jaringan distribusi industri pariwisata nasional, serta memperkuat kolaborasi business-to-business antara pelaku industri kedua negara untuk mendorong pertumbuhan pariwisata Indonesia yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.



