Politikamalang.com – Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Perhubungan (Dishub) menyiapkan 80 armada angkutan kota (angkot) gratis untuk melayani pelajar pada tahun ajaran baru 2026/2027.
Program tersebut akan mengoperasikan 15 rute yang menghubungkan kawasan permukiman dengan sekolah di berbagai wilayah Kota Malang, termasuk sekolah yang selama ini belum terjangkau angkutan umum.
Kepala Dishub Kota Malang, Widjaja Saleh Putra, mengatakan penyusunan rute dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan akses transportasi bagi pelajar, khususnya menuju sekolah yang belum dilalui trayek angkot.
“Yang pasti, rute-rute angkutan gratis bagi pelajar nanti disesuaikan juga dengan rute yang belum ter-cover, rute sekolahan yang belum dilewati angkutan kota,” ujar Widjaja, Jumat (10/7/2026).
Menurutnya, saat ini masih terdapat tiga hingga empat jalur menuju kawasan sekolah tingkat SMP yang belum memiliki layanan angkutan kota. Jalur tersebut akan menjadi prioritas dalam pengembangan program angkutan pelajar gratis.
Dalam pelaksanaannya, Dishub menerapkan tiga skema pelayanan. Pertama, memanfaatkan jalur yang sebelumnya dilayani Bus Halokes. Kedua, mengoptimalkan trayek angkot yang telah beroperasi. Ketiga, membuka rute baru menuju kawasan sekolah yang belum memiliki akses transportasi umum.
Berdasarkan rancangan yang disusun, terdapat 15 pola perjalanan yang akan menghubungkan berbagai kawasan permukiman dengan sekolah di Kota Malang.
Di wilayah barat, layanan akan melayani rute Sumbersari, Merjosari, Joyogrand, hingga Villa Bukit Tidar menuju SMPN 25 Malang. Sementara rute lainnya menghubungkan Bandulan, Mulyorejo, Budi Utomo, dan Jurang Wugu menuju SMPN 30 Malang.
Untuk wilayah timur dan selatan, angkot gratis akan melayani kawasan Madyopuro, Lesanpuro, KH Malik Dalam, Wonokoyo, dan Tlogowaru menuju SMPN 23 Malang. Selain itu, tersedia pula jalur Tlogowaru–Kedungkandang–Madyopuro–Ki Ageng Gribig–Danau Toba hingga pusat Kota Malang.
Sementara di wilayah utara, rute disiapkan melalui Purwantoro, Ciliwung, Cengger Ayam, Kendalsari, Soekarno-Hatta, Candi Panggung, Sudimoro, dan Borobudur menuju SMPN 11 Malang. Ada pula layanan yang menghubungkan SMPN 22 dan SMPN 24 melalui kawasan Madyopuro, Wisnuwardana, Terusan Sulfat, hingga Pandanwangi.
Koridor lainnya mencakup jalur Tlogomas–Dinoyo–Sumbersari–Veteran menuju kawasan Tugu, serta rute Tlogowaru melalui Gadang, Sukun, Kasin, Mergan, Dieng, Veteran hingga pusat kota.
Dishub juga telah memetakan sejumlah titik pemberhentian strategis di dekat sekolah maupun fasilitas publik.
Beberapa di antaranya berada di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang di Jalan Veteran, Lapangan Merjosari, SMPN 10, SMPN 11, SMPN 22, SMPN 23, SMPN 24, SMPN 25, SMPN 27, SMPN 30, SMAN 1, SMAN 4, SPBU Tlogomas, Taman Krida Budaya, Malang Town Square (Matos), Perpustakaan Kota Malang, Halte Tugu, serta sejumlah titik di kawasan Gadang dan Tlogowaru.
Secara keseluruhan, 15 rute tersebut memiliki titik awal dan akhir yang tersebar mulai dari Madyopuro, Tlogowaru, Gadang, Purwantoro, Tlogomas, Merjosari hingga pusat Kota Malang.
Widjaja menegaskan jumlah armada yang disiapkan tetap sebanyak 80 unit dan akan dioptimalkan untuk melayani seluruh sekolah yang masuk dalam program angkutan pelajar gratis.
“Sementara ini masih tetap 80 armada yang akan kami manfaatkan. Delapan puluh armada itu untuk seluruh sekolah. Kami optimalkan,” katanya.
Untuk memudahkan identifikasi, setiap angkot yang mengikuti program akan dipasang stiker khusus sebagai penanda layanan angkutan pelajar. Seluruh armada juga diwajibkan bersiaga di titik pemberhentian sejak pukul 05.00 WIB hingga jam pulang sekolah.
“Jam 5 pagi sudah harus standby, sampai dengan selesai jam sekolah,” pungkasnya.



