Politikamalang – Viral promosi minuman beralkohol oleh influencer lokal King Abdi menuai reaksi keras dari berbagai kalangan. Aksi promosi tersebut dilakukan secara terbuka dan terang-terangan di kawasan strategis yang dekat dengan lingkungan pendidikan.
Salah satu yang angkat bicara dengan nada tegas adalah Dr. H. Indra Permana, S.E., M.M, anggota komisi B DPRD Kota Malang dan wakil Ketua Fraksi PKS sekaligus pengusaha dan pemerhati pendidikan.
Dalam pernyataannya, Kaji Indra menilai bahwa tindakan promosi tersebut bukan hanya tidak etis, tapi juga membahayakan branding jangka panjang Kota Malang sebagai Kota Pelajar.
“Saya tidak anti terhadap konten kreatif, tapi jika konten itu menggerus identitas kota, apalagi dilakukan di dekat kawasan pendidikan, maka saya wajib bicara. Ini bukan lagi soal selera, tapi soal masa depan kota,” tegas Indra dalam keterangannya.
Terlebih, Kota Malang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan nasional, rumah bagi ratusan ribu pelajar dan mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia. Predikat “Kota Pelajar” bukan sekadar julukan, tetapi telah menjadi kekuatan utama bagi sektor ekonomi lokal.
Namun jika konten-konten viral seperti ini dibiarkan, menurut Indra, maka perlahan narasi kota bisa berubah.
“Kalau hari ini narasinya bergeser jadi ‘Malang kota party dan minol’, tunggu saja, lima tahun ke depan bisa-bisa para orang tua memilih kota lain untuk menyekolahkan anaknya. Ini efek domino yang sangat serius,” jelasnya.
Kaji Indra juga menyoroti dampak ekonomi yang jarang disadari masyarakat umum. Menurutnya, turunnya jumlah pelajar dari luar kota bisa memukul telak sektor-sektor mikro di Malang.
“Kos-kosan bisa kosong, warung makan mahasiswa bisa merugi, laundry sepi, rental motor kolaps, transportasi online kehilangan pelanggan. Ini bukan ketakutan kosong, ini sudah terjadi di kota-kota yang brandingnya tergeser,” tegasnya
Indra mendesak Pemerintah Kota Malang untuk tidak membiarkan promosi minuman keras dilakukan secara terbuka, apalagi di lingkungan pendidikan.
“Pemkot harus hadir. Penegakan aturan harus adil dan konsisten. Jangan sampai hanya karena ingin ‘gaul’ dan ‘viral’, kita mengorbankan nama besar Kota Malang,” imbuhnya.
Kepada para influencer, Kaji Indra memberikan pesan lugas namun membangun: gunakan pengaruh untuk mendidik dan mengangkat martabat kota.
“Kalau bisa bikin warung UMKM jadi viral, kenapa harus pilih konten minuman keras? Followers itu bukan angka, tapi amanah. Kita ini lagi jaga masa depan, bukan cari like sesaat,” ucapnya.
Indra mengajak semua pihak, pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, kampus, hingga komunitas digital, untuk kembali memperkuat identitas Malang sebagai kota ramah pendidikan dan masa depan.
“Kalau branding kota ini rusak, maka yang rugi bukan cuma Pemkot. Tapi seluruh warga, semua pelaku ekonomi, bahkan anak-anak kita sendiri. Jangan tunggu menyesal nanti,” pungkasnya.



