POLITIKAMALANG.COM – Bupati Malang, Drs. H. M. Sanusi, M.M beserta Kapolres Malang kota, Komisaris Besar (Kombes) Polisi Putu Kholis Aryana, melakukan pertemuan dengan Forkopimda Kabupaten Malang beserta perwakilan keluarga korban Tragedi Kanjuruhan di Pintu (Gate) 13 Stadion Kanjuruhan Kota Kepanjen, Sabtu (28/2) pagi.
Pertemuan ini berkaitan erat dengan pembahasan mengenai kelanjutan rencana peresmian Monumen dan Museum Tragedi Kanjuruhan.
Abah Sanusi, sapaan akrab Bupati Malang berharap khusus untuk Museum Tragedi Kanjuruhan nanti dapat memberi manfaat yang besar kepada masyarakat umum, terutama juga bagi keluarga korban tragedi Kanjuruhan.
Bupati Malang bersama Putu Kholis dan Kapolres Malang serta sejumlah keluarga korban yang hadir juga meninjau lokasi food court yang akan menjadi tempat salah satu unit usaha UMKM bagi keluarga korban tragedi.
”Atas nama Pemerintah Kabupaten Malang, saya Bupati Malang bersyukur atas dukungan dari keluarga korban mulai sejak terselenggaranya renovasi Stadion Kanjuruhan hingga dihadirkannya Museum dan Monumen Tragedi Kanjuruhan. Di area Gate 13 ini, khusus untuk museum dan sekaligus bisa tempat untuk berdoa bagi keluarga korban,” jelas Bupati Malang usai kegiatan yang diakhiri doa bersama bersama-sama keluarga korban.
Namun karena di area ini tidak boleh ada aktivitas kegiatan jual beli, maka dari pihak Pemkab sendiri telah menyediakan tempat tersendiri untuk usaha buat keluarga korban di food court.
Di tempat terpisah, Putu Kholis yang sebelumnya pernah menjabat Kapolres Malang ini menyampaikan, bahwa Museum Tragedi Kanjuruhan di Gate 13, sesuai proposal yang disusun Yayasan Keadilan Tragedi Kanjuruhan sedianya bakal segera diisi dengan beragam jenis barang milik korban, lengkap dengan identitas korbannya.

Termasuk juga beberapa foto dari para korban yang akan didisplay di salah satu tembok bagian dalam museum. Tujuannya, agar dapat menjadi tempat pengingat tragedi sepakbola dan diharapkan tidak sampai terulang kembali ke depan.
Diakuinya, pertemuan hari ini merupakan lanjutan dari pertemuan dirinya dan Bupati Malang bersama keluarga korban sebelumnya sekitar 1 tahun 9 bulan yang lalu, tepatnya pada tanggal 28 Mei 2024 di Aula Mapolres Malang, silam.
”Namun saat itu masih belum ada kesepakatan, terkait bagaimana nantinya museum tersebut, baik pada pengelolaannya maupun pengisian barang yang punya sejarah, yang nantinya bakal ditempatkan pada museum”, ungkap Putu Kholis.
Lebih lanjut Putu Kholis menjelaskan bahwa pada waktu pertemuan itu sudah ada kesepakatan, dimana nantinya akan dibuatkan monumen dan museum saat dilakukan renovasi. Pembuatan monumen dan museum ini bertujuan sebagai sarana untuk melakukan doa terutama bagi keluarga korban dan masyarakat pada umumnya. Biar keluarga korban punya simbol sendiri, yaitu monumen dan museum yang ada di gate 13.
“Pada pertemuan itu sudah ada kesiapan dari keluarga korban, yang nantinya akan mengisi museum dengan foto-foto korban dan barang barang milik korban yang ada dilokasi kejadian,” pungkasnya. (Prokopim/Aris)



