Share

Poltekkes Kemenkes Surabaya Manfaatkan Teknologi Tepat Guna Sebagai Upaya Pencegahan DBD

Anggota tim Poltekkes Surabaya sedang melakukan budidaya lele sebagai upaya pencegahan penyakit DBD. (Ist.)

Share

Politikamalang.com – Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Surabaya memanfaatkan teknologi tepat guna sebagai strategi untuk memperkuat sebagai upaya pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Revitalisasi Kader Kesehatan dalam Pencegahan DBD” di Kelurahan Jambangan, Kota Surabaya, Sabtu (13/6/2026).

Melalui program “Revitalisasi Kader Kesehatan dalam Pencegahan DBD”, Poltekkes Kemenkes Surabaya menargetkan Angka Bebas Jentik (ABJ) di Kelurahan Jambangan meningkat dari 89 persen menjadi 95 persen, penurunan kasus DBD hingga 30 persen, serta semakin kuatnya peran kader kesehatan dan masyarakat dalam pencegahan DBD berbasis komunitas.

Program yang berlangsung sepanjang 2026 tersebut sebagai wujud implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan menggandeng Kelurahan Jambangan, kader kesehatan, Posyandu, dan Karang Taruna.

Kegiatan ini sendiri difokuskan pada penguatan layanan kesehatan primer dengan berbasis komunitas melalui pendekatan promotif, preventif, serta penerapan teknologi tepat guna.

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Surabaya, Fitri Rochmalia, mengatakan jika program tersebut lahir sebagai respons terhadap tingginya potensi DBD di wilayah Jambangan yang juga kerap mengalami banjir saat musim hujan.

“Kami sebagai institusi pendidikan memiliki kewajiban melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, diantaranya melalui pengabdian kepada masyarakat. Melalui program Revitalisasi Kader Kesehatan dalam Pencegahan DBD, kami menerapkan teknologi tepat guna berupa biopori jumbo dan sumur resapan sebagai upaya mengurangi banjir sekaligus menekan risiko peningkatan kasus DBD,” ungkapnya.

Menurut Fitri, sumur resapan yang dibangun memiliki berbagai fungsi seperti meningkatkan daya serap air ke dalam tanah dan menjadi cadangan air saat musim kemarau.

Sehingga, fasilitas yang telah tersedia tersebut nantinya bisa dimanfaatkan masyarakat sebagai media dalam pembudidayaan ikan lele.

“Budidaya lele ini memberikan manfaat ekonomi karena hasilnya dapat diolah menjadi berbagai produk pangan seperti nugget maupun olahan lainnya. Jadi manfaat program ini tidak hanya untuk kesehatan lingkungan, tetapi juga mendukung ketahanan pangan masyarakat,” ujarnya.

Selain membangun infrastruktur lingkungan, Poltekkes Kemenkes Surabaya juga melakukan penguatan kapasitas kader kesehatan melalui kegiatan pelatihan dan pendampingan.

Kader akan dibekali kemampuan untuk melakukan edukasi dari rumah ke rumah, menggerakkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), menyelenggarakan kelas ibu balita, hingga memanfaatkan media sosial sebagai sarana kampanye pencegahan DBD.

Fitri juga menambahkan, pembangunan sumur resapan saat ini telah direalisasikan di beberapa RT di Kelurahan Jambangan dan akan diperluas secara bertahap ke kawasan lain yang masih rawan banjir.

“Kami berharap teknologi sederhana ini dapat diterapkan lebih luas sehingga masyarakat dapat meningkatkan kemandirian dalam menjaga kesehatan lingkungan sekaligus mencegah DBD,” katanya.

Sementara itu, Lurah Jambangan Sanni Noerna Safaah menyampaikan bahwa teknologi biopori jumbo yang diterapkan melalui program tersebut memberikan manfaat yang lebih luas dibandingkan biopori biasa.

“Selain sebagai sumur resapan untuk mengurangi genangan air, biopori jumbo juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat budidaya lele. Apabila dilengkapi pompa portabel, air yang tersimpan dapat digunakan sebagai sumber air untuk penanganan awal kebakaran,” tutupnya.

Program ini diharapkan menjadi model penguatan layanan kesehatan primer yang dapat diterapkan di wilayah lain yang ada di Kota Surabaya maupun daerah lainnya.