Share

PKB Kota Malang Tasyakuran Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional Bagi Gus Dur, Syaikhona Kholil dan Marsinah

PKB Kota Malang Gelar Tasyakuran Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional Bagi Gus Dur, Syaikhona Kholil dan Marsinah
PKB Kota Malang Gelar Tasyakuran Gelar Pahlawan Nasional. (Foto: Agus N/politika malang)

Share

Politikamalang – Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Malang menggelar tasyakuran penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional 2025 kepada sejumlah tokoh. Yakni kepada K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Syaikhona Kholil, dan aktivis buruh Marsinah, Jumat (21/11/2025).

Ketua Fraksi PKB DPRD Kota Malang, Saniman Wafi menjelaskan, tasyakuran digelar sebagai bentuk syukur setelah sejumlah tokoh yang dekat dengan NU dan PKB resmi menerima gelar Pahlawan Nasional.

“Tasyakuran ini sebagai rasa syukur kami karena beliau-beliau adalah pahlawan dan inspirator bagi Partai Kebangkitan Bangsa,” ujarnya.

Menurut Wafi, Syaikhona Kholil dikenal sebagai ulama yang menanamkan cinta tanah air, menjadi rujukan para kiai, serta mendorong perlawanan santri terhadap penjajah.

Sementara itu, peran Gus Dur sebagai pendiri PKB dan Presiden ke-4 RI dinilai sangat besar dalam memperjuangkan kemanusiaan, demokrasi, dan keberagaman.

“Bahkan Gus Dur rela melepaskan jabatannya demi kemaslahatan dan keselamatan umat,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Saniman juga menyoroti keteladanan Marsinah sebagai pahlawan buruh perempuan. Keberanian Marsinah menyuarakan kebenaran hingga akhir hayatnya, menurut dia, menjadi pelajaran penting bagi legislator dan aparatur pemerintahan.

“Beliau tidak memedulikan dirinya, bahkan nyawanya sampai hilang. Menurut kami, tindakan beliau dalam menyuarakan kebenaran harus benar-benar kita teladani ke depan,” imbuhnya.

Saniman berharap nilai-nilai perjuangan ketiga tokoh tersebut dapat menjadi pedoman bagi kader PKB dalam menjalankan tugas pemerintahan dan pelayanan publik.

Senada dengan itu, Ketua DPC PKB Kota Malang, H. Fatchullah, menegaskan bahwa perjuangan para tokoh yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional menjadi fondasi penting dalam memahami nilai keadilan dan keberpihakan kepada rakyat kecil.

“Dari masa ke masa pasti ada orang yang berjuang habis-habisan. Karena itu, kita yang terlibat dalam pemerintahan harus sadar bahwa selalu ada tokoh yang memperjuangkan keadilan,” ujarnya.

Fatchullah juga menyoroti peran besar Syaikhona Kholil sebagai figur yang memberi pondasi lahirnya Nahdlatul Ulama. Kontribusi itu, menurutnya, menjadi alasan kuat bagi kader PKB untuk menjaga nilai kebangsaan dan komitmen pada NKRI.

Terkait penetapan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional yang memunculkan perbedaan pendapat, Fatchullah menyebut hal tersebut wajar. Ia menilai pemberian gelar pahlawan merupakan bentuk apresiasi negara, sementara PKB sendiri telah memberikan penghormatan melalui ziarah ke makam Marsinah dan kunjungan ke keluarganya.

Sedangkan Gus Dur menurut Fatchullah memiliki jasa yang tidak ternilai bagi PKB. Termasuk dalam memberikan kedewasaan kepada para kader PKB.

“Termasuk bagaimana Gus Dur mendidik juniornya. Di politik pasti ada gangguan-gangguan. Cara beliau mendidik kader-kadernya itu tidak seperti pada umumnya,” ungkapnya.

“Sampai sekarang kami belum bisa meneladani Gu Dur secara utuh,” imbunya.

Tidak hanya bagi PKB, Gus Dur juga memiliki jasa yang besar bagi bangsa Indonesia. Salah satunya saat Gus Dur rela melepaskan jabatannya sebagai Presiden demi kebaikan bangsa.