POLITIKAMALANG.COM — Rektor Universitas Ma Chung, Prof. Dr. Ir. Stefanus Yufra Menahen Taneo, M.S., M.Sc., menitipkan tiga pesan penting kepada para wisudawan dalam momentum wisuda ke-XVI tahun akademik 2025/2026 yang berlangsung di Gedung Balai Pertiwi, Universitas Ma Chung, Sabtu (05/09/2026).
Pesan tersebut disampaikan dalam sambutannya pada saat prosesi wisuda program pascasarjana, sarjana, dan diploma tahun akademik 2025/2026.
Para alumni diminta tidak hanya mengejar keberhasilan pribadi, tetapi mampu beradaptasi terhadap perubahan, membangun kolaborasi lintas keahlian, serta menghadirkan dampak positif bagi kemanusiaan.
Menurutnya, dunia yang akan dihadapi para alumni terus berubah dengan cepat. Karena itu, kemampuan beradaptasi menjadi bekal penting setelah mereka meninggalkan lingkungan kampus.
“Beradaptasilah dengan perubahan yang tidak pernah berhenti. Berkolaborasilah dengan sesama dari keahlian yang berbeda dan maju untuk memberi dampak yang positif bagi kemanusiaan,” pesan Prof. Stefanus.
Ia menegaskan, perubahan merupakan sesuatu yang tidak bisa dihentikan. Namun, manusia dapat mempersiapkan diri agar mampu menghadapi perubahan tersebut.
Pesan itu kemudian diperkuat dengan gambaran sejumlah fenomena yang menurutnya mencerminkan perubahan dunia saat ini, mulai dari bencana alam, perubahan lingkungan, hingga percepatan teknologi melalui artificial intelligence (AI).
Gempa dan Banjir Jadi Cermin Realitas Dunia
Dalam pidatonya, Prof. Stefanus memberi gambaran betapa rapuhnya hal-hal yang selama ini dianggap kokoh.
Ia lalu mencontohkan bagaimana fenomena bencana gempa bumi yang terjadi di Flores pada 15 Agustus 2026 lalu, di mana fondasi yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh dalam hitungan detik.
”Kita tidak bisa menghentikan gejala alam. Yang bisa kita lakukan adalah beradaptasi dengan membuat rencana dan membangun struktur yang lebih tahan gempa,” ungkapnya.
Prinsip tersebut, yang menurut Prof. Stefanus, berlaku mutlak di dalam dunia kerja dan kehidupan profesional.
PHK mendadak, perubahan teknologi, hingga krisis ekonomi adalah fenomena yang bisa datang kapan saja.
Untuk itu, para alumni dituntut agar lebih peka, fleksibel, tangguh, namun tetap memegang teguh prinsip hidup.
“Orang yang berhasil bukanlah mereka yang sekadar mengikuti perubahan, melainkan mereka yang mampu mengubah arah perubahan tanpa kehilangan kompas moralnya,” tegas Prof. Stefanus.
Tak Ada Profesi ‘Super’ yang Bisa Berdiri Sendiri
Menyoroti pesan mengenai pentingnya kolaborasi, Prof. Stefanus mengambil analogi dari penanganan bencana banjir yang terjadi di Nepal.
Ketika krisis besar menghantam, tidak ada satu pun profesi yang bisa menjadi pahlawan tunggal.Dokter butuh insinyur, insinyur butuh ahli IT, pemerintah butuh masyarakat, dan semuanya membutuhkan komunikasi yang saling terpadu.
”Inilah makna dari convergence yaitu sinergi lintas disiplin. Lulusan Ma Chung tidak cukup hanya mengandalkan nilai di atas kertas, tapi harus mampu duduk dan bekerja sama dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda,” tambahnya.
Ia menyebut sedikitnya terdapat sejumlah kekuatan yang menjadi fondasi kolaborasi.
Di antaranya kesamaan tujuan, kepercayaan, kemampuan menghargai perbedaan, komunikasi terbuka, serta kontribusi nyata dari masing-masing pihak.
Artinya, para lulusan tidak cukup hanya mengandalkan kompetensi akademik yang diperoleh selama kuliah.
Mereka harus mampu bekerja bersama orang lain yang memiliki latar belakang, kompetensi, dan keahlian berbeda.
Menjawab Tantangan di Era AI
Sementara itu, pesan ketiga berkaitan dengan perkembangan artificial intelligence atau AI yang berlangsung sangat cepat.
Perubahan cara manusia memperoleh informasi juga menjadi gambaran perkembangan tersebut.
Jika sebelumnya mahasiswa mengandalkan buku, Wikipedia, hingga Google, kini AI menjadi salah satu teknologi yang semakin banyak digunakan.
Di era ketika mahasiswa bertransformasi dari pencari informasi di perpustakaan menjadi pengguna aktif AI, Prof. Stefanus memberikan sudut pandang yang mendalam.
Ia kemudian mengingatkan bahwa perlombaan manusia melawan mesin adalah sebuah hal yang keliru.
“AI tidak bisa kita kalahkan. Pertanyaan pentingnya adalah: Bagaimana saya menggunakan AI untuk membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik?”, ujarnya.
Oleh karena itu, ia berpesan agar lulusan Universitas Ma Chung tidak hanya makin cerdas secara teknis, tetapi juga makin bijaksana, berempati, dan memiliki hati nurani.
Teknologi boleh semakin pintar, namun kemanusiaan tetap membutuhkan sentuhan hati.
Sabet Prestasi Mentereng: Optometri & Apoteker Lulus 100 Persen Ujian Nasional!
Momentum wisuda kali ini terasa kian istimewa berkat catatan prestasi akademik yang membanggakan.
Universitas Ma Chung secara resmi meluluskan angkatan pertama Program D3 Optometri dengan tingkat kelulusan Ujian Kompetensi Nasional mencapai 100 persen.
Tak kalah mentereng, Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker juga mencetak rekor fantastis dengan mencatatkan kelulusan 100 persen secara tiga kali berturut-turut dalam ujian kompetensi nasional.
Rektor Prof. Stefanus juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran pengelola prodi, dekan, hingga dosen atas dedikasi luar biasa ini.
Ijazah di Tangan, Jangan Lupakan Keringat Orang Tua
Momen haru mengemuka saat Rektor Prof. Stefanus meminta para wisudawan untuk menghadap kepada orang tua masing-masing.
Ia kemudiam mengingatkan bahwa lembar ijazah yang dipegang hari ini adalah buah dari pengorbanan, doa, dan air mata keluarga.
Pesan terima kasih juga disampaikan kepada LLDIKTI Region VII Jawa Timur, Yayasan Harapan Bangsa Sejahtera, para mitra industri, serta alumni yang terus menopang ekosistem pendidikan Ma Chung.
Menutup sambutannya, Prof. Stefanus mengingatkan para alumni untuk tidak melupakan orang-orang yang berada di balik perjalanan pendidikan mereka.
“Jangan hanya bangga menjadi alumni Ma Chung, tapi buatlah almamatermu bangga karena karya dan dampak yang kamu hadirkan di tengah masyarakat. Saat menikmati keberhasilan, jangan pernah lupa dari mana kamu berasal”, pungkasnya.



