Sumber: Al Jazeera (Dipublikasikan tanggal 30 Agustus 2026)
KATHMANDU / BEIJING, POLITIKAMALANG.COM – Runtuhnya gletser di pegunungan Himalaya dekat perbatasan Nepal dan Tibet (China) memicu banjir bandang serta tanah longsor dahsyat yang menerjang dan menimbun pemukiman di sepanjang aliran Sungai Trishuli dan Bhotekoshi.
Upaya penyelamatan oleh Tim SAR terhadap korban bencana banjir bandang di kawasan perbatasan Nepal dan Tiongkok, Sabtu 29 Agustus 2026 kembali dilanjutkan setelah sempat dihentikan sementara.
Penghentian itu terpaksa dilakukan menyusul kekhawatiran meluapnya danau penahan atau barrier lake yang terbentuk akibat material longsoran di wilayah hulu lembah Himalaya, sehingga dikhawatirkan memicu banjir susulan.
Bencana yang dipicu oleh keruntuhan gletser pada Rabu 26 Agustus 2026 lalu, telah mengirimkan terjangan es, air, batu, serta lumpur dalam volume besar.
Hingga saat ini, otoritas dari Nepal dan wilayah Tibet mencatat total korban hilang mencapai lebih dari 3.000 orang, di mana beberapa jenazah bahkan ditemukan terbawa arus hingga ke negara tetangga, India.
Jumlah korban meninggal terkonfirmasi di Nepal telah meningkat menjadi 781 orang, sementara otoritas China melaporkan sedikitnya 16 orang meninggal di wilayah Kabupaten Gyirong, Tibet.

Meningkatnya jumlah korban yang meninggal membuat fasilitas medis di Nepal kewalahan. Saat ini, jenazah yang belum teridentifikasi telah didistribusikan ke 21 rumah sakit di berbagai distrik.
Pemerintah Nepal melaporkan kekurangan fasilitas pendingin (refrigerator) untuk menyimpan jenazah guna proses identifikasi dan tes DNA.
Dari total ribuan orang hilang, sebanyak 933 pekerja yang terdiri dari warga negara Nepal, India, Korea Selatan, dan China dilaporkan hilang di 11 lokasi proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Distrik Rasuwa dan Nuwakot.
Upaya penyelamatan menghadapi hambatan berat akibat terowongan proyek yang tertutup lumpur dan puing-puing:
- PLTA Upper Trishuli-1 (216 MW): Tim militer Nepal berhasil menyelamatkan 254 pekerja di tengah medan berlumpur.
- PLTA Chilime (22 MW): Tim penyelamat belum mampu menembus terowongan karena pekatnya material lumpur. Tim khusus pemanjat tebing (rock-climbing) sedang dikerahkan ke lokasi.
Di luar pekerja proyek, sebanyak 2.498 orang masih dinyatakan hilang di wilayah Nepal, termasuk 589 warga negara asing, 127 pemandu/pendamping lokal, serta puluhan personel militer dan kepolisian Nepal.
Sementara itu, dari pihak Tibet (China), tercatat 261 warga negara asing dari 23 negara hilang di kawasan pelabuhan Gyirong.
Meski situasi mulai terkendali dan pemantauan ketat dilakukan menggunakan satelit, radar, serta drone, namun potensi bahaya masih tetap ada.
Pemerintah Nepal telah mengerahkan 19.000 personel keamanan dan 16 helikopter. Selain itu, bantuan ahli spesialis penyelamatan terowongan dan tim medis dari India telah tiba di Nepal untuk melakukan asesmen udara di wilayah Chilime dan Langtang.
Di sisi lain, China telah mengerahkan 2.100 pekerja penyelamat dan mengalokasikan dana darurat sebesar 220 juta yuan (sekitar US$32,7 juta).
Menteri Keuangan Nepal memperkirakan kerugian materiil akibat bencana ini mencapai lebih dari US$4 miliar.
Akses jalan dan jembatan yang hancur parah membuat tahap bantuan kemanusiaan dan pembukaan jalur darat berjalan lambat.
Sejumlah lembaga dan negara internasional telah menyalurkan dana bantuan darurat:
- PBB: US$2,5 juta
- Amerika Serikat & Kanada: Masing-masing US$3,6 juta
- Inggris: US$6,8 juta
- Uni Eropa: US$2,3 juta
- IFRC (Palang Merah): Alokasi langsung US1 juta dan menggalang dana darurat sebesar US31 juta.



