Politikamalang.com – Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim bersiap untuk memperluas jangkauan layanan bus Trans Jatim pada akhir tahun 2026.
Perluasan tersebut nantinya akan lebih difokuskan untuk penambahan koridor baru yang berada di wilayah Malang Raya dan juga Pasuruan.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur, Dr. Ir. Nyono, S.T., M.T., mengatakan jika pergerakan ini sebagai hasil tindak lanjut dari arahan Gubernur Jawa Timur untuk menghadirkan pemerataan layanan transportasi massal yang murah dan aman bagi masyarakat.
“Berdasarkan arahan dari Ibu Gubernur, kami merencanakan penambahan koridor Trans Jatim di Malang Raya dan Pasuruan. Di Pasuruan, rute ini diarahkan untuk melayani kawasan industri untuk memenuhi kebutuhan karyawan perusahaan, guna meringankan beban ongkos transportasi mereka sehari-hari,” ungkap Nyono dalam keterangannya, Kamis (11/6/2026).
Terminal Hamid Rusdi Menjadi Pusat Malang Raya
Untuk wilayah Malang Raya, Pemprov Jatim berencana akan meresmikan tambahan koridor baru yang dijadwalkan bisa beroperasi pada akhir November 2026.
Berdasarkan hasil kajian lapangan oleh Dishub Jatim, Terminal Hamid Rusdi yang berstatus milik Pemprov Jatim akan dioptimalkan dan dihidupkan kembali sebagai pusat (hub) Trans Jatim di Kota Malang.
Dari Terminal Hamid Rusdi, layanan bus akan dibagi ke dalam dua rute utama yang menghubungkan kawasan pemerintahan dan pariwisata. Rute Selatan: Terminal Hamid Rusdi – Gelora Ken Arok – Pakisaji – Kepanjen (Ibu Kota Kabupaten Malang).
Rute Timur: Terminal Hamid Rusdi – Tumpang.
Nyono menjelaskan bahwa rute dari terminal Hamid Rusdi menuju Tumpang dinilai memiliki nilai yang strategis untuk mendongkrak potensi pariwisata daerah.
“Terminal Tumpang nantinya akan saling terhubung dengan kebijakan pariwisata di Kabupaten Malang. Melalui Poncokusumo, akses ini akan mempermudah mobilitas wisatawan yang hendak menuju kawasan Gunung Bromo,” ujarnya.
Harapannya, Terminal Hamid Rusdi juga akan terintegrasi langsung dengan Koridor 1 Malang Raya, yang melayani rute dari Hamid Rusdi menuju Terminal Landungsari dan sekitarnya.
Untuk mendukung kegiatan operasional yang melalui rute baru ini, Dishub Jatim diperkirakan telah menyiapkan sekitar 15 unit armada bus.
Tarif yang diberlakukan tetap disubsidi agar sangat terjangkau oleh berbagai lapisan masyarakat. Bagi Masyarakat Umum sebesar Rp5.000,-, sedangkan pengguna Pelajar, Mahasiswa, dan Santri sebesar Rp2.500,-.
Nyono lalu memaparkan, bahwa kebutuhan anggaran secara keseluruhan untuk satu tahun operasional koridor ini diperkirakan mencapai Rp25 miliar.
Meski demikian, diperkirakan masih akan memerlukan penyesuaian dalam anggaran. Karena, keberadaan transportasi publik yang layak digunakan oleh masyarakat Malang Raya ini dinilai sangat mendesak.
“Dengan tarif Rp.5.000,- layanan ini sangat membantu masyarakat kecil, terutama pekerja di kawasan industri dan warga di kawasan aglomerasi perkotaan yang melakukan perjalanan di atas 20 kilometer setiap harinya,” tegas Nyono.
Ekspansi ini sekaligus menegaskan komitmen Pemprov Jatim bahwa layanan Trans Jatim tidak hanya berfokus di kawasan Gerbangkertasusila, tetapi juga di Malang Raya dan seluruh Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) di Jawa Timur.
Kehadiran Trans Jatim diharapkan dapat memberikan efek ganda (multiplier effect), mulai dari menekan angka kecelakaan lalu lintas, mengurai kemacetan, hingga memacu pertumbuhan ekonomi.
“Manfaatnya sangat dirasakan pada saat ini untuk menekan angka kemiskinan dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan warga,” pungkasnya. (Aris)



