Share

Forum Pemuda Nahdliyin Malang Raya Gelar Diskusi Refleksi Satu Abad NU

Foto Bersama Ulama dan Tokoh NU Malang Raya (Foto: M. Fahrisuddin)

Share

Acara diskusi publik yang membahas mengenai Refleksi Satu Abad NU dengan tema “Quo Vadis Generasi Muda NU”, Minggu (25/01/2026).

Pelaksanaan acara yang digelar malam ini adalah persembahan dari Forum Nahdliyin Malang Raya dan bertempat di Mifeng Kopitiam, Jalan Ijen No.94, Oro-oro Dowo, Kota Malang.

Diskusi ini di moderatori oleh Yatimul Ainun yang menjabat sebagai Pemred Times Indonesia dan juga Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Jawa Timur periode 2024-2028.Berbagai narasumber menjadi pembicara seperti Fauzan Alfas yang menulis buku “Napak Tilas Menjelang Satu Abad NU”, Dr. Moh. Muzakki M.Si. selaku pengamat sosial politik dari Universitas Brawijaya Malang dan Gus Fathul Yasin sebagai Sekretaris PCNU Kota Batu.

Yatimul Ainun, selaku Moderator acara diskusi. (Foto: M. Fahrisuddin)

Sambutan Moderator oleh Yatimul Ainun

Dalam sambutannya selaku moderator, Ainun sapaan akrab Yatimul Ainun mengatakan bahwa generasi muda NU harus tau kemana arahnya NU dalam era digitalisasi modern saat ini. Maka dari itu, perlu dilakukan analisasi secara sosial, politik dan keilmuan bagi para pemuda Nahdlatul Ulama.

Dalam kurun waktu beberapa bulan yang lalu, berbagai media mainstream maupun media sosial, bahkan hingga saat ini baik secara negatif maupun positif diarahkan pada generasi NU. Jika dilihat dari konteks maupun konten pembahasan mengenai NU, maka secara otomatis akan berkaitan dengan pembahasan mengenai NKRI.

Menurut Fauzan Alfas, NU Punya Sejarah Tapi Belum Tertulis

Narasumber pertama disampaikan oleh Fauzan Alfas atau yang lebih dikenal dengan sapaan Fauzan dan telah menulis buku yang membahas tentang NU sebanyak 20 buah buku.

Dalam bukunya pada jilid yang ketiga berisi sekitar 1.200 halaman yang menceritakan tentang PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), mulai dari Rais Akbar, Rais Suriyah dan Ketua Umum sejak awal berdiri hingga generasi saat ini.

Fauzan berkata bahwa, yang melatarbelakangi penulisan buku ini sendiri karena keinginan pribadi untuk mengetahui sejarah tentang NU. Fauzan menyampaikan bahwa sumber rujukan utama yang dijadikan sebagai buku referensi, bersumber dari hasil karya milik Khoirul Anam.

Dan dari buku inilah yang menjadi rujukan maupun bacaan para peneliti di seluruh dunia, sehingga Fauzan memutuskan untuk sowan kepada beliau yang kemudian bagaimana Khoirul Anam ini menceritakan awal mula membuat buku tersebut.

Pada kenyataan saat itu, NU sendiri belum memiliki buku yang membahas tentang sejarah NU. Meski begitu, bukan berarti NU belum punya sejarah, namun sejarah tentang NU yang belum ditulis.

“Apabila generasi muda NU saat ini tidak mengetahui sejarah NU, hal itu bisa dibenarkan karena selama kurun waktu satu abad ini masih belum memiliki buku sejarah tentang NU”, ucap Fauzan.

Pada jilid terakhir memiliki sekitar 2.000 halaman membahas tentang Ulama Perempuan Nusantara atau Ibu-ibu (Bu Nyai) pendiri Pondok Pesantren di Nusantara, yang saat ini telah melahirkan ribuan hingga ratusan ribu alumni pondok pesantren.

Pentingnya Orientasi Ulang di Kalangan NU

Narasumber berikutnya sebagai pengamat sosial politik dari kampus Universitas Brawijaya Malang Bernama Dr. Moh. Muzakki, M.Si.

Muzakki menyampaikan bahwa diskusi malam ini akan membahas topik utama refleksi satu abad NU mengenai tokoh-tokoh muda NU, yang kedua melakukan Re-orientasi (orientasi ulang), dan yang terakhir mendorong persiapan generasi yang taktis.

Dilihat secara kontekstual, para pemuda NU sekarang dalam tatanan ekonomi politik memiliki potensi yang besar. Di kawasan Asia Tenggara sendiri, Organisasi NU terkenal dengan jumlah Lembaga terbanyak.

“Secara politik, NU telah melahirkan sebuah resolusi jihad pada zaman KH. Hasyim Asy’ari yang pada saat itu didukung oleh para Kyai dan Ulama”, tutur Muzakki.

Secara potensi akademik, dengan hasil data riset 15 tahun yang lalu ditemukan bahwa jumlah intelektual muda NU jauh melampaui jumlah intelektual yang ada di Organisasi lain seperti Muhammadiyah.

Gerakan NU ini adalah bentuk gerakan kerakyatan baik secara politik, memiliki struktural yang kuat di pesantren-pesantren maupun secara perekonomian. Konteks ini menurut potensi akademi dalam konteks amaliyah NU yang basisnya adalah kerakyatan.

Dalam konteks literasi umum, kita dapat memahami hal itu sebagai akar sosialisme bukan kapitalisme. Secara tingkatan, dapat dibedakan menjadi tiga yaitu gerakan politik rakyat, politik kekuasaan dan politik kebangsaan.

Muzakki melanjutkan bahwa, NU sendiri berada pada dua tempat yaitu politik kerakyatan dan politik kebangsaan. Kalau politik kekuasaan strukturalnya dikuatkan, maka gerakan kultural politik kerakyatannya menurun.

“Pada era zaman Gus Dur, terjadi gerakan politik kerakyatan yang kemudian kita dapat melihatnya kalau NU memiliki kekuasaan. NU dapat memainkan peran taktis dan strategis, yang terbukti dengan Gus Dur bisa menjadi ikon gerakan kerakyatan dan pada akhirnya Gus Dur dapat terpilih menjadi Presiden. Dan, Gus Dur menjadikan kekuasaan jabatan Presiden sebagai instrument alat bukan tujuan”, ucap Muzakki.

Kita perlu melakukan orientasi ulang, untuk melihat apakah gerakan-gerakan dan kiprah para pemuda NU pada saat ini sesuai dengan arah dan tujuan NU ke depannya. Jadi, gerakan-gerakan itu harus didasari oleh firqoh ke-NU-an.

Pada saat Muktamar di Jawa Barat diingatkan bahwa kalau ada tindakan/perbuatan yang membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain, maka hukumnya Haram sehingga tindakan tersebut tidak boleh dilanjutkan.

Muzakki mendukung adanya diaspora kader dan NU sebagai rumah yang besar, pemuda-pemuda NU baik secara struktural maupun kultural ada dimana-mana.

“Meski dalam perkembangan selanjutnya, tidak sedikit pula pemuda NU yang berada di partai selain berbasis NU”, pungkasnya.

Gus Yasin Berharap Adanya Kepedulian Antara NU dan Generasi Penerusnya

Narasumber terakhir disampaikan oleh Gus Yasin, sapaan pria asal Batu Bernama lengkap Fathul Yasin yang kesehariannya mengelola Pondok Pesantren Mahasiswa di Kota Batu.

Gus Yasin berharap adanya forum seperti ini dapat dilestarikan lagi ke depannya agar berbagai ide yang sempat meredup dapat dibangkitkan Kembali. Gus Yasin juga berpendapat bahwa NU adalah pilihan terbaik dalam berorganisasi bahkan beramal.

Gus Yasin mengatakan pada era sekarang ini, kita bisa melihat bagaimana NU berkomunikasi dengan para generasi Z-Milenial. Ijtihad yang dilakukan Nahdlatul Ulama ini sangat luar biasa. Terbukti tidak ada satu elemen pun yang tidak terwadahi.

“Meskipun banom-banom NU itu tidak semuanya efektif dan hidup, namun hal itu tidak mempengaruhi NU sebagai tempat atau sarana yang kelak di kemudian hari dapat mengangkat tatanan zaman”, kata Gus Yasin.

Jika terdapat Lembaga-lembaga sebagai instrument kepengurusan ada yang tidak efektif, itu hanyalah persoalan mengenai organisasi bagaimana kita mengorganisir sebuah sistem.

Menurut Gus Yasin, “Aktivis NU pada era saat ini berbeda dengan zaman Orba (Orde Baru). Pada zaman orba dulu, ketika mau melakukan sebuah pertemuan di berbagai daerah, para aktivis memiliki kemauan, semangat dan usaha yang keras”.

Dan semangat yang dulu pernah ada, namun tidak dapat ditumbuhkan lagi kepada anak-anak muda hari ini yang seolah-olah tidak memiliki kepedulian terhadap NU itu sendiri. Saat ini, segala bentuk organisasi atau perkumpulan apapun sedang dalam tahapan beradaptasi di zaman yang serba cepat ini.

“Semua perkumpulan yang berbasis Islam saat ini sedang melakukan orientasi ulang tata kelola komunikasi mereka agar terjalin dengan baik, namun masih adanya keterlambatan karena kurangnya dukungan sebuah forum komunikasi yang terbentuk”, tutup Gus Yasin.

Editor: M. Fahrisuddin