Share

Picture of M. Fahrisuddin

M. Fahrisuddin

Pengusaha, penulis berita dan blogger.

Kisah Inspiratif Citra Ayuna: Tinggalkan Perbankan, Sukses Jadi Ratu Souvenir & Properti Malang

Citra Ayuna Agustin, sewaktu mengikuti gathering pengusaha kost, disamping sebagai pengurus Komunitas Kost Malang Raya dan juga pengusaha souvenir. (Doc. Aris)

Share

POLITIKAMALANG.COM – Meninggalkan karier yang telah dibangun selama lebih dari satu dekade bukanlah menjadi keputusan yang mudah dan sederhana untuk diambil.

Namun, bagi Citra Ayuna Agustin, perubahan tersebut justru menjadi pintu masuk untuk membangun fase baru dalam perjalanan profesionalnya.

Setelah bertahun-tahun berkecimpung di dunia perbankan, Citra kini memilih mengalihkan fokusnya sebagai pelaku usaha.

Sejumlah bisnis yang sebelumnya telah dirintis di Malang mulai mendapat perhatian lebih besar, di antaranya Desouvenir Malang yang bergerak di bidang souvenir, Deserra dengan konsep seserahan premium dan personal, serta Deswans, brand hunian kos yang dikembangkan di sektor properti.

Produk souvenir dari Desouvenir Malang.
Berikan kesan tak terlupakan di hari bahagiamu dengan souvenir elegan dan fungsional.”

Keputusan tersebut bukan semata-mata meninggalkan dunia perbankan. Pengalaman panjang sebagai profesional di sektor jasa keuangan justru menjadi modal penting yang kini dibawa Citra ke dunia bisnis.

Mulai dari memahami karakter konsumen, menjaga kualitas pelayanan, mengelola keuangan, membaca peluang, hingga membangun relasi menjadi sejumlah pengalaman yang menurutnya masih sangat relevan ketika diterapkan dalam mengelola usaha.

“Dunia perbankan memberikan banyak pengalaman dan pembelajaran bagi saya. Ketika akhirnya memutuskan fokus ke usaha, banyak hal yang saya dapatkan selama bekerja ternyata bisa saya terapkan dalam menjalankan bisnis,” ujar Citra ketika ditemui di tempat usahanya, Sabtu (12/09/2026).

Dari Perbankan Beralih ke Dunia Usaha

Peralihan profesi Citra menunjukkan bagaimana pengalaman di sektor perbankan dapat menjadi fondasi ketika seseorang memasuki dunia entrepreneur.

Selama bekerja di perbankan, ia terbiasa berhadapan dengan berbagai karakter nasabah dan kebutuhan yang berbeda.

“Proses packing pesanan souvenir skala besar. Kualitas dan ketelitian selalu jadi prioritas utama!”

Pengalaman tersebut kemudian membentuk cara pandangnya dalam memberikan pelayanan kepada konsumen.

Bagi Citra, bisnis tidak hanya berbicara mengenai produk dan angka penjualan. Kepercayaan pelanggan menjadi bagian penting yang harus dibangun dan dipertahankan.

Prinsip tersebut kini diterapkannya dalam sejumlah bisnis yang dijalankan.

Salah satu yang terus dikembangkan adalah Desouvenir Malang.

Usaha ini menyasar berbagai kebutuhan souvenir, mulai dari pernikahan, perusahaan dan instansi, hingga kebutuhan haji dan umrah.

Pasar souvenir sendiri dinilai memiliki karakter yang dinamis. Selera konsumen terus berubah, sementara kebutuhan terhadap produk yang lebih personal membuat pelaku usaha dituntut tidak berhenti berinovasi.

Konsumen kini tidak hanya mencari barang yang memiliki fungsi. Desain, tampilan, personalisasi, hingga konsep kemasan juga menjadi pertimbangan.

Kondisi tersebut membuat Desouvenir tidak cukup hanya mengandalkan produk yang sudah ada.

Pengembangan pilihan produk dan packaging terus dilakukan agar dapat menyesuaikan dengan kebutuhan pelanggan.

Deserra’ Hadir dengan Konsep Seserahan Premium

Selain souvenir, Citra juga mengembangkan Deserra, lini usaha yang bergerak pada kebutuhan seserahan.

Deserra turut dikembangkan dengan pendekatan premium dan personal. Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya Citra menghadirkan produk yang tidak sekadar memenuhi kebutuhan acara, tetapi juga memiliki nilai estetika dan karakter sesuai keinginan konsumen.

Bagi Citra, setiap bidang usaha memiliki tantangan tersendiri. Bisnis yang berkaitan dengan kebutuhan pernikahan, misalnya, menuntut kreativitas sekaligus kemampuan membaca tren.

Hal itulah yang membuat dirinya memilih untuk terus belajar dan melakukan evaluasi terhadap setiap lini usaha yang dijalankan.

Pengalaman Perbankan Bertemu Bisnis Kos

Di luar bisnis souvenir dan seserahan, Citra juga mulai serius mengembangkan Deswans, sebuah brand hunian kos dengan beebagai cabang di Malang Raya.

Bisnis tersebut dikembangkan secara bertahap dengan memperhatikan aspek kenyamanan penghuni, fasilitas, serta kebutuhan pasar.

Ada cerita menarik di balik keterkaitan Citra dengan bisnis indekos.

Dunia tersebut sebenarnya sudah pernah bersinggungan dengan pengalaman profesionalnya ketika masih bekerja di perbankan.

Saat itu, ia pernah terlibat dalam sosialisasi layanan Smart Billing kepada pelaku usaha kos.

Kini, pengalaman tersebut menemukan konteks baru. Jika sebelumnya ia bersinggungan dengan bisnis kos dalam kapasitas profesional di sektor perbankan, saat ini ia menjalankannya secara langsung sebagai pelaku usaha.

“Setiap bisnis mempunyai tantangan yang berbeda. Di kos, misalnya, kita harus memahami kebutuhan penghuni. Di souvenir, kita harus terus melihat tren dan kreativitas produk. Jadi saya banyak belajar dari masing-masing usaha,” katanya.

Tidak Mengejar Ekspansi secara Agresif

Mengelola beberapa bidang usaha sekaligus tidak membuat Citra memilih melakukan ekspansi secara agresif.

Sebaliknya, ia ingin setiap bisnis tumbuh secara bertahap, terukur, dan memiliki fondasi yang kuat.

Menurutnya, membangun usaha tidak selalu harus diawali dengan langkah besar.

Konsistensi, kemampuan membaca kebutuhan pasar, pengelolaan keuangan, serta evaluasi berkala justru menjadi faktor penting agar sebuah bisnis dapat bertahan.

Cara pandang tersebut tidak lepas dari pengalaman panjangnya di dunia perbankan.

Citra memahami bahwa omzet yang besar belum tentu menunjukkan sebuah usaha berada dalam kondisi sehat.

Arus kas, biaya operasional, modal kerja dan kemampuan menjaga keberlangsungan bisnis juga menjadi hal yang tidak boleh diabaikan.

“Persaingan dalam usaha pasti ada. Saya lebih memilih bagaimana produk dan layanan yang kami punya terus berkembang. Kalau hanya berfokus menjadi yang paling murah, menurut saya akan sulit membangun usaha untuk jangka panjang,” ungkapnya.

Tidak akan Terjebak dengan ‘Perang Harga

Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, Citra memilih tidak menjadikan harga murah sebagai satu-satunya senjata.

Strateginya lebih diarahkan pada penguatan produk dan pelayanan.

Pendekatan tersebut menjadi penting terutama dalam bisnis souvenir dan seserahan yang memiliki banyak pemain dengan produk yang relatif beragam.

Menurut Citra, perang harga memang dapat menarik konsumen dalam jangka pendek. Namun, apabila ingin membangun bisnis yang berumur panjang, pelaku usaha harus memiliki pembeda.

Pembeda itu bisa berasal dari kualitas produk, desain, pelayanan, kemampuan memenuhi permintaan khusus, maupun pengalaman yang diberikan kepada pelanggan.

Karena itu, pengembangan bisnis baginya bukan hanya soal mengejar pertumbuhan penjualan, tetapi juga memastikan setiap lini usaha memiliki nilai yang dapat dipertahankan.

Pengalaman Nasabah Menjadi Bekal Melayani Konsumen

Lebih dari satu dekade di dunia perbankan juga membuat Citra memahami bahwa hubungan dengan konsumen tidak berhenti pada transaksi.

Kepercayaan harus dibangun melalui komunikasi dan pelayanan yang konsisten.Prinsip tersebut kini dibawanya dalam menjalankan bisnis.

“Sekarang bidangnya memang berbeda, tetapi prinsipnya masih sama. Kita berhadapan dengan orang dan membangun kepercayaan. Jadi pelayanan tetap menjadi hal yang sangat penting,” ujarnya.

Bagi Citra, pengalaman berinteraksi dengan banyak karakter selama berada di sektor perbankan menjadi pembelajaran yang tidak berhenti ketika dirinya memutuskan menjadi entrepreneur.

Justru pengalaman tersebut menjadi salah satu bekal untuk memahami bahwa setiap pelanggan memiliki kebutuhan dan ekspektasi berbeda.

Mempersiapkan Bisnis untuk Jangka Panjang

Memasuki babak baru sebagai pengusaha, Citra tidak ingin terburu-buru menentukan seberapa besar seluruh bisnisnya harus berkembang.

Ia memilih memperkuat bisnis yang sudah berjalan sembari tetap membuka peluang terhadap pengembangan usaha yang masih berada dalam ekosistem yang sama.

Untuk Desouvenir, fokus pengembangan diarahkan pada inovasi produk dan perluasan kebutuhan konsumen.

Sementara Deserra terus dibangun dengan konsep seserahan yang lebih personal dan premium.

Di sektor properti, Deswans diarahkan untuk menghadirkan hunian kos yang nyaman serta relevan dengan kebutuhan pasar Malang.

Pilihan untuk bertumbuh secara bertahap menjadi strategi Citra dalam menghadapi perjalanan bisnis ke depan.

Baginya, keberhasilan usaha tidak semata-mata diukur dari seberapa cepat bisnis berkembang. Kemampuan menjaga kesehatan usaha dan mempertahankan keberlangsungannya juga menjadi ukuran penting.

“Bagi saya, yang terpenting adalah usaha bisa sehat dan terus berkembang. Saya ingin apa yang saya bangun sekarang bukan hanya untuk satu atau dua tahun, tetapi bisa menjadi sesuatu yang bertahan dalam jangka panjang,” pungkas Citra.