Politikamalamg.com – Perjalanan dalam menjalankan usaha ataupun bisnis memang diperlukan strategi yang matang. Hal itu telah dibuktikan oleh Kopi Titik Koma yang saat ini menjadi salah satu jaringan kedai kopi nasional.
Usaha ini bermula dari sebuah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Surabaya. Dalam satu dekade, bisnis yang dirintis Andrew Goenardi itu berkembang hingga memiliki 47 cabang di berbagai daerah di Indonesia.
Kisah tersebut disampaikan Andrew ketika menjadi pembicara dalam acara Java Coffee and Flavors Festival 2026 yang berlangsung di Alun-Alun Surabaya, Jumat (17/7/2026).
Ia bercerita sekaligus berbagi pengalaman membangun bisnis kopi sekaligus strategi mempertahankan kualitas di tengah persaingan industri yang semakin ketat.
Andrew menjelaskan, Kopi Titik Koma berdiri pada 2016 dengan hanya membuka kedai sederhana denhan berkapasitas sekitar 20 kursi di kawasan Juwono, Surabaya.
Dari awal berdirinya usaha ini, mereka hanya berfokus untuk menyajikan kopi berbasis espresso dengan pilihan biji kopi berkualitas sesuai selera pelanggan.
“Awalnya kami benar-benar memulai sebagai UMKM. Tujuan kami sederhana, bisa mengenalkan kopi berkualitas kepada masyarakat,” ujarnya.

Menurut Andrew, salah satu titik penting perkembangan usahanya adalah hadirnya menu Es Kopi Susu Gula Aren. Minuman tersebut berhasil menarik minat masyarakat luas dan kini menjadi penyumbang sekitar separuh dari total penjualan Kopi Titik Koma.
Baginya, kopi susu gula aren bukan sekadar produk terlaris, tetapi menjadi pintu masuk konsumen untuk mengenal lebih banyak ragam kopi Nusantara.
“Melalui menu yang mudah diterima semua kalangan, konsumen mulai tertarik mencoba jenis-jenis kopi lainnya,” katanya.
Seiring perjalanan bisnisnya yang semakin berkembang, Andrew mengakui bahwa menjaga kualitas produk bukan hal mudah. Terlebih adanya perubahan cuaca dan karakter bahan baku kopi membuat cita rasa dapat berubah.
Oleh karena itu, Kopi Titik Koma melakukan upaya dengan menerapkan pengendalian mutu secara ketat dan rutin menerima masukan dari pelanggan.
“Kopi adalah soal selera. Karena itu kami terus mendengar masukan konsumen agar kualitas tetap terjaga,” ungkapnya.
Andrew juga menambahkan bahwa persaingan bisnis kopi tidak cukup dimenangkan hanya dengan mengandalkan resep saja.
Menurutnya, resep dapat ditiru oleh semua orang, tetapi pelayanan dan kualitas sumber daya manusia menjadi faktor yang membuat pelanggan kembali.
“Semua orang bisa menjual kopi. Yang membedakan adalah bagaimana membangun tim, pelayanan, dan pengalaman pelanggan,” pungkasnya.
Dengan menjaga kualitas produk, memperkuat pelayanan, dan mengangkat cita rasa kopi lokal, Andrew meyakini Kopi Titik Koma dapat terus berkembang sekaligus membawa kopi Indonesia semakin dikenal di pasar internasional.



