Share

Lolos Seleksi Paskibraka Nasional, Siswa Papua Pegunungan Kisahkan Perjuangannya Menuju Istana Kepresidenan

Julia Maharani Dabi, siswa SMAN 1 Wamena, Papua Pegunungan yang menjadi anggota Paskibraka Nasional 2026. (Doc. Ist.)

Share

Politikamalang.com – Julia Maharani Dabi, Siswa asal SMAN 1 Wamena, Papua Pegunungan ini pun terlihat antusias kala menyaksikan upacara Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia melalui layar kaca dan bermimpi dapat menjadi bagian dari pasukan tersebut suatu saat nanti.

Ia mengaku selalu terkesima melihat jajaran Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) berbaris dan mengibarkan Sang Merah Putih di Kompleks Istana Kepresidenan. Impian tersebut perlahan mulai mendekati kenyataan ketika Julia menjadi siswa baru di SMAN 1 Wamena.

Saat proses penerimaan siswa baru, kakak kelas Julia terkesan dengan postur tubuhnya yang tinggi dan tegap. Tak hanya itu, mereka juga menyukai cara Julia melangkahkan kaki.

“Saya kalau 17-an, setiap hari saya tonton. Mereka langkahnya tegap, saya berpikir pasti saya bisa. Saya percaya diri kalau saya akan mengibarkan bendera,” ujar Julia dikutip Sabtu (15/8/2026).

Tak butuh waktu lama, sang kakak kelas pun menanyakan kesediaan Julia untuk bergabung dalam pelatihan pasukan pengibar bendera. Pertanyaan tersebut langsung disambut baik olehnya.

Dorongan itu semakin kuat setelah kedua orang tuanya turut mendukung dan memotivasi Julia untuk meraih impian tersebut. Menurutnya, Julia memiliki postur tinggi sehingga sangat cocok menjadi bagian dari Paskibraka.

“Setelah itu, jadi kami selalu latihan setiap sore sepulang sekolah. Latihan dan terus latihan,” tuturnya.

Namun, bagi Julia, proses latihan tersebut juga memiliki berbagai tantangan. Jarak rumahnya ke sekolah cukup jauh dan membutuhkan waktu sekitar 30 menit jika ditempuh menggunakan sepeda motor.

Bahkan, ketika tidak memiliki uang untuk membeli BBM, ia terpaksa berjalan kaki ke sekolah demi mengikuti latihan baris-berbaris yang berlangsung pukul 14.00 hingga 17.00.

Kendati demikian, tantangan tersebut tak lantas membuat Julia menyerah. Ia tetap rajin mengikuti pelatihan karena yakin suatu saat dapat terpilih menjadi anggota Paskibraka Nasional.

“Saya sangat semangat karena saya percaya diri. Pasti saya akan bisa jadi Paskibraka nasional. Jadi, bagaimanapun tantangannya, cobaan, godaan, saya lewati,” ungkapnya.

Kerja keras Julia mulai membuahkan hasil ketika perwakilan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) mencari bibit-bibit Paskibraka Nasional di sekolahnya.

Setelah melalui berbagai tahapan seleksi, Julia bersama empat siswa lain dari sekolahnya lolos ke tahap seleksi provinsi. Beruntungnya, Julia dan satu teman sekolahnya berhasil lolos, sementara tiga lainnya kembali ke Provinsi Papua Pegunungan.

Selepas itu, Julia mendapatkan pelatihan yang lebih intensif dan kemudian berkesempatan mengikuti proses verifikasi di Jakarta.

Namun, proses pelatihan di Jakarta kembali menghadirkan tantangan. Julia mengatakan salah satu tantangan terbesarnya adalah beradaptasi dengan lingkungan baru, terutama ketika harus berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dan daerah di Indonesia.

Selain itu, keterbatasan dana juga sempat mengganjal langkah Julia menuju Jakarta. Julia berkisah bagaimana dia tidak memiliki sepatu pantofel ketika hendak berangkat ke Jakarta dan akhirnya meminjam sepasang sepatu dari tetangganya.

Namun, karena ukuran sepatu tersebut rupanya kurang sesuai dengan kaki Julia, ia pun merasakan pegal yang luar biasa ketika berlatih menggunakan sepatu tersebut. Namun, Julia tetap tidak mau menyerah pada keadaan.

“Tapi saya tetap semangat. Bagaimanapun caranya, ada tantangan walaupun sakit, saya tetap latihan. Karena saya yakin saya bisa. Saya bukan perempuan lemah, saya itu kuat. Saya akan latihan dengan sungguh-sungguh supaya bisa mengibarkan bendera,” jelas dia.

Kini, Julia tetap antusias berlatih menjelang upacara HUT ke-81 RI di Istana Merdeka yang tinggal menghitung hari, meski kedua orang tua yang dulu sebagai motivasi utama sudah tak bisa lagi menyaksikan antusiasme tersebut.

Ia kemudian menjelaskan bagaimana sang ibu meninggal dunia pada tahun 2022, sementara sang ayah wafat selang dua tahun kemudian.

Meski demikian, Julia tetap bertekad membuktikan kepada kedua orang tuanya bahwa ia mampu menggapai apa yang telah diimpikannya sejak kecil.

“Saya akan menunjukkan kepada seluruh masyarakat di Papua, bahwa saya dari Papua Pegenungan bisa mengibarkan bendera pusaka di istana dengan baik dan tidak ada kesalahan satu pun,” pungkasnya.