Politikamalang.com – Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mendorong penguatan ekosistem literasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Perpustakaan diharapkan tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga pusat edukasi digital, ruang diskusi, dan pengembangan kreativitas masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Wahyu saat membuka Pekan Literasi Kota Malang 2026 di Gedung Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah (Dispussipda) Kota Malang, Rabu (14/10/2026).
Mengusung tema “Menguatkan Ekosistem Literasi Menuju Kota Malang Mbois Berkelas”, kegiatan yang berlangsung hingga 16 Oktober 2026 ini menjadi ruang kolaborasi untuk memperluas budaya baca sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Wahyu menegaskan, literasi memiliki peran penting dalam membentuk masyarakat yang kritis, kreatif, dan mampu menghadapi perubahan zaman.
Menurutnya, kemampuan literasi tidak cukup hanya sebatas membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kecakapan berpikir, berinovasi, serta mengambil keputusan secara bijaksana.
“Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga membangun pola pikir kritis, kreativitas, inovasi, dan kebijaksanaan dalam menyikapi perkembangan zaman,” ujarnya.
Hampir 99 Persen Perpustakaan Sekolah TerstandarisasiPemkot Malang terus memperkuat budaya literasi melalui peningkatan kualitas layanan dan pengembangan fasilitas perpustakaan. Salah satu capaian yang disampaikan Wahyu adalah standarisasi perpustakaan sekolah.
Berdasarkan data Pemkot Malang, sebanyak 396 dari 404 perpustakaan SD dan SMP telah melaksanakan standarisasi. Selain itu, 23 perpustakaan sekolah telah meraih akreditasi A.
Pengembangan perpustakaan di tingkat kelurahan juga terus dilakukan. Pada 2025, Pemkot Malang merintis 20 perpustakaan, kemudian menambah 15 perpustakaan pada 2026 untuk memperoleh pendampingan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Akses masyarakat terhadap bahan bacaan turut diperluas melalui sejumlah fasilitas dan layanan, di antaranya pojok baca digital di Taman Trunojoyo, layanan perpustakaan di Malang Creative Center (MCC), Pojok Baca Merdeka di Mal Pelayanan Publik, serta aplikasi perpustakaan digital Malang Cilin Mbois.
Berbagai upaya tersebut diharapkan membuat layanan literasi semakin mudah dijangkau oleh masyarakat dari beragam latar belakang.
Literasi Digital untuk Menangkal Hoaks dan Penipuan
Di tengah pesatnya arus informasi, Wahyu menilai kecakapan literasi digital semakin dibutuhkan.
Masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk memilah informasi, memeriksa kebenaran sumber, serta menggunakan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab.
Sejumlah persoalan seperti hoaks, penipuan digital, judi daring, perundungan, hingga penyalahgunaan teknologi dan AI menjadi tantangan yang perlu diantisipasi melalui edukasi berkelanjutan.
Karena itu, ia mendorong perpustakaan mengambil peran lebih luas sebagai pusat informasi sekaligus ruang edukasi dan dialog untuk membantu masyarakat memahami persoalan yang berkembang di ruang digital.
Transformasi tersebut juga perlu diikuti dengan pengembangan perpustakaan sebagai ruang publik yang nyaman dan inklusif.
Selain membaca, masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan perpustakaan untuk belajar, berdiskusi, bersosialisasi, serta mengembangkan gagasan dan inovasi.
Libatkan Komunitas, Dunia Usaha, dan Media
Wahyu berharap penguatan literasi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga melibatkan sekolah, perguruan tinggi, komunitas, dunia usaha, media, hingga kreator konten.
Kolaborasi lintas sektor dinilai penting agar budaya literasi semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat sekaligus memperkuat posisi Kota Malang sebagai kota pendidikan yang menghasilkan sumber daya manusia unggul dan berdaya saing.
Sementara itu, Kepala Dispussipda Kota Malang Yayuk Hermiati mengatakan, Pekan Literasi menjadi wadah untuk memperkuat sinergi para pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem literasi yang inklusif, kreatif, inovatif, dan berkelanjutan.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk apresiasi kepada masyarakat, pelajar, pengelola perpustakaan, komunitas, serta insan literasi yang berkontribusi dalam pengembangan budaya baca di Kota Malang.
Rangkaian Pekan Literasi 2026 diisi dengan pameran penerbit, partisipasi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), bedah buku, serta berbagai kegiatan pendukung lainnya.
Pembukaan acara juga dimeriahkan Tari Beskalan dan penampilan Victoria Marta, siswa SD Kristen Charis Kota Malang yang meraih Juara I Lomba Bertutur tingkat SD.
Pada kesempatan tersebut, turut diserahkan hadiah kepada para pemenang Lomba Bertutur tingkat SD, Lomba Perpustakaan Kelurahan Terbaik, dan Lomba Video Konten Literasi.
Usai membuka kegiatan, Wahyu meninjau sejumlah fasilitas Perpustakaan Umum Kota Malang, mulai dari Ruang Baca Anak, program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), Ruang Baca Umum, Pojok Braille, hingga koleksi naskah kuno.



