POLITIKAMALANG.COM — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek) sekaligus Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., mengingatkan ribuan mahasiswa baru UMM bahwa memasuki dunia kampus bukan sekadar berganti status dari siswa menjadi mahasiswa.
Mahasiswa baru, kata Fauzan, harus menjalani transformasi secara menyeluruh, mulai dari cara berpikir, perilaku, kebiasaan hingga karakter dalam mempersiapkan masa depan.
Pesan itu disampaikan Fauzan saat memberikan pembekalan kepada mahasiswa baru dalam rangkaian Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) UMM, Selasa (8/9/2026).

Mengawali pembekalannya, Fauzan mengajak para mahasiswa baru untuk bersyukur karena mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Menurutnya, tidak semua lulusan sekolah menengah memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan tinggi.
“Saudara harus bangga dan saudara harus selalu bersyukur kepada Allah SWT. Saudara diberi kesempatan, maka kesempatan ini tidak ada pilihan lain, saudara harus pergunakan yang sebaik-baiknya,” ujar Fauzan.
Bukan Lagi Pelajar, Harus Bermental Mahasiswa
Fauzan menegaskan, keputusan melanjutkan pendidikan di UMM membawa konsekuensi yang harus dipahami oleh setiap mahasiswa baru.
Jika sebelumnya mereka terbiasa dengan pola belajar sebagai siswa SMA, kini mereka dituntut memasuki fase baru dengan tanggung jawab yang lebih besar.
“Kemarin saudara menjadi pelajar, dan sekarang saudara telah menentukan pilihan untuk mengembangkan diri saudara di Universitas Muhammadiyah Malang,” katanya.
Menurutnya, perubahan status tersebut harus diikuti dengan transformasi diri. Mahasiswa tidak bisa lagi mempertahankan sepenuhnya kebiasaan ketika masih menjadi pelajar.
“Transformasi dari saudara, dari SMA kemudian menjadi mahasiswa, mengandung konsekuensi-konsekuensi logis yang saudara harus alami,” tegasnya.
Fauzan menyebut, ada perubahan tanggung jawab, perilaku, beban, hingga cara berpikir yang harus disadari mahasiswa baru setelah memasuki perguruan tinggi.
“Kita saat ini telah memasuki gerbang menjadi mahasiswa. Tentu saudara memiliki tanggung jawab untuk melepaskan tabiat-tabiat ketika SMA, tetapi saudara harus menyongsong tabiat baru, yaitu menjadi mahasiswa,” ungkapnya.
Pilih UMM, Siapkan Diri Jadi Generasi Inovatif dan Mandiri
Lebih lanjut, Fauzan menyebut mahasiswa yang telah memilih UMM harus mempersiapkan mental untuk berkembang menjadi generasi inovatif dan mandiri.
Menurutnya, mahasiswa harus mampu memanfaatkan masa studi untuk melakukan adaptasi, mengembangkan kemampuan, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan.
“Saudara telah memilih Universitas Muhammadiyah Malang, tempat saudara ingin mengembangkan diri. Itu adalah pilihan yang 100 persen betul,” ujarnya.
Ia menambahkan, mahasiswa harus membangun kebiasaan yang konstruktif dan meninggalkan berbagai pola hidup yang dapat menghambat perkembangan diri.
“Kebiasaan-kebiasaan yang destruktif harus saudara hilangkan dan mempersiapkan diri untuk menjadi generasi yang konstruktif,” tegas Fauzan.
Menurutnya, mahasiswa saat ini memiliki peran strategis dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Karena itu, generasi muda harus mulai mempersiapkan kapasitas diri sejak berada di bangku kuliah.
Jangan Seperti Ular, Jadilah Kupu-Kupu
Dalam pembekalannya, Fauzan menggunakan analogi transformasi hewan untuk menjelaskan pentingnya perubahan karakter bagi mahasiswa.
Ia membandingkan proses perubahan pada ular dengan metamorfosis ulat yang berubah menjadi kupu-kupu.
Menurut Fauzan, ular memang mengalami perubahan ketika melepaskan kulitnya. Namun, perubahan tersebut hanya terjadi pada bagian luar.
“Transformasi yang dilakukan oleh ular hanya mampu mengubah bentuk, hanya mampu mengubah casing, tetapi tidak mampu mengubah karakter,” jelasnya.
Berbeda dengan ulat yang melewati proses panjang menjadi kepompong sebelum akhirnya berubah menjadi kupu-kupu.
Fauzan mengatakan, proses tersebut menggambarkan transformasi yang sesungguhnya. Tidak hanya terjadi perubahan penampilan, tetapi juga perubahan nilai dan karakter.
“Ketika ulat itu menjadi kupu-kupu, apa yang terjadi? Banyak orang tanpa diundang ingin mendekatinya. Kenapa? Karena kupu-kupu telah memberikan value,” katanya.
Ia pun mengajak mahasiswa baru UMM untuk memanfaatkan empat tahun masa perkuliahan sebagai proses metamorfosis untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan bernilai.
“Saat ini barangkali saudara masih seperti kepompong, tetapi empat tahun yang akan datang saudara akan menjadi kupu-kupu,” ujar Fauzan disambut antusias mahasiswa.
Menutup pesannya, Fauzan menegaskan bahwa perubahan yang harus dilakukan mahasiswa tidak boleh hanya sebatas perubahan status maupun penampilan luar.
“Saudara-saudara harus mengubah bentuk, tetapi juga mengubah karakter,” pungkasnya.
Pesan tersebut menjadi bekal bagi mahasiswa baru UMM untuk memulai perjalanan akademik mereka. Selama masa studi, mereka diharapkan mampu berproses, meninggalkan kebiasaan destruktif, membangun karakter, serta tumbuh menjadi generasi yang inovatif, mandiri, dan memberikan nilai bagi masyarakat.



