POLITIKAMALANG.COM – Suasana khidmat dan penuh haru mewarnai prosesi Wisuda Universitas Ma Chung saat perwakilan wisudawan menyampaikan pidato perpisahan di hadapan seluruh jajaran rektorat, dosen, serta para tamu undangan di Gedung Balai Pertiwi, Universita Ma Chung, Sabtu (05/09/2026).
Dalam pidatonyo, perwakilan wisudawan mengingatkan bahwa keberhasilan meraih gelar sarjana bukanlah perjuangan pribadi semata, melainkan buah dari doa orang tua, bimbingan dosen, serta dukungan tenaga kependidikan (tendik) dan rekan-rekan sesama mahasiswa.
Ia kemudian membagikan kenangan sewaktu masih dalam masa perkuliahan yang dimulai sejak tahun 2020.
Berbagai dinamika telah dilalui bersama, mulai dari perdebatan tugas kelompok, revisi skripsi, hingga momen-momen keraguan ketika melihat pencapaian orang lain.
Mengenai hal tersebut, ia lalu mengutip peribahasa Mandarin “màn man lái, bì jiào kuài” (pelan-pelan, justru bisa lebih cepat) untuk menguatkan para lulusan agar tidak berkecil hati jika jalan yang ditempuh berbeda-beda.
“Pencapaian hari ini tidak terlepas dari doa orang tua dan bimbingan dosen. Wisuda ini bukan sekadar tentang gelar, tetapi tentang siapa diri kita setelah melewati seluruh prosesnya,” ungkapnya.
Momen emosional pun terjadi saat ia mengajak para wisudawan untuk menatap wajah orang tua masing-masing.
Ia kemudian mengucapkan terima kasih secara mendalam atas segala bentuk perhatian dan doa sederhana dari orang tua yang terus mengalir selama masa studi.
Selain itu, apresiasi tinggi juga diberikan kepada jajaran dosen (termasuk para dosen dari Program Studi Akuntansi) yang telah mendorong riset dan publikasi hingga ke tingkat internasional, serta menanamkan 12 nilai utama Ma Chung.
”Ketika suatu hari kita berhasil, jangan lupa untuk menoleh ke belakang. Ingatlah orang tua, ingatlah dosen, ingatlah teman-teman yang pernah berjuang bersama kita, dan ingat tempat yang pernah menjadi rumah bagi kita selama empat tahun ini,” tegasnya di hadapan para hadirin.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa predikat sarjana bukan menandakan seseorang telah mengetahui segala hal, melainkan momen kesadaran bahwa masih banyak ilmu yang harus dipelajari.
Meski tidak ada lagi rutinitas mengejar kelas, pengerjaan tugas, atau menunggu tanda tangan dosen, Universitas Ma Chung akan selalu menjadi bagian yang tidak pernah benar-benar ditinggalkan.
Menutup pidatonya, ia membawakan pesan bijak dari Mandarin “huā kāi yǒu xún shí, nǐ zǒu de lù yě shì” yang bermakna: Bunga akan bermekaran pada waktunya di sepanjang jalan yang dilalui.
“Semoga kita bisa berjalan jauh, ilmu kita bermanfaat, dan yang paling penting adalah kita tetap bahagia. We came here as students, we leave as graduates, but I hope we never stop being learners,” pungkasnya yang disambut tepuk tangan hangat dari seluruh hadirin.
Pidato yang sarat makna tersebut ditutup dengan ucapan selamat wisuda serta ucapan terima kasih atas empat tahun masa kuliah yang tidak selalu mudah, tetapi sangat berarti.



